Tausiah Teh Nini "Lima Kiat Datangkan Jodoh"

Tampilkan postingan dengan label Tausiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tausiyah. Tampilkan semua postingan

Lebih Baik Imitasi, Atau Tidak Sama Sekali

oleh Nurudin,
Sumber : eramuslim.com

Pak Salim ( bukan nama sebenarnya ) tidak bisa mencegah, ketika sang istri perlahan melepaskan anting, satu-satunya perhiasan yang ia kenakan.
“ Jual anting ini Pak, dan langsung belikan gas” sang istri menyerahkan anting seberat 1 gram itu kepada sang suami yang duduk terdiam dibangku kayu tak jauh dari kompor yang tak lagi menyala karena kehabisan gas.“ Apa harus dengan menjual antingmu Bu. Apa nda ada jalan lain, ngutang dulu ke warung Bu Yati kan mungkin bisa” Pak Salim mencoba memberikan jalan keluar.
Bagaimanapun sebagai seorang suami, hatinya tak tega melihat sang istri yang sangat dicintainya harus merelakan satu-satunya perhiasan yang tersisa untuk menutup kebutuhan hidup, paling tidak sampai dua minggu kedepan, saat ia mendapatkan gaji dari pekerjaannya yang hanya sebagai seorang karyawan rendahan di sebuah perusahaan kecil.
Masih terbayang jelas, ketika sebulan yang lalu gelang satu-satunya yang dikenakan sang anak, terpaksa dijual untuk membeli buku-buku sekolah. Juga bulan sebelumnya, kalung sang istri, satu-satunya mas kawin yang masih bisa dipertahankan, dengan sangat terpaksa dijual, karena orang yang mereka hutangi membutuhkan biaya persalinan anaknya yang keempat.

Pak Salim menarik nafas dalam-dalam. Ada rasa sesak memenuhi dadanya. Sudah dua tahun ini kehidupannya memang nyaris tak lepas dari kesulitan keuangan. Gali lobang tutup lubang adalah jurus terakhir yang selalu diandalkan demi kelangsungan hidup keluarganya, juga pendidikan anak satu-satunya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
Namun Pak Salim adalah orang yang tegar. Hidup kekurangan sudah akrab ia jalani sejak ia memutuskan menikah muda, demi menyelamatkan cintanya agar tak terjerumus ke lembah dosa. Sepuluh tahun hidup sebagai pasangan muda, dengan sang istri yang tak lagi bekerja saat anak pertamanya berusia satu tahun, hidup pas-pasan selalu ia jalani dengan sabar dan senantiasa berusaha untuk bersyukur. Jangankan memiliki tabungan, untuk membuat anggaran belanja sang istri agar tidak minus saja rasanya tak pernah bisa, paling tidak untuk lima bulan terakhir. Gaji dari tempat dia bekerja hanya mampu mencukupi kebutuhan keluarga sampai diminggu kedua, selebihnya ia cukupi dengan hasil pinjaman dari saudara ataupun rekan kerja yang selalu iba dan percaya dengannya. Pak Salim memang dikenal oleh sahabat maupun kerabat sebagai orang yang jujur dan amanah, hanya saja cobaan hidupnya selalu berkutat di persoalan keuangan.

“ Bu, aku masih pegang uang kas DKM, mungkin kita bisa dulu pakai sebagian. Bulan depan kalau aku sudah gajian langsung kita ganti. Nanti aku akan bilang ke haji Nurdin, Insya Allah beliau akan mengijinkan. Kita benar-benar terdesak “ Pak Salim mencoba memberikan solusi, meskipun hati kecilnya menolak keras apa yang diucapkan oleh mulutnya sendiri. Kesulitan hidup memang sering menggodanya untuk memakai uang kas DKM yang dipegangnya, namun sejauh ini selalu bisa dia singkirkan jauh-jauh. Kalaupun kali ini keinginan itu terucap dari bibirnya, hati kecilnya sama sekali tak menyetujuinya,dan berharap istrinya akan menolak.
“ Jangan Pak, jangan sekali-kali menggunakan uang yang bukan hak kita. Daripada memakai uang kas musholla, sebenarnya ibu masih bisa ngutang dulu ke warung bu Yati. Tapi kebutuhan kita bukan hanya gas. Semua kebutuhan dapur kita habis, padahal puasa tinggal beberapa hari lagi. Kita tak mungkin selalu ngutang, apalagi yang sudah-sudah kebutuhan di bulan puasa meningkat “ sang istri langsung tak setuju dengan usulan Pak Salim.
Pak Salim terdiam, dalam hatinya dia bersyukur karena sang istri menolak usul yang dia sendiri juga tak menyetujuinya.

“ Sudahlah Pak, segera bawa anting ini ke toko. Pulangnya langsung mampir beli gas, untuk kebutuhan lainnya biar nanti ibu yang belanja diwarung Bu Yati. Lupakan soal uang kas, bagaimanapun kita tak punya hak meskipun kita meminjamnya dan sanggup mengembalikannya bulan depan. Ibu sudah ikhlas menjual anting ini. Lebih baik ibu memakai anting imitasi atau tidak sama sekali, dari pada harus memaksakan diri memakai sesuatu yang bukan hak kita” sang istri kemudian memasukkan anting beserta surat kedalam plastik kecil, dan menyerahkan kepada Pak Salim yang masih terdiam ditempatnya.
Dengan senyum yang tulus, sang istri memberikan isyarat agar Pak Salim segera berangkat, agar tempe goreng yang baru setengah matang itu bisa dijadikan lauk untuk makan siang mereka yang teramat sederhana. Tanpa bisa menolak, akhirnya Pak Salim pun menuruti sang istri. Betapapun sedih dan hancur hatinya, tapi dia bersyukur memiliki istri yang begitu setia dan ikhlas menjalani kehidupan rumah tangga bersamanya yang tak kunjung lepas dari belitan ekonomi. Dia bersyukur, karena kali ini sang istri kembali menyelamatkan dia dan keluarganya. Ia merasa diselamatkan dari menggunakan uang yang bukan menjadi haknya.

Tanpa sepengetahuan sang istri, Pak Salimpun meneteskan air mata. Begitupun sang istri, tanpa sepengetahun Pak Salim, air matanya tak mampu dia tahan lagi. Bagaimanapun dia adalah seorang perempuan, sama seperti yang lain, ingin mempercantik diri dengan perhiasan. Tapi baginya, itu bukanlah hal yang harus ada, jauh lebih penting adalah kelangsungan hidup keluarga. Tak masalah kalaupun tanpa perhiasan, yang ia jaga adalah jangan sampai dia memakan sesuatu yang bukan menjadi haknya.

( Diambil dari kisah nyata seseorang yang dekat dengan saya ).
abisabila@ymail.com http://abisabila.blogspot.com/

Belajar dari Keluarga Mutammimul 'Ula

(Sumber: edisi khusus Majalah Tarbawi “Mozaik Cinta”)

11 Amanah Allah
1. Afzalurahman, 21 tahun, semester 6 Teknik Geofisika ITB, Hafal Quran usia 13 tahun, sekarang masuk Program PPDMS, Ketua Pembinaan Majelis Taklim Salman ITB, Peserta Pertamina Youth Progamme 2OO7 dari ITB
2. Faris Jihady Hanifa, 2O tahun, semester 4 Fakultas syariah LIPIA, hafal Quran usia 1O tahun Predikat mumtaz, Juara 1 lomba Tahfidz 3O Juz yang diselenggarakan Kerajaan Saudi Arabia, Juara 1 Lomba OlimPiade IPS tingkat SMA 2OO3
3. Maryam Qonitat, 18 tahun, semester 2 Fakultas Ushuluddin Univ Al Azhar Kairo, hafal quran usia 16 tahun. Lulusan Terbaik Husnul Khotimah 2OO6
4. Scientia Afifah, 17 tahun, kelas 3 SMU 28, hafal 1O Juz, pelajar teladan MTs Al Hikmah 2OO4
5. Ahmad Rosikh Ilmi, 15 tahun, kelas 1 MA husnul Khotimah, hafal 6 Juz, pelajar Teladan SDIT Al Hikmah 2OO2, Lulusan Terbaik MTs Al Kahfi 2OO6
6. Ismail Ghulam Halim, 13 tahun, kelas 2 MTs Al Kahfi, Hafal 8 Juz, Juara Olimpiade IpA tngkat SD se Jaksel 2OO3, 4 penghargaan dari Al Kahfi, Tahfidz Terbaik, Santri Favorit, Santri Teladan, dan Juara Umum
7. Yusuf Zaim Hakim, 12 tahun, kelas 1 MTs Al Kahfi, hafal 5 Juz, rangking 1 di kelasnya
8. Muh Saihul Basyir, 11 tahun, kelas 5 SDIT Al Hikmah, hafal 25 Juz
9. Hadi Sabila Rosyad, 9 tahun, kelas 4 SDIT Al Hikmah, hafal 2 Juz
1O. Himmaty Muyasssarah, 7 tahun hafal 1juz
11. Hasna wafat usia 3 tahun, bulan Juli 2OO6

Kebaikan kebaikan itu
- Mengajarkan Al Quran sejak usia 4 tahun. Doktrin keluarga = Al Quran adalah kunci kebahagiaan dunia dan akhirat
- Jangan terlalu mengandalkan sekolah. 2 / 3 keberhasilan Pendidikan itu ada di rumah
- Keberhasilan adalah hasil integrasi kedua orang tuanya. Lebih besar tanggung jawab seorang ayah dibanding ibu
- Rasulullah memanggil ayah dari anak yang mencuri. ayah idaman dalam Al Quran = lukman. Ibrahim mentarbiyah anak dan istrinya
- Suami yang membangun visi dan istri yang mengisi kerangka itu.
* Imam Syafi I ditinggal wafat ayahnya ketika berusia 6 tahun. Namun isi kepala sang ayah sudah pindah ke sang ibu.
* Al Banna dan sentuhan pendidikan sang ayah
* Qordhowi berkata, dahulu saya tidak tahu mengapa ayah mengkondisikan saya hafal al quran usia 1O tahun
- Ihtimam atau perhatian yang tinggi terhadap anak dan pendidikannya
1. perhatian dari A sd Z, potong kuku, bersihkan telinga dll
2. File file khusus yang menyimpan catatan tentang anak, hasil ulangan dan lain lain
3. Kekayaan kami adalah anak dan buku. Setiap liburan, selalu mengajak anak anak ke toko buku.ada 4OOO buku di rumah
- Visi yang ada di kepala kami adalah anak anak kami semuanya harus menjadi hafidz quran
1. Keliling Jawa dan Madura untuk melihat pesantren tahfidz terbaik. Pilihan jatuh di Kudus. Orang mencibir untuk apa menjadi hafidz Quran dan menitipkan anak di pesantren
2. Tujuh tahun pernikahan tanpa televisi
3. Setiap hari diperdengarkan murottal
4. Sang ibu mengajar sendiri dengan Qiroati
- Nasihat sang suami yang mencerminkan kekuatan visinya sebagai kepala keluarga =
Bu, Kita harus berbeda dengan orang lain dalam kebaikan. Orang lain duduk kita sudah harus berjalan, orang lain berjalan kita sudah harus berlari, orang berlari kita sudah tidur, orang lain tidur kita sudah bangun.
Jangan sedikitpun berhenti berbuat baik sampai soal niat. Kita tidak boleh lalai karena kita tidak tahu kapan Allah mencabut nyawa kita
- Tiga Fase interaksi dengan Anak menurut Imam Ali
7 tahun pertama = perlakukan ia seperti raja
è masa pembentukan tumbuh kembang otak menyerap informasi
7 tahun kedua = perlakukan ia seperti tawanan perang dalam kedisiplinan
è Masa penanaman sikap. Disiplin disiplin Disiplin
7 tahun ketiga dan seterusnya = perlakukan ia sebagai teman atau sahabat
- Pakar mengatakan 7 sd 12 tahun adalah golden age. Usia emas. Saat itulah fase pembentukan sikap, perilaku, dan penanaman nilai yang paling penting.
- Hafal Qurannya Al Banna 1O tahun, Qordhowi 1O tahun, Imam Syafi I 9 tahun, Imam Ahmad 7 tahun
- Rasul menyuruh sholat di usia 7 tahun, dan bila sampai 1O tahun belum sholat maka pukullah ia
- Menjelang tidur selalu diceritakan kisah kisah para nabi dan rasul
- Jadwal dalam papan besar untuk belajar Al quran bagi 11 anak kami
- Bakda maghrib dan Bakda subuh adalah waktu interaksi dengan Al Qur an.
Nak ibu bangga sekali dengan kamu, meskipun sulit tapi kamu disiplin menyetorkan hafalan 2 ayat setiap hari.
- Anak pertama dan kedua sejak usia 5 dan 4 tahun terbiasa bangun sebelum subuh
- Di Komplek perumahan DpRRI si kecil sudah bisa menghafal siapa saja anggota dewan yang jarang sholat subuh berjamaah
- Jangan lupakan membangun dakwah di keluarga besar. Saat kami all out keluar rumah, keluarga besar kamilah, yang terlibat mengawasi anak anak
- Kami rutin berkunjung ke keluarga besar untuk menjalin hubungan baik dengan mereka
- Kesulitan di masa pembentukan adalah faktor keistiqomahan. Harus konsisten mengontrol
- Memagari anak anak dari pengaruh negatif. Ada agreement dengan anak anak kapan saat menonton TV dan ada hukuman bila dilanggar
- Nak, hafalanmu banyak, TV itu bisa memakan bagian pikiranmu
- Syukur kami tiada henti padamu ya Robbi atas karunia anak anak kami
- Keberhasilan itu bukan tercapainya tujuan tapi pada proses yaitu komitmen dan konsistensi kita menjalaninya. Kepada Allah kembali segala urusan

Sebelum Kumengerti Ilmunya

Sebelum kumengerti ilmunya, aku selalu berharap menjemput jodoh yang sekufu, setara atau sebanding. Ternyata aku terjebak dalam pengertian sekufu yang salah sehingga membutuhkan waktu cukup lama untuk menjemput jodohku.


Sebelum kumengerti ilmunya, sekufu soal latar belakang sosial, menurut aku paling tidak calon pendamping hidupku harus sama denganku.

 

Sebelum kumengerti ilmunya, sekufu soal pendidikan, menurut aku berarti setingkat. Agar jika diajak bicara, calon istriku dapat mengimbangi apa yang kusampaikan.

 

Ternyata pengertianku soal sekufu salah besar. Karena aku lebih menitikberatkan kepada sekufu duniawi. Padahal yang lebih penting adalah sekufu akhirat. Artinya, sekufu dalam ketaatan kepada Allah semata.


Setelah kumengerti ilmunya, latar belakang sosial tidak menjadi masalah buatku ketika menjemput jodoh. Dulu, istriku sering naik turun gunung. Sedangkan aku, sering naik turun panggung. Istriku seorang pendekar silat, sedangkan aku seorang penari dan koreografer. Tapi justru dengan perbedaan ini, kami merasa unik dan bersyukur kepada Allah.


Setelah kumengerti ilmunya, latar belakang pendidikan tidak menjadi masalah ketika berproses ta’aruf dengan wanita yang berbeda pendidikannya dengan diriku. Aku lulusan ilmu sosial sedangkan istriku lulusan ilmu pasti. Tapi dengan perbedaan latar belakang pendidikan, kami justru saling mengisi keilmuan masing-masing. Kami sangat bersyukur kepada Sang Maha Berilmu yang telah mengkaruniai kami ilmu yang bermanfaat.

 

Tapi menurut sahabat-sahabat, sekufukah kami?

Aku dan istriku merasa sekufu, justru karena banyaknya perbedaan diantara kami. Kami berprinsip, kelebihan pasangan sebagai ladang ilmu, kekurangan pasangan sebagai ladang amal. Alhamdulillah, setelah menikah, kami menemukan makna sekufu yang sebenarnya, yaitu sekufu dalam agama. Ini yang terpenting.


Jakarta, Jum’at, 16 Maret 2007

Rico Atmaka – 08158018156

Koordinator Majelis Sehati

Daarut Tauhiid Jakarta

Istri Sakit, Suami Bagaimana?


oleh Halimah

Menjalani bahtera rumahtangga merupakan amal sholeh yang dapat dilalui dengan aman bila disertai dengan cinta. Seorang iburumahtangga yang notabene adalah istri dari seorang suami, akan menggeluti kegiatan kesehariannya dengan penuh tanggungjawab. Memberikan pelayanan dan kesediaan untuk selalu ada di setiap waktu bagi penghuni rumah. Tidak ada kata yang lebih indah untuk mengungkapkan, selain rasa CINTA yang dalam terhadap orang-orang yang dikasihinya. Kadang waktu yang tersisa tak cukup untuk membuatnya menghela napas.
Tapi itu tak menjadikan dirinya merasa sebuah pengorbanan. Cintanya murni, tak pernah terlintas sedetik pun tuk mengharapkan balasan. Semuanya dikerjakan dengan ikhlas. Cintanya tak jua luntur walau kadang penghuni rumah, seringkali memberikan sinyal tak suka akan bantuannya. Semuanya di terima dengan lapang dada. Begitu pula bila suaminya, yang hanya bisa memberikan kritikan tanpa mengurangi beban kerja rutinnya. Semuanya hanya bagai angin yang berhembus sejenak. Tak ada masalah.

Sang istri yang ikhlas ini akhirnya jatuh sakit. Semua pekerjaan kesehariannya menumpuk di setiap ruang. Tak ada sentuhan dari orang sekitarnya, hanya ada sedikit lirikan. “Ah… ibu sedang sakit, bagaimana dengan kami? Anak-anaknya kebingungan. Suaminya pun tak kalah sibuknya. Sibuk dengan rasa cemas, terhadap istrinya yang tergolek lemah. Memberikan semangat, agar tak usah bersedih- semuanya cobaan dari Allah S.W.T. Maka sang suami pun mengambil amanah sang sang istri dalam urusan domestic rumahtangga. Karena tak terbiasa dengan kondisi itu, maka dia pun merasakan beban yang sangat berat. Sebelum shalat subuh dia harus membangunkan anak-anaknya.
Biasanya, dialah yang dibangunkan. Ketika jam menunjukkan jam enam pagi, maka dia pun kerepotan untuk menyiapkan sarapan tuk diri dan penghuni rumah. Biasanya, dia tinggal menikmati. Bila tak sesuai selera, maka sebuah komentar yang kadang memanaskan telinga sang istri yang telah kepayahan. Menyiapkan anak-anak untuk segera mandi, berpakaian dan sarapan ternyata sang suami merasakan pekerjaan yang sangat berat. Selama ini dia tak pernah sedikitpun memberikan ulurannya tuk kegiatan ini. Ketika harus menjalaninya, maka barulah dia mengetahui bagaimana sibuknya sang istri tercinta saat subuh hingga keberangkatan mereka keluar dari rumah.

Istri yang sakit tak jua kunjung sembuh. Batas kesabaran sang suami berada di titik puncak. “Kalau sakit jangan terlalu di manja. Jangan tidur melulu, sakitnya tambah payah!” Suami sudah tak mampu mengontrol emosi, padahal sang istri baru sakit dua minggu. Sementara pekerjaan rumah telah di jalani lebih dari lima tahun. Tentu saja perbandingan waktu yang tak seimbang. Tapi, suami sudah kepayahan.
Suami yang biasa hanya berkomentar, tentu saja akan kerepotan. Dia tak siap untuk kejutan pahit ini. Istri yang super perkasa selama ini, ternyata punya batas kekuatan. Orang-orang yang dicintainya, akhirnya mengeluh dengan keadaannya. Istri yang sakitpun, tak bisa berdialog dengan mereka dengan hati yang berbunga. Karena orang disekitarnya memasang wajah penuh cemas dan rasa tak sabar, akan kesehatannya. Semuanya dirundung mendung, menantikan saatnya turun hujan kasih dari sang bunda. Ayahnya, ternyata tak setelaten ibunya dalam menanggapi semua kebutuhan dan kemanjaan mereka. Mereka pun akhirnya stress!
Mau cari pembantu? Sang suami tak punya cukup uang. Sementara dia sudah di ujung tanduk. Pekerjaan yang dua mingguan ini dirasanya, telah membuatnya lebih tua dari usianya. Tak pernah terlihat lagi senyum maupun candaan pada anak-anaknya. Semuanya dalam koridor TEGANG!

Beberapa kejadian ini telah saya lihat di sekitarku. Saat tinggal di kota Samarinda, maupun saat ini di kota Sengata. Suami yang biasanya memandang remeh pekerjaan istrinya yang tinggal di rumah. Dan memaklumi diri untuk tidak turut terjun ke daerah domestik, karena merasa telah berjasa besar menafkahi keluarga yang di cintainya. Tak ada ucapan terimakasih, walau pun sang pujaan hati telah bersusah payah menyediakan semua kebutuhan hariannya. Semuanya dalam pemakluman :” Memang tugasnya!”.
Sungguh kasihan mendapatkan suami dengan type begini, tak ada rasa sayang yang murni. Inginnya di mengerti, tapi tak mengerti keadaan pendampingnya. Dengan beberapa orang anak yang berbeda karakter, tentu saja dengan pelayanan beberapa karakter pula ditambah dirinya yang punya karakter yang lain. Tak pernah terlintas sejenakpun untuk membuat sebuah kejutan :”Hari ini, ibu tak usah repot di rumah. Kami semua akan mengerjakannya!”. Hari libur, merupakan hari yang harusnya dilewati dengan nyaman. Sang istri malah mendapatkan pekerjaan tambahan : Memasak makanan khusus, yang tentu saja membuat energi harus dilipat gandakan.

Sang istri yang telah sembuh, akan membuat rona bunga mekar di setiap sudut rumah. Membuat wajah-wajah yang mendung menjadi bersinar kembali. Anak-anakpun dapat merasakan kegembiraan yang telah hilang beberapa hari. Sang ayahpun tak kalah gembiranya, di kecupnya kening istri :”Jaga kondisi ya…” Suami pun memberikan sentuhan hangat, karena beban itu telah lepas dari pundakya. Hem!
Istri yang sakit untuk beberapa hari, ternyata punya hikmah sendiri buat penghuni rumah. Anak-anak telah mengerti pengorbanan dan CINTA sang bunda padanya. Suami pun mengerti, betapa berat pekerjaan sang tercinta dalam mengelola urusan rutin rumah mereka. Semuanya dalam keadaan saling memahami satu sama lainnya. Sangat indah suasana itu. Menggoreskan rasa aroma bunga di hati.
Rona yang indah hanya berjalan beberapa jeda waktu. Kegiatan sang istri berulang kembali seperti biasanya. Kebiasaan lama mewarnai kembali kegiatan hariannya Semuanya kelihatan wajar, hingga pada satu titik waktu – sang bunda harus pulang kehadirat Sang Ilahi. Bila itu terjadi : “Akankah orang disekitarnya serasa mendapat sambaran petir di siang hari bolong?”
( Tapi ini hanya kejadian yang langka, bila dibandingkan dengan seorang suami yang mengerti dan turut terjun di daerah domestik rumah-tangganya. Semoga kita bukan merupakan bagian dari cerita ini. )

Halimah Taslima
Forum Lingkar Pena ( FLP ) Cab. Sengata
halimahtaslima@gmail.com

Pasangan Ideal Menurut Allah

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. 2:216)

Sahabatku, ketika kita meminta dipertemukan dengan jodoh yang ideal, perlu diingat, ideal menurut siapa. Ideal menurut kita atau menurut Allah? Tentu saja kita mengharapkan bertemu dengan pasangan hidup yang ideal menurut Allah. Nah, kalau demikian, cara-cara menjemput jodoh, juga harus sesuai dengan cara-cara Allah. Artinya, kita serahkan semua kepada Yang Maha Adil dan Penentu Takdir. Jika sudah pasrah, maka kita jangan ikut campur pada apa yang menjadi urusan Allah. Tepatnya, kita cukup berusaha semaksimal mungkin dan berdoa. Soal hasil, itu mutlak urusan Allah.

Sangat indah dan nikmat jika kita dapat menerima jodoh ideal yang diberikan Allah. Yakinilah, tidak ada pasangan yang sempurna. Kuncinya, jadikan kekurangan pasangan sebagai ladang amal, dan jadikan kelebihan pasangan sebagai ladang ilmu. Setelah itu, ingatlah, kita menikah selain untuk ibadah, yang terpenting adalah untuk menggapai ridho Allah. Karena dengan menggapai ridho-Nya, Insya Allah, kita akan dikumpulkan kembali di surga, setelah menjalani kehidupan di dunia yang sangat singkat ini.

Pasangan kita, juga merupakan amanah dari Allah yang patut dijaga. Namun jangan berlebihan, atau terlalu mencintainya. Karena cinta yang utama hanya kepada Allah dan Rasul-Nya. Untuk kita, cukup kasih sayang saja. Insya Allah dengan kasih sayang dan penuh kelembutan, rumahtangga yang sakinah, mawaddah, warrahmah mampu kita capai. Selamat berjuang saudaraku, karena menikah juga merupakan jihad.

Rico Atmaka

Mertua Ku adalah Orang tua Ku


oleh Ummu Mufais

Ketika seorang wanita menikah, maka tanggung jawab orang tuanya sudah terlepas, karena kini tanggung jawab itu beralih pada sang suami, dan kewajiban sebagai istri adalah memenuhi hak-hak si suami, demikian juga suami terhadap istri. Namun ada yang perlu kita ketahui, kita menikah bukan pada suami kita saja, melainkan pada semua keluarga besar dan juga kedua orang tuanya.
Kadang sering terjadi perselisihan memang antara kita dengan keluarga suami, karena dua karakter keluarga dan adat yang berbeda bersatu menjadi keluarga besar. Tapi kita sebagai seorang muslimah yang baik harus mengerti dan memahami. Kita menjadi istri dari anak mertua kita, yang selama ini telah membesarkannya dan berharap suatu hari nanti si anak akan menjaga dan menyayanginya hingga mereka kembali kepada sang khaliq, maka wajarlah kadang bila anaknya ingin menikah, orang tua dari calon mempelai laki-laki menyeleksi calon menantunya terlebih dahulu, sebelum menerimanya menjadi bagian dari keluarga besar mereka.
Beberapa hari lalu seorang teman minta di telfun oleh saya. Dia bilang ingin curhat dengan saya tentang adik iparnya itu, sebenarnya dia sendiri adalah seorang menantu, dan mempunyai adik ipar yang sudah menikah, jadi yang ingin dia ceritakan adalah istri dari adik iparnya itu, dan kebetulan adiknya itu menikah dengan orang yang sama-sama kami pernah kenal dulu. Maksudnya adalah dia ingin sekali mencari solusi bagaimana mengatasi hal ini, karena dia merasa bertanggung jawab dalam hal ini, kenapa...? karena dia yang dulu mengenalkan nya pada adik iparnya itu. Jadi bukan bermaksud untuk ghibah.

Ceritanya memang sangat mengharukan, karena saya benar-banar tidak manyangka sama sekali, saya mengenal teman (adik ipar teman saya) itu adalah orang yang baik, tapi kini jadi berubah. teman saya bercerita istri adik iparnya itu kini tidak punya sopan santun sama sekali dengan ibu mertuanya, apa lagi ketika sempat si adik ipar itu menginap beberapa minggu di rumah mertuanya. Teman saya bercerita kadang adik iparnya itu, suka ketus bila berbicara pada ibu mertuanya. Saya tidak bisa berbuat apa-apa, karena saya tidak tahu permasalahan yang sebenarnya, jadi saya hanya memberi saran, agar teman saya itu berbicara pada suaminya, maksudnya adik iparnya yang laki-laki, agar dia menasehati istrinya itu. Sedih sekali saya mendengar cerita teman saya ini, terbayang saya wajah wanita tua itu, mertua dari teman saya, karena saya pernah bertemu dengannya saat liburan tahun lalu. Beliau sudah sangat tua dan beliau mengasuh anak-anaknya sendiri, karena suaminya telah meninggalkannya kembali kepada sang khaliq, ketika anak-anaknya masih kecil-kecil. Betapa sedih hati nya mendapati menantu yang tidak menyayangi dan menghargainya. Terbayang pula oleh saya kedua orang tua suami saya yang sudah renta, beliau tinggal hanya berdua saja, sedangkan kedua anaknya sudah berkeluarga dan tinggal jauh darinya. Walaupun saya atau suami sering menelfunnya, tapi saya yakin beliau ingin sekali berdekatan dengan anak, manantu dan cucu-cucunya.

Saya jadi ingat cerita tentang Nabi Ibrahim, Ketika itu Nabi Ibrahim berkunjung kerumah anaknya Nabi ismail dan saat itu hanya istri nabi ismail lah yang berada di rumah, lalu Nabi Ibrahim bertanya pada istri Nabi ismail, tentang keadaan rumah tangganya, dan di jawab oleh istri nabi ismail dengan ketus serta membuat Nabi Ibrahim tidak suka mendengarnya, maka ketika Nabi Ibrahim hendak pergi meninggalkan rumah itu, Beliau menitip salam untuk Nabi Ismail pada istrinya, agar segera mengganti tiang pintu rumahnya itu. ketika Nabi Ismail kembali salam itu si sampaikannya, Nabi Ismail tahu, bahwa yang berkunjung tadi adalah ayahnya dan saat itu juga Nabi Ismail segera menceraikan istrinya serta mengembalikannya kepada kedua orang tuanya.

Apakah harus demikian dengan kita, tidak...! Kita InsyaAllah bisa lebih baik dari istri Nabi ismail, dalam berbicara dan sopan santun kita kepada mertua kita, karena beliau adalah orang tua kita, setelah kita menjadi istri dari suami kita. Berfikirlah lebih baik wahai Ukhti, karena kita adalah seorang Ibu, dan anak kita kelak akan menikah nanti. Saya juga sempat merasakan hal itu, namun ketahuilah, bahwa semua yang di lakukan oleh orang tua suami kita itu adalah tidak lain hanyalah cemburu belaka, karena anak yang sedianya senantiasa selalu memperhatikannya, kini terbagi perhatiannya, bahkan kadang perhatian itu menjadi lebih sedikit terhadap kedua orang tuanya, malah lebih banyak kepada kita, sebagai istrinya. Tidak kah kita bersyukur mempunyai suami yang sholeh, maka ingatkanlah pada suami kita, untuk selalu memperhatikan orang tuanya yang sudah membesarkannya.

Bila ada kesempatan kita yang memberi kasih sayang lebih banyak pada mertua kita, sebagaimana kita memberikan kasih sayang kita pada Orang tua kita selama ini. Apa lagi bila mertua lelaki kita sudah tiada, maka ibu mertua kita butuh perhatian lebih dari anak-menantunya, bakti kita padanya, seperti bakti kita pada Ibu kita. Jangan sungkan ucapkan sayang pada beliau, agar beliau tahu kalau kita sebagai menantu tidak akan pernah mengambil hak beliau sebagai seorang ibu yang jadi tanggung jawab bagi anak lelakinya yaitu suami kita, walaupun si anak sudah menikah.
Seperti cerita yang pernah saya tulis juga, tentang kasih ibu sepanjang zaman, kasih anak sepanjang galah. Maka jangan kita biarkan suami kita hanya memberikan kasih sayangnya pada orang tuanya, terutama pada ibunya yang sudah melahirkan dan membesarkannya hanya sampai pada suami menikahi kita dan mendapat kasih sayang dari kita, serta merasa cukup. sehingga perhatian pada kedua orang taunya terabaikan. Jangan.
Ingatkan selalu pada suami kita untuk terus berbakti pada kedua orang tuanya.
Memperhatikannya, jangan sampai mertua kita berkata pada suami kita,

" Setelah kamu menikah, kamu tidak lagi memperhatikan Ibu..( Kami ) " .
Sedihkan kita mendengarnya, karena itu suatu keluhan dari seseorang yang mempunyai doa yang makbul, yang cemburu karena kehilangan kasih sayang dari anaknya yang sudah beliau besarkan selama ini. Kewajiban anak laki-laki dalam memberikan perhatiannya pada kedua orang tuanya, walaupun anak lelaki itu sudah menikah adalah jelas, seperti dalam sabda Rosulullah SAW.

Abdullah bin Amru bin Ash meriwayatkan bahwa ada seorang lelaki meminta ijin berjihad kepada Rasulullah SAW. Beliau bertanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Lelaki itu menjawab, “Masih.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, berjihadlah dengan berbuat baik terhadap keduanya.” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

Mari sayangi Mertua kita, sebagimana kita menyayangi Kedua Orang tua kita, karena di sana ada do´a untuk kebahagian rumah tangga kita. Amiin.

Wallahu´alam bisshowab.

Heidenheim 11 Maret 2009

Menikah, Sulit?

oleh Hifizah Nur Senin,

Dalam suatu sesi diskusi di kelas bahasa Jepang, sensei memberi kami tema tentang "Bila pernikahan tidak disetujui ortu, apakah anda akan tetap menikah?” Topik ini lumayan mendapatkan perhatian dari teman-teman sekelas yang selalu bosan mengikuti kelas percakapan di siang yang melelahkan. Tema ini sangat cocok untuk anak muda. Apa lagi di antara teman-teman sekelas yang bertiga belas orang orang itu, hanya saya sendiri yang sudah menikah, alias lebih senior dari yang lain.
Awalnya diskusi berjalan biasa, setiap orang mengungkapkan pendapatnya. Ada yang memilih tetap melakukan pernikahan, ada juga yang mengungkapkan dengan pasti bahwa ortunya tidak akan menentang pernikahannya. Saya sendiri yang menikah dengan smooth meskipun tanpa proses pacaran mengungkapkan orang tua saya ok-ok saja ketika saya menikah, lancar seperti jalan tol.

Selanjutnya diskusi semakin menjauh dari tema inti. Teman-teman yang kebanyakan masih berusia di awal 20-an mengungkapkan bahwa mereka suatu saat ingin menikah, tapi sekarang masih ingin memuaskan keinginan-keinginan pribadi. Seperti bekerja, mengumpulkan banyak uang dan pergi ketempat-tempat terkenal di dunia. Karena itulah mungkin, usia pernikahan semakin lama semakin menua. Di Jepang saja rata-rata usia pernikahan kira-kira 29 tahun untuk perempuan dan 35 tahun untuk laki-laki.
"Kalau menikah, pasti akan sulit melakukan hal-hal yang menyenangkan" kata seorang teman.
Teman laki-laki yang berasal dari Norwegia langsung menukas, "kenapa? saya tidak keberatan kalau isteri saya kelak punya keinginan untuk bersenang-senang sendiri".
Teman perempuan saya yang lain mencibir,"saya tidak percaya kalau ada laki-laki yang mau memberi kebebasan kepada isterinya seperti itu"

Wah diskusi mulai memanas nih...dua pola pikir yang berbeda, dari barat dan dari timur. Yang satu menganut kebebasan, satu lagi sangat paham tentang ketatnya aturan-aturan rumah tangga, yang biasa ada di dunia timur. "Bagi saya, pernikahan itu sesuatu yang mengikat, tidak bisa bebas lagi menikmati hidup, makanya saya tidak ingin menikah" Ujar teman dari Canada, yang berdarah Taiwan. Selanjutnya teman laki-laki dari eropa tadi berkata, "karena itu sebelum menikah kita harus saling mengenal dulu yang lama, bahkan kalau bisa tinggal bersama" ujarnya. Wah sudah mulai melenceng nih, seru saya dalam hati. "Mungkin pola pikir kita berbeda. Saya sendiri, tanpa melewati proses hidup bersama sebelum menikah pun, sampai saat ini pernikahan saya lancar-lancar saja. Tidak ada masalah-masalah besar," Tukas saya cepat.
Teman dari Canada berbalik ke arah sensei , dan bertanya, "Sensei, apakah sensei setelah menikah tidak mendapat masalah dengan suami sensei ?" "Tentu saja ada,” Jawab sensei sambil tersenyum. Mungkin maklum juga dengan keingintahuan muridnya yang masih sangat muda-muda itu. “Suami saya orang yang sangat memelihara kebersihan, dan sangat sangat kibishii (ketat) dalam hal ini. Di awal-awal setelah menikah, meskipun saya sudah membersihkan rumah, tetapi suami saya selalu mengeceknya lagi dan mengkritik hasil kerja saya yang bagi dia kurang bersih.” Sensei berhenti sejenak, memperhatikan reaksi murid-murid di depannya.
“Tetapi setelah berjalan setahun, masing-masing pihak sudah bisa saling beradaptasi" Ujar sensei.

Karena sensei tahu, hanya saya yang sudah menikah di kelas itu, sensei bertanya pada saya."Kalau kamu sendiri, sesudah menikah, bagaimana rasanya? apakah menjadi lebih baik atau menjadi lebih buruk?" tanya sensei. "Saya rasa saya menjadi lebih baik dari sebelumnya" Ujar saya. "Misalnya, sebelum menikah, saya orang yang keras kepala, kurang peduli dengan orang lain. Tapi setelah menikah, saya bisa jadi lebih memahami orang lain. Dan sekarang lebih mempertimbangangkan keluarga saya dalam mengambil keputusan-keputusan" tambah saya.
Perbincangan bergulir ke arah perceraian setelah menikah. Ternyata di negara teman laki-laki yang berasal dari Norwegia itu, tingkat perceraian sangat tinggi, mencapai 50% .”berarti tidak ada hubungan antara mengenal luar dalam lebih dulu sebelum menikah, dengan kelanggengan pernikahan ya....” Batin saya. Lalu di Jepang pun angka perceraian meningkat pesat belakangan ini. Begitu juga di Korea, sampai-sampai pemerintah Korea membuat kebijakan untuk membawa kasus perceraian ke pengadilan, untuk mempersulit proses perceraian.

Di Jepang bila pasangan suami isteri ingin bercerai sangat mudah. Mereka tinggal mengisi kolom perceraian yang diambil di shiyakusho (kantor pemerintah) lalu bercerai begitu saja. Tentu saja mereka harus membagi harta menjadi dua bagian sesuai kesepakatan mereka.
Akhirnya saya bilang" Sensei, menurut saya, yang sangat penting dalam suatu pernikahan adalah, masing-masing pihak harus menyadari kalau mereka sedang mengambil tanggung jawab yang berat. kalau itu disadari oleh setiap pasangan, saya yakin pernikahan itu akan baik-baik saja." Sensei mengangguk setuju dengan pendapat saya. Saya tidak tahu dengan teman-teman yang lain. Mungkin mereka masih harus menyerap, melihat dan belajar lebih banyak tentang dunia pernikahan. Dalam islam sendiri, para pemuda disarankan untuk segera menikah agar bisa tetap manjaga kesucian diri. Pernikahan adalah perjanjian yang berat yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Bukan suatu hal yang main-main.

Bagi saya pernikahan adalah suatu proses dan juga sarana yang bisa menjadikan saya lebih baik dari waktu ke waktu. Pernikahan juga membuat saya bisa menjalani hidup ini dengan tenang, karena memiliki tempat berbagi, tempat mencurahkan kasih sayang, dan tempat memperkaya batin saya dengan pelajaran memaafkan.
Ya, memaafkan. Bagi diri saya sendiri yang masih sangat tidak sempurna menjadi ibu dan isteri yang baik di keluarga saya. Bagi anak-anak saya yang masih harus mengenal a ba ta tsa kehidupan. Dan bagi suami saya yang masih belajar menjadi pemimpin dalam menjalankan bahtera rumah tangga ini, agar semua penumpang selamat sampai ke tujuan. Meraih keabadian syurga di akhirat kelak. Allahumma amiin.

Menikah

Oleh Aa Gym

Saudaraku, berbicara masalah nikah, seringkali harus bersentuhan dengan "penyesalan" . Ada orang yang menyesal mengapa tidak menikah sejak dulu, setelah ia merasakan manfaatnya. Namun ada juga yang menyesal mengapa menikah, setelah merasakan pahit getirnya hidup berumahtangga. Sebagai orang beriman, kita harus yakin bahwa menikah adalah ibadah. Ada banyak kebaikan di dalamnya. Kalau pun ada masalah, maka yakinlah bahwa itulah ladang amal dan sarana pendewasaan yang dianugerahkan Allah.

Pertanyaannya, bagaimana agar pernikahan mendatangkan ridha Allah. Semakin lama usia pernikahan akan semakin terasa sakinah mawaddah wa rahmah? Ada tiga rumus dalam QS Al-Ashr. Setiap bertambah hari, bertambah umur, kita itu merugi kecuali tiga golongan kelompok yang beruntung.

Pertama adalah rumahtangga yang selalu berpikir keras bagaimana keyakinan kepada Allah terus meningkat. Semua kebahagiaan dan kemuliaan itu berbanding lurus dengan tingkat keyakinan kepada Allah. Tidak ada orang ikhlas kecuali yakin kepada Allah. Tidak ada sabar kecuali kenal kepada Allah. Tidak ada orang zuhud kecuali orang yang tahu kekayaan Allah. Tidak ada orang tawadhu kecuali orang yang tahu kehebatan Allah. Makin akrab dan kenal dengan Allah semua dipandang kecil. Setiap hari dalam hidup kita seharusnya dipikirkan bagaimana kita dekat dengan Allah. Kalau Allah sudah mencintai mahluk segala urusan akan beres.

Karena itu, apa pun yang ada dirumah harus menjadi jalan mendekat kepada Allah. Beli barang apa pun harus barang yang disukai Allah. Supaya rumah kita menjadi rumah yang disukai Allah. Boleh punya barang yang bagus tanpa diwarnai dengan takabur. Bukan perkara mahal atau murah, bagus atau tidak tetapi apakah bisa dipertanggungjawabk an disisi Allah atau tidak. Bahkan dalam mendengar lagu yang disukai Allah siapa tahu kita dipanggil Allah ketika mendengar lagu. Rumah kita harus Allah oriented. Kaligrafi dengan tulisan Allah. Kita senang melihat rumah mewah dan islami. Jadikan semua harta jadi dakwah mulai mobil sampai rumah.

Apa yang kita pikirkan Allah sudah mengetahui apa yang kita pikirkan. Yang harus kita pikirkan adalah bagaimana dekat dengan Allah, selanjutnya Allah yang akan mengurus. Kalau hubungan kita dengan Allah bagus semua akan beres. Barangsiapa yang dekat dengan Allah, akan diberi jalan keluar setiap urusannya. Dan dijamin dengan rezeki dari tempat yang tidak diduga-duga. Dan barang siapa hatinya yakin Allah yang punya segalanya, akan dicukupkan segala kebutuhannya. Jadi bukan dunia ini yang menjadi masalah tetapi hubungan kita dengan Allah-lah masalahnya.

Kedua adalah rumah tangga yang paling produktif dalam kebaikan. Uang paling berkah adalah uang yang paling tinggi produktifitasnya. Kaya boleh asal produktif. Boleh mempunyai rumah banyak asal diniatkan agar berkah demi Allah itu akan beruntung. Karena itu, teruslah mencari uang. Bukan untuk memperkaya diri untuk mendistribusikannya untuk umat. Sedekah itu tidak akan mengurangi harta kita kecuali bertambah. Jadi pikiran kita bukan akan mendapat apa kita? Tapi apa yang bisa kita perbuat? Orang beruntung setiap waktu pikirannya produktif mengenai kebaikan. Selagi hidup lakukan yang terbaik, sesudah mati kita tidak akan bisa. Kalau sudah berbuat nanti Allah yang akan memberi, itulah namanya rezeki. Orang yang beruntung adalah orang yang paling produktif kebaikannya.

Ketiga adalah rumahtangga yang dihiasi saling nasihat menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Kata-kata terbaik yang kita katakan adalah meminta saran dan nasihat. Ayah meminta nasihat anak atau istri, niscaya tidak akan kehilangan wibawa. Dan kita tidak bisa menjadi penasihat yang baik sebelum ia menjadi orang yang bisa dinasihati. Tidak akan bisa kita memberi nasihat jika kita tidak bisa menerima nasihat. Nikmatilah nasihat sebagai rezeki dan bukti kesuksesan hidup. Sayang hidup hanya sekali dan sebentar hanya untuk menipu diri.

Wallaahu a'lam.

Adakah Istri Yang Tidak Cerewet ?

Adakah istri yang tidak cerewet? Sulit menemukannya.
Bahkan istri Khalifahsekaliber Umar bin Khatabpun cerewet.

Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa. Menuju kediaman khalifah Umar binKhatab. Ia ingin mengadu pada khalifah; tak tahan dengan kecerewetanistrinya. Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-laki itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Umar sedang ngomel, marah-marah. Cerewetnyamelebihi istri yang akan diadukannya pada Umar. Tapi, tak sepatah katapunter dengar keluhan dari mulut khalifah. Umar diam saja, mendengarkan istrinyayang sedang gundah. Akhirnya lelaki itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar. Apa yang membuat seorang Umar bin Khatab yang disegani kawan maupun lawan,berdiam diri saat istrinya ngomel ? Mengapa ia hanya mendengarkan, padahal diluar sana , ia selalu tegas pada siapapun ?

Umar berdiam diri karena ingat 5 hal.
Istrinya berperan sebagai BP4. ApakahBP4 tersebut?
1. Benteng Penjaga Api Neraka
Kelemahan laki-laki ada di mata. Jika ia tak bisa menundukkan pandangannya,niscaya panah-panah setan berlesatan dari matanya, membidik tubuh-tubuh elokdi sekitarnya. Panah yang tertancap membuat darah mendesir, bergolak,membangkitkan raksasa dalam dirinya. Sang raksasa dapat melakukan apapundemi terpuasnya satu hal; syahwat.Adalah sang istri yang selalu berada di sisi, menjadi ladang bagi laki-lakiuntuk menyemai benih, menuai buah di kemudian hari. Adalah istri tempat iamengalirkan berjuta gelora. Biar lepas dan bukan azab yang kelakditerimanya. Ia malah mendapatkan dua kenikmatan: dunia dan akhirat.Maka, ketika Umar terpikat pada liukan penari yang datang dari kobaran api,ia akan ingat pada istri, pada penyelamat yang melindunginya dari liukanindah namun membakar. Bukankah sang istri dapat menari, bernyanyi denganliuka yang sama, lebih indah malah. Membawanya ke langit biru. Melambungkanraga hingga langit ketujuh. Lebih dari itu istri yang salihah selalu menjadipenyemangatnya dalam mencari nafkah.
2. Pemelihara Rumah
Pagi hingga sore suami bekerja. Berpeluh. Terkadang sampai mejelang malam.Mengumpulkan harta. Setiap hari selalu begitu. Ia pengumpul dan terkadangtak begitu peduli dengan apa yang dikumpulkannya. Mendapatkan uang, beliini, beli itu. Untunglah ada istri yang selalu menjaga, memelihara. Agarharta diperoleh dengan keringat, air mata, bahkan darah tak menguap sia-sia.Ada istri yang siap menjadi pemelihara selama 24 jam, tanpa bayaran.Jika suami menggaji seseorang untuk menjaga hartanya 24 jam, dengan penuhcinta, kasih sayang, dan rasa memiliki yang tinggi, siapa yang sudi? Berapapula ia mau dibayar. Niscaya sulit menemukan pemelihara rumah yang lebihtelaten daripada istrinya. Umar ingat betul akan hal itu. Maka tak adasalahnya ia mendengarkan omelan istri, karena (mungkin) ia lelah menjagaharta-harta sang suami yang semakin hari semakin membebani.
3. Penjaga Penampilan
Umumnya laki-laki tak bisa menjaga penampilan. Kulit legam tapi berpakaianwarna gelap. Tubuh tambun malah suka baju bermotif besar. Atasan dan bawahansering tak sepadan. Untunglah suami punya penata busana yang setiap pagimenyiapkan pakaianannya, memilihkan apa yang pantas untuknya, menjahitkansendiri di waktu luang, menisik bila ada yang sobek. Suami yang tampilmenawan adalah wujud ketelatenan istri. Tak mengapa mendengarnya berkeluhkesah atas kecakapannya itu
4. Pengasuh Anak-anak
Suami menyemai benih di ladang istri. Benih tumbuh, m eka r. Sembilan bulanistri bersusah payah merawat benih hingga lahir tunas yang menggembirakan.Tak berhenti sampai di situ. Istri juga merawat tunas agar tumbuh besar.Kokoh dan kuat. Jika ada yang salah dengan pertumbuhan sang tunas, pastilahistri yang disalahkan. Bila tunas membanggakan lebih dulu suami maju kedepan, mengaku, "akulah yang membuatnya begitu." Baik buruknya sang tunasbeberapa tahun ke depan tak lepas dari sentuhan tangannya. Umar paham benarakan hal itu.
5. Penyedia Hidangan
Pulang kerja, suami memikul lelah di badan. Energi terkuras, beraktivitas diseharian. Ia butuh asupan untuk mengembalikan energi. Di meja makan suami cuma tahu ada hidangan: ayam panggang kecap, sayur asam, sambal terasi danlalapan. Tak terpikir olehnya harga ayam melambung; tadi bagi istrinyasempat berdebat, menawar, harga melebihi angaran. Tak perlu suami memotongsayuran, mengulek bumbu, dan memilah-milih cabai dan b awang . Tak pusing iamemikirkan berapa takaran bumbu agar rasa pas di lidah. Yang suami tahuhanya makan. Itupun terkadang dengan jumlah berlebihan; menyisakan sedikitsaja untuk istri si juru masak. Tanpa perhitungan istri selalu menjadi kokiterbaik untuk suami. Mencatat dalam memori makanan apa yang disuka dandibenci suami.

Dengan mengingat lima peran ini, Umar kerap diam setiap istrinya ngomel. Mungkin dia capek, mungkin dia jenuh dengan segala beban rumah tangga dipundaknya. Istri telah berusaha membentenginya dari api neraka, memeliharahartanya, menjaga penampilannya, mengasuh anak-anak, menyediakan hidanganuntuknya. Untuk segala kemurahan hati sang istri, tak mengapa iamendengarkan keluh kesah buah lelah.

Umar hanya mengingat kebaikan-kebaikan istri untuk menutupi segala cela dankekurangannya. Bila istri sudah puas menumpahkan kata-katanya, barulah iamenasehati, dengan cara yang baik, dengan bercanda. Hingga tak terhindarpertumpahan ludah dan caci maki tak terpuji.Akankah suami-suami masa kini dapat mencontoh perilaku Umar ini. Ia takhanya berhasil memimpin negara tapi juga menjadi imam idaman bagikeluarganya.

Wallahu'Alam

TREND HOT PANTS: VIRUS PEMBUNUH RASA MALU

Dari milis sebelah, semoga menjadi renungan akan fenomena yang terjadi.

Apa jadinya jika manusia sudah kehilangan harga dirinya?
Pantaskah kalau kemudian kita mengaku sebagai manusia beradab?
Ketika rasa malu itu hilang dan lenyap, kita tak berbeda dengan manusiabarbar yang hidup di zaman batu.

TREND HOT PANTS: VIRUS PEMBUNUH RASA MALU
Sahabatku, kamu pasti tidak menutup mata, bila akhir-akhir ini, sering menjumpai teman-teman yang nota bene muslimah (ku sebut demikian, karena meskimereka wanita, tetapi tetap mengaku ber-Islam), mengenakan celana pendek dimall-mall, di setiap Twenty One,hingga di tempat-tempat tongkrongan yang menjajakan kuliner. Tanpa rasa malu dan jengah sedikit pun, mereka cuek bebek berseliweran di jalan-jalandan tempat keramaian. Lebih parah lagi, celana pendek melewati dengkul atau yang ngetren disebut hot pants (celana yg bikin 'panas') itu kadang dikenakan di tempat pesta pernikahan bahkan ajang reuni. Ya ampuunnn.Kalo dipikir-pikir ke mana rasa malunya itu? Sudah pudar? Atau sudah lenyap sama sekali.

Asal tau saja, dulu masyarakat kita mencitrakan celana pendek sebagaibusananya kamu pelacur (maaf, terlalu kasar memang) yang kerap nongkrong di lokalisasi prostitusi. Kini ketika model dan gaya itu menjadi trend, para ABG (dariyang SMP, SMA, kuliah sampe yang udah tuwir)sepertinya tidak peduli dengan pencitraan itu. Mereka memang bukan pelacur,tapi meniru-niru seperti pelacur. Gawat!Terkadang terbetik oleh kita, jika model ini dipelihara terus, bukan tidakmungkin, lama-lama kaum perempuan tidak malu lagi ketika mengenakan celanadalam di tempat keramaian sekalipun (kayak di negeri ‘Obama, dkk’). Nah lho,kalau sudah begitu, tunggu apa lagi, inilah tanda-tanda kiamat bakal semakin dekat.

GetShortySo Get Shorty! (Tunjukin kakimu!). Inilah mesej para perusak moral yang menjadikan short pants atau hot pants sebagai trend fashion remaja putri sejak awal 2007. Hingga tahun 2008 pun trend “Get Shorty” (nama lain dari short pants) masih terus merajai. Konsumennya pun mulai dari anak SMA hingga anak kampus alias mahasiswi. Celana pendek sendiri banyak ragamnya, mulai dari yang selutut sampai diatas lutut. Modelnya enggak cuma one girls, ada yang baggy atau lurus dengan motif polos, stripes atau polkadot dan masih banyak yang lain. Yang pasti, perancang mode dan pebisnis kerap memunculkan inovasi-inovasi baru, dengan harapan remaja putri dan wanita dewasa, mengikutinya sebagai trend yang “wajib” dituruti. Ketika ditanya, kenapa ABG putri dan mahasiswi, menyukai short pants? “Karena short pants lebih simple dan nyamandikenakan, bisa ke mall, pantai, maen ke rumag teman, di rumah, dan kapansaja,” ungkap seorang pelajar, sebut saja Dina (bukan nama asli). Saat di konfirmasi, apa pantas shortpants dikenakan saat kondangan? Laura (juga bukan nama asli), siswi SMA di bilangan Depok berkomentar. “Menurut gue ya kurang pantes lah jika dipake saat pesta pernikahan. Belakangan, memang,mulai ada yang pake short pants saatkondangan atau pesta resmi. Tapi gila kali, nggak ada otaknya tuh cewek. Masa kondangan pake short pants.” Tandasnya ketus.

Sebelum short pants, para ABG keranjingan celana panjang model pensil yang berwarna-warni, bentuknyamengerucut, menyempit ke bawah, ngepas dengan ukuran kaki para pemakainya. Memang trend mode celana yang satu ini sangat booming terutama di kalanganpara ABG dan mahasiswi di kota-kota besar. Apalagi di Jakarta & Bandung (meski parahan Jakarta). Setiap radius 100 meter pasti menjumpai celana pensilyang satu ini. Menurut perancangnya, celana ini memberikan efek untukmempertegas keindahan bentuk kaki para pemakainya. Berbarengan dengan short pants,muncul lagi trend celana yang terbuat dari bahan strech. Celana ketat ini dianggap nyaman dipakai dan bisa membentuklekuk tubuh yang “seksi”.

Sebagai informasi saja, konon artis legendaris Marlene Diertrich suatu kalipernah ditolak masuk pada sebuah restauran karena ia memakai celana panjang. Ingat, itu baru celana panjang, bukan mini! Seorang wanita yang tampil denganbusana pria, ketika itu rupanya dianggap kontroversial. Itu terjadi1930-1940an, ketika belum banyak wanita memakai celana panjang di tempat umum. Kini celana panjang malah jadi bagian dari khazanah busana wanita modern. Trend Sampai 2009, Jauh-jauh hari, para pengamat mode telah memprediksikan gaya short pants ini akan berlanjut hinggaakhir tahun nanti, dan tetap menjadi trend bagi kawula muda yang ingin tampilseronok. Bahkan hingga memasuk tahun 2009.Tanpa mempertimbangkan nilai-nilai kepantasan, para perancang model yangkebanyakan non muslim dan didominasi oleh kaumnya Nabi Luth: gay, waria, dan lesbian ini, membuat rancangan busana yang dianggapnya lebih praktis dan modis.

Seperti diungkapkan seorang owner Colour Mode, Anggi, di sebuah Mall di Jakarta, short pants sangat digemari oleh remaja putri, bukan sekadar mengikuti trend. Dengan menggunakan bawahan jenis ini, penampilan wanita lebih feminim karena lebih menonjolkan kaki jenjang yang indah. Short pants, lanjutnya, juga bisa dikenakan untuk ke “party” atau clubbing. “Kebanyakan blus wanita di match-kandengan celana pendek atau short pants denganwarna-warna ceria. Biasanya wanita kalau sedang JJS (Jalan-jalan Sore) menggunakan celana jeans panjang atau jeansgantung. Sekarang tidak musim lagi, yang musim celana pendek di atas lutut,”tukas praktisi fashion itu menjelaskan. Ada peran andil para perancang mode yang menularkan virus kepada remajaperempuan dengan fashion-fashion “nakal” dan memperkenalkan hal-hal yangberaroma glamour. Ketika brand-brand (merk) terkenal seperti Louis Vitton,Dolce and Gabbana, Gucci, Versace, dan Bonia yang ditawarkan, dengan mudahnya perempuan Indonesia tergiur untuk memilikinya.

Undang Murka Tuhan, Sopasti, kecenderungan perempuan (ABG & mahasiswi, terutama) zaman sekarang adalah menelanmentah-mentah, bahwa sesuatu yang dianggap mode dan trend itu pasti indah, gauldan funky. Sekalipun trend itu berbenturan dengan agama dan nilai-nilai asusila alias kesopanan yang berlaku di masyarakat kita sebagai orang timur. Pokoknya dengan lugunya kita membebek, terpesona, dan memberi jempol. Pantas, jika kita selalu menjadi korban mode yang dihembus-hembuskan sebagai trend masa kini. Yang ngga ikut trend dianggap makhluk jadul alias manusia jaman dulu.

Tahukah sahabatku, dalam Al-Qur’an, kita disindir, makhluk yang tak punya rasa malu tak ubahnya binatang ternak, bahkan lebih buruk dari binatang ternak. Bahasa sederhananya. Maukah kita disebut ayam, kambing, monyet, dan binatang lainnya (kaya di Ragunan / Taman Safari, gitu?). Tentu ngga maukan?? Teruusss.. siapa nanti yang mau nikah sama ayam, kambing, monyet, dll? (kecuali di iklan salah satu provider yang ‘ngaco’ di TV itu). Pastinya hanya sesamanya bukan?

Firman Allah dalam Al-Qur’an: “Wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula (begitu pula sebaliknya). Bagi mereka ampunan dan rizki yang melimpah(yaitu : Syurga).” (QS. An Nuur: 26)
Benar kata Rasulullah saw, rasa malu itu sebagian dari iman. Bahkan Rasulullah mewanti-wanti, agar kita waspada, kelak di akhir zaman, manusia tidak lagi peduli halal-haram. Nah, apa jadinya jika manusia sudah kehilangan harga dirinya? Pantaskah kalau kemudian kita mengaku sebagai manusia beradab? Ketika rasa malu itu hilang dan lenyap, kita tak berbeda dengan manusia barbar yang hidup di zaman batu.

Sahabatku, tahukah, bagaimana musuh-musuh Islam menghantam Islam tanpa sebuah peperangan? Tidak ada cara yang paling efektif dan efisien, selain menghilangkan perasaan malu yang dimiliki kaum muslimahnya. Lewat mode(fashion) itulah dinul Islam muslimah dipalingkan. Ingatlah pesan Rasulullah saw: “Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk kaum itu.” (HR. Abu Daud).

Kata Rasulullah, ada golongan penduduk neraka yang tidak pernah aku saksikan, yakni: Wanita yang berpakaian tapi telanjang. Mereka melenggak-lenggokkan tubuhnya dan kepalanya, bagaikan punu kunta yang miring. Mereka tidak masuk Surga, tidak pula mencium baunya, meskipun Surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian. (HR. Muslim).

Semoga bermanfaat buat anapribadi dan keluarga. Mohon maaf jika terlalu lugas, memang demikian adanya.*seraya berdo’a semoga saudara, keluarga, sahabat terdekatku, berubah, dan tidak demikian...*
Dikutipdari: Lembar Khazanah: November 2008
Naskah asli oleh: Adhes Satria (thanks to Allah, you wrote it very well)
Ditulis ulang & dibuat “more powerfull” oleh: Tri Aditya Respati, yang dhoif
November, 26th 2008: 4:45 AM, setelahsubuh

Ketika Hidayah Itu Datang

Kemarin malam, adik saya sms dan bilang kalau ada temannya perempuan yang ingin memakai jilbab. Adik saya bertanya apa yang perlu disiapkan untuk pertama kalinya.
Dengan santai saya balas smsnya begini, yang pertama ya tentu harus ada jilbabnya, terus pakai bajunya gak boleh ketat dan lengan panjang dan jilbab menutup dada, gak boleh pakai celana ketat karena percuma saja kepala di tutup tapi bokong (maaf) terlihat. Gak boleh berduaan dengan seseorang yang bukan muhrimnya. he..he..
Adik saya balas sms lagi, Haa? Segitunyakah? Gak bisa ditawar lagi?
Itu dah harga mati, gak bisa ditawar lagi makanya harus benar-benar ikhlas dan tulus, kalau cuma sekedar identitas sebagai muslimah lebih baik nggak usah daripada ntar nyesal dan bongkar pasang, balas saya lagi.

Apa nggak kepanasan kalau pake jilbab kaya gitu? Tanyanya lagi.
He..he.. ternyata dia ngerti kalau jilbab yang saya rekomendasikan adalah jilbab atau kerudung ukuran minimal L seperti yang selalu saya kenakan sehari-hari.
Insyaallah nggak. Lagian sekarangkan banyak jenis jilbab atau kerudung yang bahan atau kainnya kaos yang nggak bikin panas tapi memang sih kalau nggak dicoba dulu nggak akan tau gimana enaknya pake jilbab. Sekali lagi yang penting adalah ikhlas, saya membalas smsnya sekali lagi.

Setelah itu tidak ada balasan lagi dari adik saya.
Jadi ingat dulu waktu pertama kali saya memutuskan memakai jilbab. Gara-gara teman kerja saya dari aceh yang ngomporin supaya saya dan Mbak Endang (kasir di kantor saya dulu) untuk pakai jilbab. Waktu itu dia pernah nanya kenapa saya dan mbak Endang gak kerudungan. Kami berdua kompak bilang kalau kami belum siap dan belum dapat hidayah hikss.. Beneran nih saat itu belum terpikir oleh saya untuk kerudungan. Terus teman saya tadi dengan santainya nanya kapan siapnya? Kalau besok dah gak dikasih umur lagi apa mau meninggal dalam keadaan "telanjang" tanpa jilbab? Perempuan wajib lho menutup aurat, katanya sambil tersenyum.

Saya tidak bisa berkata-kata lagi. Ya Allah, saat itu saya merasa benar-benar seperti merasakan pukulan dari segala penjuru. Tiba-tiba ada ketakutan yang muncul dikepala saya. Ketakutan akan hari kematian yang saya tidak tau kapan datangnya. Bagaimana kalau umur saya ternyata tidak sampai besok hari? Apa yang harus saya lakukan?
Kaki ini terasa tak kuat menopang tubuh saya. Langsung saya tinggalkan teman tadi sambil diiringi oleh tatapan herannya. Sampai jam kerja selesai kalimat dari teman saya tadi masih terngiang-ngiang ditelinga bahkan di rumah pun kalimatnya tadi tidak bisa saya lupakan.

Besoknya Mbak Endang menelpon saya dan nanyain apa saya memakai jilbab atau nggak. Dengan mantap saya jawab iya. Ternyata Mbak Endang juga memutuskan untuk mengenakan jilbab.
Sampai di kantor boss saya terkejut melihat saya mengenakan kerudung. Tapi dengan kenekatan saya yang berada di level tiga ratus enam puluh derajat segala ucapan dan komen saya abaikan. Begitu juga besok, besok dan besoknya lagi. Setelah tiga hari sudah tidak ada lagi komentar-komentar. Haaa… saya sudah mulai terbiasa.

Setelah bisa mengendalikan situasi maksudnya setelah saya terampil menjepit jilbab saya mulai mencoba cara-cara baru dalam penampilan jilbab. Saya bahkan sempat memakai jilbab seperti yang dilakukan oleh Inneke Koesherawati sampai-sampai adik saya bilang kalau saya seperti orang mau bunuh diri karena mengingkat kerudung di leher. Beberapa bulan kemudian saya mulai mengganti lagi model kerudung saya alasannya adalah karena agak ribet dan makan waktu lama di kamar mandi. Kali ini saya pilih yang simple saja.saya memakai kerudung ukuran s jadi nggak perlu diikat dan gak kebesaran. Pelan-pelan saya mengganti lagi ukuran kerudung menjadi lebih besar dan menutup dada.

Ahhh, semuanya berawal dari ucapan teman saya yang secara tidak sengaja telah membuat saya terpental dan merasa ketakutan luar biasa sehingga saya mengambil keputusan besar. Alhamdulillah sampai sekarang tidak ada sedikitpun penyesalan akibat dari keputusan ini.

Aku bersujud padamu Allah karena telah memberikan hidayahmu padaku.

Mampukah Kita Membalas Cintanya

Oleh Muhammad Fatih

Suatu ketika ada seorang anak yang sangat benci kepada ibunya. Begitu besar kebencian yang dirasakannya terhadap ibunya. Bukan karena ibunya orang yang jahat dan tidak perhatian kepadanya. Tapi semata karena Mata sang ibu cacat sebelah. Ketika sekolah dasar sang anak sering di ejek teman-temannya dengan sebutan anak si buta.


Pernah suatu ketika si Ibu memanggil dan tersenyum kepadanya ketika dia sedang berkumpul dengan temannya. Bukan sebuah senyum yang di dapatkan ibu dari sang anak tapi sebuah sumpah serapah yang dilontarkan si anak. Sang anak berkata di depan ibunya bahwa dia benci punya ibu buta, dia ingin ibunya mati saja.


Tahun dan bulan berganti sang anak telah memiliki keluarga sendiri, selama itu dia tidak lagi pernah bertemu ibunya, karena sejak SMA dia sudah tidak mau tinggal dengan ibunya. Suatu kali sang ibu berkunjung ke rumah anaknya yang ia tahu dari para tetangganya. Ketika sang ibu berada di depan pintu sang anak bukan mempersilahkan masuk tapi malah mengusir dengan cacian dan makian. Sang ibu hanya terdiam dan meninggalkan lokasi dengan wajah sedih.

Suatu ketika sang ibu jatuh sakit dan akhirnya meninggal. Para tetangga mengabarkan pada sang anak. Sang anak tidak merasa sedih sama sekali dengan kepergian ibunya, sampai seorang tetangga memberikan sepucuk surat dari sang ibu kepada anaknya.


Dalam suratnya ibunya hanya mengatakan maaf jika selama ini membuatnya malu. Ibunya juga menceritakan mengapa matanya cacat sebelah. Ketika usia 3 tahun sang anak terjatuh ketika bermain sehingga menyebabkan kebutaan sebelah pada matanya. Karena tidak ingin sang anak buta sebelah maka sang Ibu memberikan matanya untuk anak tercintanya. Dia tidak perduli harus kehilangan sebelah matanya asalkan sang buah hati dapat menjalani kehidupan ini dengan normal.

Di akhir surat sang ibu mengatakan bahwa dia begitu mencintai sang anak dan ingin sekali memeluk erat sang anak sebagaimana dulu ia memeluk erat sang anak yang tergolek lemah ketika terjatuh. Tercekat kerongkongan sang anak ketika membaca, tak kuasa butiran air mengalir dari sudut-sudut matanya, dadanya sesak dipenuhi perasaan haru dan bersalah teramat dalam.


Saudaraku, tidakkah kita sadar bahwa salah satu anugerah terbesar yang Allah berikan adalah ketika kita diberikan orang tua. Mungkin banyak di antara kita yang terkadang malu memiliki orang tua yang penampilan fisiknya tidak lagi menarik. Kita begitu malu ketika harus menggandeng tangan ibu kita saat berada di antara teman-teman kita, kita begitu kesal jika ibu atau ayah kita tidak menuruti keinginan kita. Kita terasa berat untuk mengulang kata yang kadang tidak terdengar jelas oleh orang tua kita karena pendengaran mereka telah berkurang. Kita begitu malu ketika harus menerima kenyataan bahwa orang tua kita bukanlah orang yang sempurna, melainkan hanya seorang yang ringkih tubuhnya, lusuh penampilannya dan tidak memiliki sesuatu yang di banggakan.

Tapi tidakkah kita ingat saudaraku bahwa mereka tak pernah malu menjadi petugas kebersihan yang selalu beregelut dengan sampah hanya karena ingin melihat kita bersekolah sebagaimana anak-anak lainnya. Mereka tidak pernah malu menjadi pedagang kaki lima yang kadang harus berlari tersengal-sengal karena dikejar keamanan kota demi untuk membelikan kita jajanan sebagaimana anak-anak lainnya. Mereka tidak pernah peduli dengan kesehatannya dan terus bekerja membanting tulang demi menafkahi kehidupan kita. Mereka tidak pernah bosan mengulang-ulang kata agar kita pandai bicara. Mereka dengan sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan kita, walaupun kita kerap menanyakan hal yang sama.


Bukankah ringkih tubuh mereka karena begitu kerasnya mereka berjuang agar kita dapat hidup lebih baik dari mereka. Bukankah lusuh penampilan mereka karena mereka terlalu sibuk memikirkan iuran sekolah dan kebutuhan hidup kita lainnya.

Mungkin orang tua kita adalah orang tua yang tidak sempurna, orang tua yang memiliki berbagai macam kekurangan. Mungkin bahasa mereka dalam mengungkapkan cintanyapun tidak sepenuhnya kita pahami. Tapi yakinlah bahwa di antara doa-doa panjangnya, sebagian besar adalah doa untuk kebaikan kita. Disetiap peluh keringatnya semata-mata hanya untuk melihat kita bahagia. Di antara amarah dan larangannya adalah bentuk perwujudan cintanya pada kita.

Saudaraku mumpung waktu itu belum tiba, waktu di mana kita hanya bisa menangis penuh sesal di makamnya karena selama hidupnya kita hanya menyusahkannya dan tidak pernah membuatnya bahagia. Waktu di mana kita tidak bisa memeluk erat tubuh ringkihnya yang penuh kehangatan cinta. Waktu ketika semuanya telah terlambat.


Datanglah saudaraku, datanglah kepadanya saat ini seraya mencium dengan takzim punggung tangannya, datanglah dengan senyum merekah dan tutur kata yang lemah lembut. Datanglah dengan lirih berbisik bahwa kita begitu mencintainya. Karena bukan dunia dan isinya yang membuat mereka bahagia, tapi bakti kitalah yang membuat senyum bahagia mereka merekah.

Allahummagfirli waliwali dayya warhamhuma kama rabbayani shagirah.

Menjadi Ibu Rumah Tangga, Berani ?

Oleh Bayu Gawtama

Seorang sahabat mengungkapkan rencananya untuk mengundurkan diri dari perusahaan tempat kerjanya. Ia merasa tidak takut meninggalkan karirnya yang sudah belasan tahun dirintisnya dari bawah. “sayang juga sebenarnya, dan ini merupakan pilihan yang berat, terlebih ketika saya merasa sudah berada di puncak karir, ” ujarnya.

Lalu ke mana setelah resign? “yang ada di pikiran saya saat ini hanya satu, menjadi ibu rumah tangga. Sudah terlalu lama saya meninggalkan anak-anak di rumah tanpa bimbingan maksimal dari ibunya. Saya sering terlalu lelah untuk memberi pelayanan terbaik untuk suami. Bahkan sebagai bagian dari masyarakat, saya sangat sibuk sehingga hanya sedikit waktu untuk bersosialisasi dengan tetangga dan warga sekitar”

Tapi, ibu nampaknya masih ragu? “bukan ragu. Saya hanya perlu menata mental sebelum benar-benar mengambil langkah ini”.

“Rasanya masih malu jika suatu saat bertemu dengan teman-teman sejawat atau rekan bisnis. Saya belum menemukan jawaban yang pas saat mereka bertanya, “sekarang Anda cuma jadi ibu rumah tangga?”

Saya tersenyum mendengarnya, mencoba memahami kesesakan benaknya saat itu. Teringat saya dengan seorang sahabat lama yang saat di sebuah forum wanita karir di Jerman lantang menjawab, “profesi saya ibu rumah tangga, jika di antara para hadirin ada yang mengatakan bahwa ibu rumah tangga bukan profesi, saya bisa menjelaskan secara panjang lebar betapa mulianya profesi saya ini dan tidak cukup waktu satu hari untuk menjelaskannya”.

Luar biasa. Sekali lagi luar biasa. Saya harus hadiahkan acungan jempol melebihi dari yang saya miliki untuk sahabat yang satu ini. Saya tuturkan kisah ini kepada sahabat yang sedang menata hati meyakinkan diri untuk benar-benar menjadi ibu rumah tangga, bahwa ia takkan pernah menyesali pilihannya itu. Kelak ia akan menyadari bahwa langkahnya itu adalah keputusan terbaik yang pernah ia tetapkan seumur hidupnya.

Naluri setiap wanita adalah menjadi ibu. Adakah wanita yang benar-benar tak pernah ingin menjadi ibu? Percayalah, pada fitrahnya wanita akan lebih senang memilih berada di rumah mendampingi perkembangan putra-putrinya dari waktu ke waktu. Menjadi yang pertama melihat si kecil berdiri dan menjejakkan langkah pertamanya. Ia tak ingin anaknya lebih dulu bisa berucap “mbak” atau “bibi” ketimbang ucapan “mama”. Tak satupun ibu yang tak terenyuh ketika putra yang dilahirkan dari rahimnya lebih memilih pelukan baby sitter saat menangis mencari kehangatan.

Ibulah yang paling mengerti memberikan yang terbaik untuk anaknya, karena ia yang tak henti mendekapnya selama dalam masa kandungan. Sebagian darahnya mengalir di tubuh anaknya. Ia pula yang merasakan perih yang tak tertahankan ketika melahirkan anaknya, saat itulah kembang cinta tengah merekah dan binar mata ibu menyiratkan kata, “ini ibu nak, malaikat yang kan selalu menyertaimu”. Cintapun terus mengalir bersama air kehidupan dari dada sang ibu, serta belai lembut dan kecupan kasih sayang yang sedetik pun takkan pernah terlewatkan.

Ibu akan menjadi apapun yang dikehendaki. Pemberi asupan gizi, pencuci pakaian, tukang masak terhebat, perawat di kala sakit, penjaga malam yang siap siaga, atau pendongeng yang lucu. Kadang berperan sebagai guru, kadang kala jadi pembantu. Jadi apapun ibu, semuanya dilakukan tanpa bayaran sepeserpun alias gratis.

***
Sahabat, bukan malu atau bingung saat harus berhadapan dengan rekan bisnis. Katakan dengan bangga baru sebagai ibu rumah tangga. Sebab sesungguhnya, mereka pun sangat ingin mengikuti jejak sahabat, hanya saja mereka belum mengambil keputusan seperti sahabat. Tersenyumlah karena anak-anak pun bangga dengan langkah terbaik ibunya. –Gaw, 2008-

Jihad Ibu

Rasulullah SAW bersabda, ''Setiap jerih payah istri di rumah sama nilainya dengan jerih payah suami di medan jihad.'' (HR Bukhari dan Muslim).
Pada dasarnya, Islam telah memberikan keistimewaan kepada para istri untuk tetap berada di rumahnya. Untuk mendapatkan surga-Nya kelak, para istri cukup berjuang di rumah tangganya dengan ikhlas. Tetesan keringat mereka di dapur dinilai sama dengan darah mujahid di medan perang.

Menjadi ibu rumah tangga kedengarannya memang sepele dan remeh, hanya berkecimpung dengan urusan rumah dari A-Z, namun siapa sangka banyak sekali kebaikan dan hikmah yang dapat diperoleh. Ibulah yang mengambil porsi terbesar dalam pembentukan pribadi sebuah generasi.

Pertumbuhan suatu generasi bangsa pertama kali berada di buaian para ibu. Di tangan ibu pula pendidikan anak ditanamkan dari usia dini, dan berkat keuletan dan ketulusan ibu jualah bermunculan generasi-generasi berkualitas dan bermanfaat bagi bangsa dan agama.

Dalam Islam, ini adalah tugas besar, namun sangat mulia dan akan dipertanggungjawabk an di akhirat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, ''Seorang istri pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atas kepemimpinannya. '' (HR Bukhari dan Muslim).

Sayangnya, kebanyakan wanita modern saat ini tidak menyukai aktivitas rumah tangga. Mereka lebih bangga bekerja di luar rumah karena beranggapan tinggal di rumah identik dengan ketidakmandirian dan ketidakberdayaan ekonomi. Maka, jadilah peran ibu di rumah dianggap rendah, dan tidak sedikit ibu rumah tangga yang malu-malu ketika ditanya apa pekerjaannya.

Meskipun seorang wanita tidak bekerja setelah lulus sarjana, ilmunya tidak akan sia-sia, sebab ia akan menjadi ibu sekaligus pendidik bagi anak-anaknya. Kebiasaan berpikir ilmiah yang ia dapatkan dari proses belajar di bangku kuliah itulah yang akan membedakannya dalam mendidik anak. Seorang ibu memang harus cerdas dan berkualitas, sebab kewajiban mengurus anak tidak sebatas memberi makan.

Ia harus mampu merawat dan mendidik anak-anaknya dengan benar, penuh kasih sayang, kesabaran, menempanya dengan nilai dan norma agama agar sang anak mampu menghindar dari pengaruh lingkungan dan kemajuan teknologi yang merusak akal dan akhlaknya. Hal itu hanya dapat dilakukan oleh seorang ibu yang cerdas. (Siti Yuliati )

Sumber: republika

10 wasiat Rasulullah kepada putrinya


eramuslim - Dear ukhti-ukhtiku yang kucintai karena Allah, apa kabar iman-mu hari ini? Semoga Allah Yang Maha Indah selalu memberi keindahan padamu dan melindungimu dari segala keburukan
Ukhti-ukhtiku yang kucintai karena Allah, sebaik2 perhiasan dunia adalah wanita sholehah. Dan "perkara yang pertama kali ditanyakan kepada seorang wanita pada hari kiamat nanti, adalah mengenai sholat lima waktu dan ketaatannya terhadap suami." (HR.Ibnu Hibbab dari Abu Hurairah)

Ukhti-ukhtiku, Pagi ini aku membaca sebuah buku didalamnya terdapat 10 wasiat Rasulullah kepada putrinya Fathimah binti Rasulillah.
Sepuluh wasiat yang beliau sampaikan merupakan mutiara yang termahal nilainya, bila kemudian dimiliki oleh setiap istri sholehah. Wasiat tsb adl:

1. Ya Fathimah, kepada wanita yang membuat tepung untuk suami dan anak-anaknya, Allah pasti akan menetapkan kebaikan baginya dari setiap biji gandum, melebur kejelekan dan meningkatkan derajat wanita itu.

2. Ya Fathimah, kepada wanita yang berkeringat ketika menumbuk tepung untuk suami dan anak-anaknya, niscaya Allah menjadikana dirinya dengan neraka tujuh tabir pemisah

3. Ya Fathimah, tiadalah seorang yang meminyaki rambut anak-anaknya lalu menyisirnya dan mencuci pakaiannya, melainkan Allah akan menetapkan pahala baginya seperti pahala memberi makan seribu org yang kelaparan dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang

4. Ya Fathimah, tiadalah wanita yang menahan kebutuhan tetangganya, melainkan Allah akan menahannya dari minum telaga kautsar pada hari kiamat nanti.

5. Ya Fathimah, yang lebih utama dari seluruh keutamaan di atas adalah keridhoaan suami terhadap istri. Andaikata suamimu tidak ridho kepadamu, maka aku tidak akan mendoakanmu. Ketahuilah wahai Fathimah, kemarahan suami adalah kemurkaan Allah

6. Ya Fathimah, apabila wanita mengandung, maka malaikat memohonkan ampunan baginya, dan Allah menetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan serta melebur seribu kejelekan. Ketika wanita merasa sakit akan melahirkan, Allah menetapkan pahala baginya sama dengan pahala para pejuang di jalan Allah. Jika dia melahirkan kandungannya, maka bersihlah dosa-dosanya seperti ketika dia dilahirkan dari kandungan ibunya. Bila meninggal ketika melahirkan, maka dia tidak akan membawa dosa sedikitpun. Didalam kubur akan mendapat pertamanan indah yang merupakan bagian dari taman sorga. Dan Allah memberikan pahala kepadanya sama dengan pahala seribu orang yang melaksanakan ibadah haji dan umrah, dan seribu malaikat memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat.

7. Ya Fathimah, tiadalah wanita yang melayani suami selama sehari semalam dengan rasa senang serta ikhlas, melainkan Allah mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan pakaian padanya di hari kiamat berupa pakaian yang serba hijau, dan menetapkan baginya setiap rambut pada tubuhnya seribu kebaikan. Dan Allah memberikan kepadanya pahala seratus kali beribadah haji dan umrah.

8. Ya Fathimah, tiadalah wanita yang tersenyum di hadapan suami, melainkan Allah memandangnya dengan pandangan penuh kasih.

9. Ya Fathimah, tiadalah wanita yang membentangkan alas tidur untuk suami dengan rasa senang hati, melainkan para malaikat yang memanggil dari langit menyeru wannita itu agar menyaksikan pahala amalnya, dan Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.

10. Ya Fathimah, tiadalah wanita yang meminyaki kepala suami dan menyisirnya, meminyaki jenggot dan memotong kumisnya, serta memotong kukunya, melainkan Allah memberi minuman arak yang dikemas indah kepadanya yang didatangkan dari sungai2 sorga. Allah mempermudah sakaratul-maut baginya, serta kuburnya menjadi bagian dari taman sorga. Dan Allah menetapkan baginya bebas dari siksa neraka serta dapat melintasi shirathal-mustaqim dengan selamat.

Rejeki Menikah Bukan Matematika

Oleh Abdul Rahman Jamil

Ayolah, kapan lagi mau menikah ? Kamu kan sudah cukup umur, sudah bekerja pula dan secara agama hukumnya sudah menjadi wajib loh!. Ngga usah takut ngga cukup. Rejeki itu tidak seperti hitungan matematika, serahkan saja semua kepada Allah. Begitu selalu yang dikatakan teman-teman saat saya selalu mempertimbangkan masalah keuangan sebagai salah satu alasan mengapa belum menikah.

Percakapan itu terjadi beberapa tahun lalu, saat saya gamang dalam keputusan untuk menikah atau tidak. Syukurnya, saya lebih memilih untuk melangkah maju dibanding mundur teratur untuk tidak membicarakan lagi masalah pernikahan.

Dan ternyata teori rejeki bukan matematika itu ternyata benar adanya. Mana pernah saya menduga sebelumnya, bahwa dengan berkeluarga justru keadaan ekonomi saya meningkat. Dibanding saat sendiri dulu keadaannya boleh dibilang sangat bertolak belakang.
Dengan gaji yang saya terima saat bujangan dulu, tanpa menanggung biaya kontrak rumah, makan cuma satu mulut dan tak ada tetek bengek biaya rumah tangga, toh tabungan saya tak pernah lebih dari enam digit.

Malah sebaliknya, justru saat saya harus menafkahi isteri dan anak-anak ternyata saya bisa mencukupi kebutuhan minimal mereka, sesekali berwisata dan masih ada sisa untuk ditabung untuk persiapan tak terduga. Dari mana semua itu? Secara logika, seharusnya keadaan ekonomi saya morat marit, karena toh gaji yang saya terima jumlahnya tidak terlalu berbeda jauh saat bujangan dulu.

Jawabannya adalah, semua karena kebesaran Allah dan kepasrahan kepada kehendak-Nya. Allah selalu memberikan rejeki yang tidak pernah saya duga –duga sebelumnya. Ada saja tawaran kerja sampingan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Dan semua itu cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga kami dan bahkan bisa ditabung pula.

Maka semakin yakinlah saya akan kebenaran janji Allah dalam Alqura-an..". Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar..(memudahkan jalannya untuk sukses)"Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (QS.65:2-3)

Nah, sekarang apalagi yang menjadi penghalang bagi muslimin untuk menikah, kalau Allah telah menjamin semuanya ?

Brisbane, 13 April 2008

Siapa Berdoa untuk Saya ?

Oleh Bayu Gawtama

Dalam sebuah kajian, seorang ibu bertanya, “Sudah duabelas tahun saya menikah, tapi belum dikaruniai anak. Kalau sampai ajal menjemput nanti saya belum juga mendapatkan anak, siapa yang akan mendoakan saya di kuburan?”
Semua mata tertegun, terharu dan juga sedikit bingung memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Beberapa ibu bahkan menitikkan airmata, bisa dirasakan harapan terdalam dari ibu yang bertanya itu. Sebab bagi siapa pun wanita di muka bumi ini, memiliki buah hati dari rahimnya sendiri adalah mimpi terindah, harapan terbesar dan cita-cita tertinggi di sepanjang perjalanan hidupnya.

Namun pertanyaan itu begitu menghentak, betapa setiap orang beriman akan mendapatkan beragam ujian. Salah satunya berkenaan dengan amanah berupa anak. Bagi yang diberi amanah, tetaplah sebuah ujian agar menjaga amanah tersebut sebaik-baiknya. Ibarat seseorang yang menitipkan suatu barang berharga kepada orang lain yang dipercayainya, ia berharap barang tersebut dijaga, dipelihara sebaik mungkin, hingga pada satu saat barang itu harus dikembalikan, tetap dalam keadaan baik.

Bahkan mungkin ketika barang itu belum waktunya diambil pun, si penitip yang melihat orang yang dipercaya itu mampu menjaga amanah dengan baik, maka ia tak akan sungkan menitipkan barang lainnya. Ada dua motivasi yang muncul ketika titipan kedua diberikan, apakah memang ia telah menjaga dengan baik titipan pertamanya, atau, titipan kedua sebagai ujian agar ia mampu berbuat lebih baik lagi. Begitu pula dengan mereka yang belum diberi kesempatan.
Bukan semata karena ia belum layak mendapat amanah, juga bukan karena mereka yang diberi momongan itu lebih baik kualitas diri dan kehidupannya. Ini semua menjadi rahasia Allah, sedangkan sebagai hamba kita hanya bisa berdoa agar Allah kelak memberikan kesempatan itu meski hanya sekali.

Banyak kita jumpai, sepasang suami isteri yang shalih, taat beribadah, berkecukupan, dengan latar belakang pendidikan yang sangat menunjang, namun belum dikaruniai seorang anak. Berbagai upaya sudah dilakukan, dan tak henti berusaha lantaran tak ada sedikit pun masalah medis dalam diri suami isteri tersebut.
Jika demikian, doa dan terus bersyukur atas segala rezeki yang telah diterimanya bisa membuat Allah tersenyum dan berkenan menambahkan rezeki lainnya. Tentu saja Allah tahu persis apa yang paling diinginkan setiap hamba, meski tak satu pun hamba yang boleh mendikte keinginan Allah. Kembali ke pertanyaan di atas, “siapa yang akan berdoa untuk saya sesudah saya mati?” adalah pertanyaan dari hati terdalam seorang ibu yang memendam kerinduan teramat dalam akan hadirnya si buah hati.

Makna tertinggi dari harapan sepasang manusia, bukan sekadar bisa menimang dan mengaliri kasih sayang melalui peluk kasih dan sentuhan lembut jemari sang ibu.
Tak hanya sebentuk rindu menyanyikan lagu ‘nina bobo’ atau senandung shalawat ketika buah hatinya terlelap dalam belaiannya. Lebih, jelas lebih dari itu. Ia telah menyiapkan segala sesuatunya agar kelak anak-anak yang tumbuh dan keluar dari rahimnya, adalah anak-anak yang memahami betul peran dan multi tanggungjawabnya; kepada Tuhannya, kepada orangtuanya, juga kepada lingkungannya.

Hiburan berupa jawaban, “Meski tidak dikaruniai anak, ibu kan masih punya dua hal lainnya; ilmu yang bermanfaat dan amal shalih” hanya berlaku sesaat. Ketika ia merasa sendiri di rumah, saat suaminya mencari nafkah, suara tangis dan kelakar riang anak-anak akan mengisi hari-hari sepinya. Siapa wanita yang tak menitikkan air mata kala mengetahui segumpal darah berbentuk janin dititipkan di rahimnya? Air matanya sejernih cintanya, bulir airnya menggugurkan kerinduan teramat dalam di sepanjang hidupnya.
Saya berdoa untuk semua saudara yang masih menggenggam rindu ini. (Gaw)

Kesedihan Itu Indah...

Oleh Tsabita Adzimatillah

Hidup adalah sebuah anugrah terindah di atas dunia. Disebabkan karena hidup maka ada kehidupan, pun bermula dari kehidupan maka kematian adalah suatu yang niscaya. Namun demikian kematian bukanlah sesuatu yang dapat merenggut arti sebuah geliat kehidupan. Kematian sendiri adalah sebuah keindahan manakala kita dapat memaknainya sebagai anugrah. Karena setiap yang berjiwa takkan pernah bisa lari dari kematian. Allah berfirman, "Walan yuakh khirallahu idza jaa a ajaluha" yang artinya "dan Allah tidak akan menangguhkan kematian seseorang apabila telah tiba ajalnya" (Qs Al-Munafiqun:11).
Adalah lumrah, wajar, jika kita menangis tiap kali menghadapi sebuah kematian, apalagi jika yang terjadi adalah kematian orang-orang yang kita cinta seperti, ayah, ibu, suami dan anak. Tapi kematian orang-orang tercinta dapat menjadi sebuah pencerahan manakala dimaknai dengan sebuah keimanan, iman terhadap Qodarullah. Takdir yang sudah Allah tuliskan buat setiap jiwa saat dilahirkan. Terlebih bila mereka meninggal dalam keadaan khusnul khotimah.
Dalam 38 tahun perjalanan hidupku, aku menghadapi semua kematian orang-orang kucintai. Tahun 1993 aku kehilangan ayahku, tahun 2003 ibuku wafat. Sejak itu aku hidup bersama 7 orang adiku. Kehidupan kami tidaklah sulit meski juga tidak mudah. Apalagi kami hidup dijakarta, bahu membahu kami berusaha lalui kehidupan dengan segala konsekwensi dan kompleksitasnya.

Seiring waktu berlalu, aku menikah 18 April 2004 dengan seorang laki-laki yang baik yang Allah takdirkan jadi suamiku. Dia laki-laki terbaik yang Allah berikan untukku. Cintanya membuat hidupku jadi lebih banyak berarti. Dia memberiku nafas kedua dalam banyak hal, memberi dorongan dan semangat dalam banyak hal, termasuk menulis sebagai hobbyku dan sebagai akupunturis yang kini kutekuni sbg pekerjaanku. Terlebih dari itu dia adalah guru terbaik buatku dalam memahami Islam sebagai jalan kehidupanku. Dimataku dia luar biasa di balik segala kekurangannya, di balik ringkih tubuhnya dan penyakit yang menderanya. Hidupku penuh kebahagiaan bersamanya, sampai maut memisahkan kami. Dia meninggal pada 18 januari 2008 karena penyakit bocor jantung yang dideritanya sejak lahir.
Sejak itu aku merasa kesendirian yang menghempaskanku pada ketakberdayaan, kalaulah tidak karena kuingat ayat-ayat cinta dalam Al-Qur'an, maka aku akan kian terpuruk dalam duka. Perlahan aku coba maknai kematian suamiku sebagai sebuah kesembuhan buatnya dari penyakit yang dideritanya, dan harusnya aku bahagia karena dia lepas dari deritanya.
Aku belajar melalui hidup sendirian. Kusibukan diri dengan klinik ku yang dibangun oleh almarhum suamiku untukku, klinik itu diberinya nama Harmony Rumah Sehat Holistic. Setiap hari aku berkutat dengan pasien-pasienku hingga waktu berlalu dengan tak terasa.
Melihat kesendirianku apalagi jauh dari keluargaku, aku tinggal di kota kecil di solo sementara adik-adikku di jakarta, keluarga dan saudara juga sahabat-sahabatku ikut prihatin. Hingga mereka berusaha mengenalkanku dengan seseorang untuk jadi pendamping hidupku. Setelah melalui proses perkenalan, aku menikah ke 2 kalinya dengan laki-laki yang usianya 14 tahun lebih tua dariku. Mulanya kuharap pernikahanku akan semanis pernikahanku pertama. Tapi ternyata jauh panggang dari api.

Aku dan bahkan sahabat yang menjodohkanku dengannya tidak pernah menyangka kalau suamiku punya kebiasaan bercinta dengan perempuan lain, sampai akhirnya aku memergokinya bercinta dengan seseorang di sebuah hotel. Belum lagi suamiku ke 2 ternyata di balik kelembutan dan kata-kata manisnya berlaku sangat kasar padaku, aku kerap dipukulnya, hanya karena masalah sepele, seperti meletakkan handphone tidak pada tempatnya. Terakhir puncak kesabaranku habis, ketika dia menendangku dan aku terjerembab di kaki tempat tidur, meyebabkan aku pendarahan hebat, padahal saat itu sedang hamil 2 bulan, aku nyaris keguguran. Karena peristiwa itu, aku menggugat cerai, tapi dia semakin marah dan kalap. kuputuskan sementara meninggalkan Solo dan tinggal dengan ibu mertua dari almarhum suamiku pertama yang mengasihiku seperti anak kandungnya. Beliau tinggal di salah satu kecamatan di kabupaten cilacap.
Selama dalam masa hijrahku kerumah mertuaku, adikku memproses perceraianku dengan suamiku. Mulanya dia menolak menceraikanku, tapi adik-adiku terus menekannya. Kalau akhirnya dia menceraikanku, dia memberi syarat tidak akan bertanggung jawab secara financial atas janin dalam rahimku. Buatku hal itu bukan sebuah masalah besar, aku masih bisa menafkahi diriku dan janinku. Akhirnya kami resmi bercerai pada 8 februari 2008.
Kembali aku menjalani kehidupan sebagai seorang janda, bedanya kini ada janin dalam rahimku, yang harus kujaga dan kurawat dalam keadaan hatiku yang tidak stabil. Meski aku membenci ayah dari janinku, tapi aku mencintai janinku. Kulalui hari-hari dengan sering mengajak janinku bercakap-cakap, membacakan alqur'an bersamanya, menyanyi untuknya dan banyak hal lain yang membuatku bisa melupakan kesedihan dan luka hatiku.

Bulan demi bulan berlalu. Pada tanggal 7 Mei aku merasakan kontraksi pada rahimku, kutunggu sampai bukaan menjadi purna, tapi sampai sepekan kemudian, bukaan tanda persalinan belum juga bertambah, dokter bulang baru bukaan 2. Karena kondisiku yang lemah setelah 1 pekan berlalu, pada 15 mei 2008 pk 20.00, dokter kandungan memutuskan aku harus menjalani operasi cesar. Dalam kesadaran yang perlahan menurun karena pengaruh anestesi, aku mendengar tangis anaku, laki-laki, sangat keras. Mataku basah, hatiku basah, dalam hati kukatakan padanya "selamat datang didunia anakku sayang, ummi mencintaimu." Aku baru meraih kesadaranku pk 23.30, ketika dokter mengatakan ternyata anakku mengalami Hipoglikemi, kadar gula darahnya cuma 5mg/dl dari normal 80mg/dl. Dalam usia 3 jam anakku harus diinfus glucosa.
Kehadiran putraku membuat hidupku lebih bercahaya, lelahku setelah berkutat dengan pasien sirna, saat memandang senyumnya, cahaya matanya, belum lagi kelucuan tingkahnya. Anaku tumbuh menjadi anaklaki-laki yang tidak cengeng, tidak rewel, sangat mudah mengurusnya, inilah sisi kemudahan yang Allah beri buatku sebagai orang tua tunggal untuknya.
Tak terasa usianya 8 bulan sudah. dia mulai duduk, merangkak, dan belajar berjalan dengan baby walker. Celotehnya mulai ramai menghiasi rumah dan kehidupanku. Tawanya membuat hari-hariku merona bahagia. Aku suka menggelitik perutnya dengan ciumanku dan itu membuatnya tertawa-tawa kegelian, berteriak-teriak menggemaskan. Apapun bersamanya, semua terasa indah. (hari ini kututup tulisan sampai di sini karena aku harus berhenti menulis, perutku lapar )

Kebersamaan yang indah dengan putraku tercinta ternyata hanya berlangsung sekejap. Hari-hari manis bersamanya harus pupus. 21 januari 2008, mendadak anakku sakit muntaber pada pukul 16.00. Segala cara medis yang kutahu kuupayakan untuk kesembuhannya. Di bawah pengawasan seorang dokter, di sebuah RS. Pukul 4 dinihari dia mulai panas dan kejang-kejang sampai akhirnya koma di ruang ICU, hatiku perih, melihat keadaan putraku, berbagai selang tertancap ditubuh mungilnya. Mulai selang infus sampai ventilator. Kisaran oksigen ditubuhnya menurun sampai di bawah 50 dari kisaran normal harusnya 90-100. Detak jantungnya begitu cepat, terikan nafasnya memburu berpacu dengan waktu, kulit mulus tubuhnya jadi merah membiru pertanda hipoxy, kekurangan oksigen.
Aku tergugu di sampingnya, menangis. Tapi segera kusadar, anakku tidak butuh tangisku, dia lebih butuh semangat dariku. Perlahan kubisikan di telinganya, "Sayang, ummi tau kamu anak ummi yang kuat, ayo dek, kita sama-sama berjuang agar adek sembuh, kita bantu para perawat dan dokter dengan do'a kita ya nak, adek berdoa dengan cara adek, ummi juga berdo'a, semangat ya sayang...ayoo nak semangat....ayo cinta, ayo tarik nafas panjang biar oksigenmu sampai 100, ummi tau anak ummi ini pinter, kuat dan hebat"
"Ayo sayang kita melantun dzikir, Allahumasyfii nak...adek ingat, adek pernah berjuang waktu adek baru lahir, adek bisa dengan izin Allah meraih kondisi terbaik untuk glukosamu, ayo sayang...ummi yakin ade pejuang hebat, mujahid ummi yang tangguh, ayo sayang...dalam darahmu ada darah ummi, maka kamu juga harus kuat ya nak...karena ummi juga berusaha jadi ibu yang tangguh buatmu..ayo sayang terus..terus..terus hirup oksugen sebanyak-banyaknya nak biar adek sehat bisa bercanda lagi sama ummi."
Menit demi menit berlalu, aku tak meninggalkkannya sedetikpun kecuali untuk sholat dan sekedar mengisi perutku dengan makanan karena aku butuh tenaga dan fisik yang sehat buat menjaga putraku. Pun makan kulakukan di sisinya.

Dengan sepenuh cintaku padanya aku berharap dalam do'aku agar Allah memberikan yang terbaik untuk kami. Aku masih terus membisikkan semangat cinta, dzikir cinta, kata-kata cinta untuknya, ketika perlahan dan perlahan oksigennya mencapai angka 90-100. Perawat bilang ini keajaiban. Dan Subhanallaha...pukul 21.00, 22 Januari 2208, anakku sadar, dia menolehkan kepalanya dan tersenyum padaku..."alhamdulillah anak ummi sudah bangun, jazakallah ya nak, adek sudah berjuang untuk bisa senyum lagi untuk ummi."
Kucium dan kubelai sayang putraku, dia tersenyum kian lebar dan berkata lirih, "mi...."
"Ya sayang, ummi di sini, adek istirahat ya nak, bobo lagi kalo ade ngantuk, ummi di sini menjagamu sayang...."
Kulantun dzikir dan doa sambil membelainya dengan cinta, dia tertidur sambil tersenyum. Tanpa kusadari, karena lelah, aku pun tertidur sambil duduk disisinya dan kepalaku rebah di sisi wajahnya.
Tiba-tiba kurasakan jilbabku ditarik-tarik, aku terbangun, ternyata anakku menarik-narik jilbabku dan tersenyum.
"Apa sayang? Maaf ummi tertidur, adek mau ngobrol lagi sama ummi?"
Anakku tersenyum manis, sangat manis...tapi tiba-tiba dia kejang...aku panik, dilayar monitor kubaca oksigennya drop..ya Allah...apa yang terjadi...? Baru saja dia sadar dan sekarang kembali kejang, aku panik dan berteriak...' susteeeerrrrrrr...tooloong...!!!."
Dalam sekejap perawat dan dokter berlarian menghampiri anakku. Mereka mengupayakan agar oksigennya kembali normal. Darahnya diambil lagi...ya Allah, air mataku menderas sambil terus berucap, "sayang..ayo nak..berjuang lagi, ayo dek, kamu pasti bisa, sayang...ummi mencintaimu nak, jangan menyerah nak..ayo sayang terus berjuang..."
Doa dan dzikir tak putus dari bibir dan hatiku. detik demi detik berlalu dalam kecemasan, sementara dokter dan para perawat terus berusaha menolong anakku.
Saat kularut dalam dzikir dan menyemangati anakku, dokter berkata, "bu, sudah ya diikhlaskan, putranya sudah pergi dengan tenang."
Mataku terbelalak menatap anakku, serasa tak percaya pada perkataan dokter, kucoba meyakinkan diriku... ya Allah akhirnya Kau ambil juga dia dariku. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun...
Tubuhku lemas, lunglai, aku semaput di pelukan adikku yang datang menemani saat anakku kritis menjelang ajalnya 30 menit yang lalu. Kulihat waktu menunjukkan pk 21.30, 22 Januari 2008.

Dalam beberapa saat aku menangis, dia satu-satunya anakku akhirnya harus pergi juga. Aku coba meraih kekuatan dengan memeluk jasadnya. Aku mencoba menguatkan diri dengan menciumi tubuhnya dan subhanallah...kucium harum tubuhnya, sangat harum sekali...bahkan 3 orang adik yang menemaniku mencium harum yang sama, harum khas yang hanya bisa ditimbulkan karena kesyahidan.
Perlahan tapi cukup bisa didengar beberapa sahabat yang saat itu langsung datang mendengar anakku meninggal, salah seorang adikku berkata, "Rosuulloh bersabda, "man mata fil bathni fahuwa syahidun, dan orang yang meninggal karena sakit perut dia syahid" dan aku bersaksi saat ini aku mencium harum tubuh syahidnya keponakanku karena diare yang dideritanya."
Dalam kesedihan aku mengaminkan ucapannya. Diare memang pemicu yang menyebabkan glucosanya drop sampai 13mg/dl dan oksigennya turun drastis. Kekuatanku kembali, meski masih menangis aku sanggup menggendong jasad anakku sampai pulang ke rumah bahkan ketika keesokan paginya aku sanggup memangku jasad anakku ketika dimandikan.
Setelah pemakaman lewat 2 hari, rumahku kembali sepi, sanak saudaraku kembali ke rumah mereka masing-masing. Aku larut dalam dukaku tiap kali memandang foto anakku, aku menangis dan menangis, sampai adikku berinisiatif menyimpan sementara semua foto, mainan, benda-benda dan pakaian anakku di rumah salah seorang saudaraku.
Aku mencoba mengatasi duka dengan menenggelamkan diri di perpustakaan pribadiku. Larut dalam buku-buku bacaan. Kucoba mencari hikmah dari kematian anakku. Lembar demi lembar halaman, buku demi buku kubaca hingga sering aku tertidur bertumpukan buku-buku yang kubaca.
Dua pekan berlalu, aku terus mencari dan mencari hikmah agar dapat melebur dukaku menjadi selarik bahagia, untuk menepis tangisku agas menjelma seulas senyum di bibir dan hatiku. Saat mataku teramat sangat lelah akibat kupaksakan mengakomodasi bacaan, saat letih mendera tubuh setelah berhari-hari berkutat dengan buku-buku kutemui sebaris kata yang.....pllllaaassshhhhh.....memecah dukaku, menepis tangis menjadi syukur. kalimat itu adalah "Sesungguhnya bila seorang ibu mendapatkan kematian putranya, lalu ia mengucapkan hamdalah dan istirja, maka Allah akan membangunkan Baitul-Hamd baginyadi surga" (HR: Tirmidzi dan Ahmad)
Subhanallah...masya allah...betapa Allah sayang padaku. Aku belum lagi berbuat kebaikan yang banyak, tapi Allah menganugrahkan padaku janji yang pasti, SURGA...siapa yang tak hendak menuju dan mendiaminya?
Aku bangkit dari dukaku, kuhapus airmataku dan kutekadkan buat menghadapi hari-hari ke depan yang kutahu masih teramat panjang. Allah telah mengambil putraku, tapi digantikan dengan surga untukku. Ya Rahman...betapa maha kasih Engkau...telah Kau siapkan surga untukku, dan telah Kau siapkan putraku untuk menjemputku di pintu surgamu...maka adalah tugasku membuka pintu surgaMu dengan perbuatan baik yang akan memberiku kemudahan-kemudahan untuk menujunya.
Aku mulai menata hari-hariku, hidupku, mengoperasionalkan lagi klinik yang kututup selama 2 pekan. Meski kadang masih luruh air mata karena rinduku pada anakku, tapi airmata justru jadi pelecut asa dalam tangis rinduku.

Satu pekan sudah aku berkutat lagi dengan klinik dan aneka pasien yang datang padaku. Lagi dan lagi Allah tak pernah biarkan diriku untuk diam tanpa "membaca." Dikirimkannya padaku pasien-pasien cilik, bayi-bayi dan anak-anak dengan beragam penyakit. Betapa mereka menderita berbilang bulan dan tahun dalam penyakit mereka. Betapa orang tua mereka mengalami masa-masa sulit dan ujian kesabaran menghadapi sakit anak-anak mereka. Betapa mereka belum lagi tahu kesudahan dari penyakit anak-anak mereka...ooo ya Rahim....betapa aku layak bersyukur, anakku tak lama dalam derita sakitnya, betapa aku harus bersyukur tak payah ujianku dalam sakit anakku, betapa aku harus sangat bersyukur dengan kesudahan yang baik dari sakitnya anakku dan betapa..ya Robb... Kau beri imbalan dengan janji surgaMu atas musibah yang kuhadapi.
Belum lagi aku selesai "membaca" ayat-ayat kauniyahNya, seorang ukhti datang padaku dengan tausyiahnya "Kita telah menjual diri kita kepada Allah, dihadapan kita tidak ada pilihan lain kecuali menyerahkan apa yang telah kita jual kepada yang membelinya. Dan ketika pembeli telah menerima apa yang dibelinya maka dia berhak melakukan apa saja atas apa yang dibelinya, bisa dia memelihara ataupun membunuhnya, bisa memakaikan pakaian terindah atau membuatnya telanjang. Layakkah kita marah jika seseorang membeli seekor kambing dari kita lalu dia menyembelih kambing yang dibelinya? Pantaskah kita gundah karenanya? Sesungguhnya Allah telah membeli jiwamu dari dirimu, dan engkau berusaha menyerahkan barang yang sudah dibeli dan menerima harga yang sangat pantas, dan janganlah menyerahkan barang dagangan yang ada aibnya, sedang engkau ingin menerima harga secara utuh, Dia lah yang berkuasa atas dirimu dan bukan dirimu sendiri."

Aku tersungkur dalam sujud dann tangis syukurku. Ketika anakku lahir dalam segala kesulitan yang kualami aku telah meniatkan dan melisankan "Ya Allah, alhamdulillah atas anugrah anak laki-laki dalam hidupku, saksikan ya Robb, aku menjual anakku di jalanMu, jadikan dia anak yang sholeh, tumbuh kembangkanlah dia dengan sehat, jadikan dia mujahid penegak din MU dimuka bumi, syahidkan dia diakhir hidupnya, karena kujual dia padaMU seharga surgaMu"
Aku kian disadarkan bahwa Allah tak pernah salah dalam setiap kehendaknya, Dia telah membeli jiwa anakku dengan harga yang kuminta. Fabbi ayyi a'lla i robbikuma tukadzibaaan...maka nikmat Robb mu yang mana yang bisa kau dustakan? Masya Allah...
Senyum kian rekah di bibirku. Pelangi kian rona di jiwaku. aku menapaki hari-hari hingga saat aku menuliskan semua ini dengan sebuah kesyukuran yang amat sangat. Duka telah mengajarkan padaku banyak hal. Duka telah menjadi sekolah buatku belajar lebih baik dengan guru yang maha baik, maha segalanya...Allah, Ar Rahman, Ar Rahim...Dia lah guru terbaik dalam kehidupanku.
Lihat..bukankah kesedihan itu indah, manakala kita mampu menyingkap lapis demi lapis hikmah yang tersembunyidi dalamnya. Meski demikian kita harus berjuang utnuk mendapatkan keindahan di balik setiap kesedihan. Meski kita harus berjuang untuk mengalahkan pikiran negatif dari cupet dan sempitnya akal dan nafsu kita yang seringkali membujuk kita untuk lunglai, layu, terpuruk dalam kesedihan.
Kesedihan itu indah, karena Allah Maha Indah dalam setiap kehendakNya.

(Rampung kutulis, 24 Februari 2008, pk 11.43, dengan segala persembahan cinta buat Robbku dan anakku Daffa Rifqy Rizqurrahman, "tunggu ummi di pintu jannah ya nak...")
TV OnLine
This text will be replaced

"Hot News" "Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami perkenankanlah doaku. Ya Tuhan kami berikanlah ampunan kepadaku dan kepada kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)" (QS. Ibrâhîm: 41-42)