Tausiah Teh Nini "Lima Kiat Datangkan Jodoh"

Ya Alloh, Beri Kami Surga Kecil

Allah, beri kami surga kecil Rumah syhadu berhias rahmah. Di sana tergelar helai-helai sajadah Tempat kami berpinta dan bermunajah
Allah beri kami surga kecil, Istana mungil bertahta sakinah. Tempat kami berteduh melepas lelah Ranjang kokoh bertabur berkah Tempat malam-malam kami dipeluk mimpi indah
Allah, beri kami surga kecil (sebuah sumber)

Ada yang enggan menikah. Bukan ada lagi, bahkan banyak. Salah satu alasan yang paling sering hinggap di telinga adalah kemapanan. Belum punya rumah tinggal. Belum berpenghasilan tetap. Bahkan salah seorang teman kampus menyatakan ia akan menikah setelah mempunyai rumah dan kendaraan beroda empat. Kalau rumah dan mobil belum termiliki, menurutnya kebahagiaan menikah tidak akan ada. Kalau tidak bahagia, buat apa menikah!
Tapi benarkah kebahagiaan menikah melulu terletak pada kemapanan dan ketersediaan materi? Benarkah sakinah terengkuh kalau sudah punya hunian yang nyaman, kendaraan berkelas dan penghasilan yang mencapai nominal tertentu. Bisa jadi demikian tapi sepertinya saya harus menggelengkan kepala. Saya teringat pada seseorang. sahabat karib saya.

Entah di mana ia sekarang. Yang jelas kehidupan ekonominya naik kelas. Lelaki yang menikahinya orang kaya dan mempunyai pekerjaan di tempat yang kata orang 'basah'. Sewaktu dia menikah orang-orang menganggapnya beruntung karena mendapatkan jodoh yang demikian yahud. Suatu ketika Allah memperkenankan kami bertemu. Yupe, ia terlihat lain. Dandanan orang 'berpunya'. Kami mengobrol. Iseng-iseng saya membuka majalah dan menunjukkan kepadanya iklan perumahan. Saya bilang alangkah senangnya punya rumah megah seperti itu. Tapi jawabannya membuat saya terdiam.
"Ah kata siapa punya rumah kaya gitu menyenangkan, siap-siap aza suaminya selalu bergelut dengan pekerjaan, pulang larut pergi dini hari, yang di kepalanya cuma bisnis, waktu baginya adalah uang, mau punya anak aza berhitung minta ampun, kita memang berlimpah harta, tapi di sini sepi," urainya sambil menunjuk dada. Nampak sekali ia gundah. Dan curhatlah ia. Tumpah ruah.
Saya memandangnya lekat. Sama sekali tidak menyangka bahwa menurutnya kebahagiaanya terenggut sejak pertama ia menikahi seseorang yang dipilihkan orang tuanya, beberapa tahun yang lalu. Ia berlimpah kekayaan tapi sungguh ia tidak bahagia.***
Ini kisah lain. Suaminya sekarang mapan. Sofa mahal itu bukan lagi masalah dan ruang tamunya terlihat lain. Lebih indah dan nyaman. Rumahnya baru direnovasi. Lantai keramik, kitchen set lengkap, kamar mandi ber-shower, belum lagi alat-alat rumah tangga serba elektronik yang ikut diganti menjadi baru dan lebih canggih. Hidupnya menjadi lebih mudah. Dan setiap pulang kampung dengan mobil barunya, maka ia pasti dipuji-puji karena tangan yang ia tempelkan ketika salaman tidaklah kosong.
Orang-orang menganggap bahwa kebahagiaan adalah kini miliknya. Tapi tunggu dulu! Justru saat-saat sekarang ia jarang mengembangkan senyuman. Jika dengan seksama memperhatikannya, kekhawatiran itu dominan terlihat. Bahkan ia berubah menjadi seorang ibu yang murung dan pemarah. Kesalahan anak-anaknya yang sepele membuatnya menjadi pemberang.

Rumah 'impiannya' berubah megah. Tapi segalanya juga berubah. Suaminya sedikit demi sedikit menjelma diktator yang menciutkan keberadaanya. Titah suaminya sedikitpun tak boleh dicela. Jika suaminya berkata A maka seisi rumah harus utuh menelannya bulat-bulat. Tak ada lagi suami yang senang bercanda dan meleburkan kepenatan kesehariannya. Entah ke mana sosok suami sabar, penyayang dan suka membantu pekerjaan domestiknya. Suaminya berubah menjadi seorang yang asing. Dan hal ini yang membuatnya dadanya sesak, membuat air matanya luruh diam-diam dan menguras energinya untuk tersenyum. Iya kalau materi menjadi berlimpah, tapi ketentraman bathinnya terkikis habis-habisan. Iya jika uang belanja menjadi berlipat-lipat tapi suaminya menjadi sok kuasa dan sering melecehkannya. Yang memilukan adalah suaminya marah-marah jika diingatkan untuk mendirikan shalat.
Kemapanan telah tergenggam, tapi apakah berbanding lurus dengan kebahagiaan yang berkelindan dalam dadanya? Tidak!

Saya jadi teringat dengan pesan almarhum ayah. Menurutnya harta bukan jaminan untuk mewujudkan keluarga bahagia. "Harta hanya sementara, sedangkan kebahagiaan seharusnya tetap hadir meski tanpanya," itu katanya suatu saat. Ia menambahkan, yang paling penting dan harus selalu ada dalam rumah tangga adalah pilar agama bukan pilar beton megah. Tanpa agama keluarga seperti minyak wangi dalam botol yang tidak ada katupnya. Semerbaknya hanya sementara, wanginya perlahan menghilang terbawa angin. Indahnya hanya di awal-awal saja. Manisnya berada di permulaan. Seiring waktu berjalan, mereka lupa misi pelayaran keluarga. Dan ketenangan itu sirna. Padahal tujuan berkeluarga adalah merengkuh ketenangan. Maka tak heran ada yang tidak betah lagi tinggal di rumah. Rumah megah itu hanya menjadi tempat singgah. Itu alegori ayah yang saya kenang sampai sekarang.

Siapapun orangnya tentu berkeinginan membangun keluarga penuh kebahagiaan. Karena apa? Karena keluarga bahagia adalah surga. Surga kecil yang Allah hadirkan sebelum surga akhirat dengan segala keindahan dan kenikmatan itu kelak. Keluarga bahagia adalah surga, karena di sana mereka betah bernaung dan menjadi tempat yang paling ingin disinggahi.
Surga kecil. Yah, surga yang hadir terlalu awal. Keluarga yang sakinah.
Allah, beri kami surga kecil!
***
Husnul Mubarikah
* Untuk pengirim artikel "Sepiring Berdua", mudah-mudahan Allah menganugerahi kita surga kecil itu.

Selamat Tahun Baru Islam 1429 H

Oleh Rubina Qurratu'ain Zalfa

Tahun baru Islam atau tahun baru Hijriah 1 Muharram, bukan hari raya agama, meski dinyatakan sebagai hari libur nasional. Perayaan Tahun Baru Islam juga tidak semeriah perayaan Tahun Baru Masehi. Namun Tahun Baru Hijriah memiliki makna penting bagi umat Islam, menjadi bagian sejarah Islam yang menandai perjuangan berat seorang Rasulullah Muhammad Saw dalam menyebarkan risalah Islam dan menjadi sebuah awal perubahan bagi umat Islam, terutama dari sisi spiritual.

Tahun Baru Hijriah yang didasarkan pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad Saw bersama kaum Muslimin dari Makkah ke Madinah, bukan sekedar hijrah secara fisik tapi juga hijrah secara drastis dari sisi mental. Seperti yang diungkapkan oleh sahabat Rasulullah, Umar bin Khattab tentang hijrahnya Nabi Muhammad Saw, bahwa "Hijrah itu membedakan antara yang hak dan bathil. "Oleh sebab itu, umat Islam selayaknya tidak memandang tahun baru Islam hanya sekedar pergantian tahun biasa seperti ketika kita merayakan tahun baru Masehi. Tapi mencontoh semangat hijrah Rasulullah terutama dari sisi mental dan spiritual, dengan lebih memurnikan keimanan dan ketaqwaan kita pada Allah Swt. Menguatkan tekad dan niat untuk melakukan pembaharuan drastis dan membebaskan diri dari kebathilan dan dari cinta dunia menjadi cinta hanya kepada Allah Swt.

Mampukah kita? Melakukan perubahan drastis memang bukan perkara yang mudah, butuh kemauan kuat dari dalam diri kita sendiri untuk bertindak revolusioner. Namun tak ada kata susah, jika kita memang ingin mengisi sisa waktu kita hidup di dunia dengan perbuatan baik dan mengejar pahala semata-mata karena Allah Swt. Kalau tidak dari sekarang kapan lagi?Yang paling ringan mungkin bermuhasabah dan sedikit demi sedikit meninggalkan kebiasaan yang merugikan amaliyah diri kita sendiri. Apa saja kebiasaan yang merugikan itu, mungkin berbeda-beda antara individu yang satu dengan yang lain, dan diri kita sendirilah yang paling tahu kelemahan masing-masing.

Mengutip kalimat Kyai Haji Abdullah Gymnastiar alias AA Gym, mulailah dari hal yang kecil, dari diri sendiri dan dari sekarang. Mudah-mudahan, perubahan-perubahan kecil ini akan makin mendewasakan kita dan meningkatkan kecintaan kita padaNya. Yang terpenting adalah, mari kita luruskan niat untuk "hijrah" karena mengharapkan ridho Allah Swt semata. "Sesungguhnya amalan itu bergantung pada niatnya. Barang siapa yang berhijrah karena Allah dan Rasulnya, hijrahnya (akan diterima) sebagai hijrah karena Allah dan Rasulnya... " (HR Bukhari dan Muslim).
Semoga Allah Swt senantiasa membimbing kita ke jalanNya dan serta memberi hidayah dan rahmatNya pada kita semua, dan pada bangsa ini yang sedang dilanda ujian musibah dan bencana bertubi-tubi.

Selamat Tahun Baru...
Jakarta, 1 Muharram 1429 H
rubina_zalfa@yahoo. Com

7 Faktor Kehancuran Keluarga

Di dalam rumah tangga selalu memiliki rintangan dan penyebab kehancuran, dalam pandangan Psikofitrah ada 7 penyebab kehancuran keluarga. Kehancuran keluarga ditengah masyarakat berarti juga kehancuran satu bangsa sebab keluarga adalah cermin dari satu bangsa.

1. Akidah yang keliru atau sesat,
Misalnya mempercayai kekuatan dukun, magic dan sebangsanya. Bimbingan dukun dan sebangsanya bukan saja membuat langkah hidup tidak rationil, tetapi juga bisa menyesatkan pada bencana yang fatal.

2. Makanan yang tidak halalan thayyiba.
Menurut hadis Nabi, sepotong daging dalam tubuh manusia yang berasal dari makanan haram, cenderung mendorong pada perbuatan yang haram juga (qith`at al lahmi min alharam ahaqqu ila an nar). Semakna dengan makanan, juga rumah, mobil, pakaian dan lain-lainnya.

3. Kemewahan.
Menurut al Qur'an, kehancuran suatu bangsa dimulai dengan kecenderungan hidup mewah, mutrafin (Q/17:16), sebaliknya kesederhanaan akan menjadi benteng kebenaran. Keluarga yang memiliki pola hidup mewah mudah terjerumus pada keserakahan dan perilaku menyimpang yang ujungnya menghancurkan keindahan hidup berkeluarga.

4. Pergaulan yang tidak terjaga kesopanannya (dapat mendatangkan WILdan PIL).
Oleh karena itu suami atau isteri harus menjauhi "berduaan"dengan yang bukan muhrim, sebab meskipun pada mulanya tidak ada maksud apa-apa atau bahkan bermaksud baik, tetapi suasana psikologis"berduaan" akan dapat menggiring pada perselingkuhan.

5. Kebodohan.
Kebodohan ada yang bersifat matematis, logis dan ada juga kebodohan sosial. Pertimbangan hidup tidak selamanya matematis dan logis, tetapi juga ada pertimbangan logika sosial dan matematika sosial.

6. Akhlak yang rendah.
Akhlak adalah keadaan batin yang menjadi penggerak tingkah laku. Orang yang kualitas batinnya rendah mudahterjerumus pada perilaku rendah yang sangat merugikan.

7. Jauh dari agama.
Agama dalah tuntunan hidup. Orang yang mematuhi agama meski tidak pandai, dijamin perjalanan hidupnya tidak menyimpang terlalu jauh dari rel kebenaran. Orang yang jauh dari agama mudah tertipu oleh sesuatu yang seakan-akan "menjanjikan" padahal palsu.

Wassalam,
Agussyafii

MAAF "Ketika aku harus berbagi istri"

Ketika aku menikahi wanita yang sekarang menjadi ibu dari dua anakku, aku sempat merasa dia akan menjadi milikku sepenuhnya. Ternyata aku harus berbagi dengan yang lain. Ketika aku menjadi suami dari istri yang begitu menyadari kodratnya sebagai muslimah, aku sempat merasa, aku memiliki kekuasaan penuh terhadap dirinya. Ternyata kekuasaanku tidak sepenuhnya menguasai dirinya.

Ketika aku dan istriku yang telah banyak berkorban demi diriku, bersepakat setelah menikah untuk terus berjuang menegakkan agama Allah, aku sempat merasa apapun yang terjadi seorang istri harus sepenuhnya di bawah kendali suami. Ternyata istriku memiliki kendali untuk dirinya sendiri.

Ketika Allah mulai menguji tekad kami berdua untuk terus berjuang di jalan-Nya, aku mulai sadar, kalau aku harus berbagi istri dengan Sang Maha Pemilik Segalanya di Dunia ini. Bahkan seharusnya, aku tidak punya kekuasaan untuk memiliki ataupun mengendalikan istriku sepenuhnya. Istriku seratus persen milik Allah. Istriku seratus persen berada dalam genggaman Sang Maha Bijaksana.

Sedangkan aku.....aku....aku hanyalah suami yang juga seratus persen dalam genggaman Allah. Aku hanya menerima titipan amanah dari Allah, yang sewaktu-waktu dapat Dia ambil kembali. Aku hanya bertugas menjaga istriku, tapi bukan berarti memiliki sepenuhnya.

Dalam berjuang menegakkan agama Allah, kami bersepakat untuk menjadi pelayan Sang Maha Pencipta, guna melayani hamba-hamba-Nya. Maka aku harus siap berbagi istri dengan jamaah. Meskipun terkadang muncul ketidakikhlasan dalam hatiku.

Yah, aku hanya manusia biasa yang masih terus memperbaiki diri. Aku hanya seorang suami yang biasa-biasa saja, yang masih harus banyak berilmu.
Duhai istriku, doakan selalu agar suamimu tetap ikhlas, untuk bisa berbagi dirimu dengan Allah, hingga suatu saat nanti, suamimu benar-benar memiliki keikhlasan mutlak. Amin.

Dari suamimu yang masih terus belajar ilmu ikhlas....
Rico Atmaka
Koordinator Majelis Sehati Daarut Tauhiid Jakarta

Jangan Mudah Mengaku Sibuk


Oleh Meralda Nindyasti

“Maaf, saya terlambat memberi kabar. Ada kesibukan yang teramat nyata yang harus saya jalani di kampus. Sekali lagi.. maaf, saya baru sempat. “ kurang lebih SMS itulah yang kubaca dari salah seorang teman SMAku dulu.
Kata-kata yang terangkai dalam SMS itu cukup membuatku geli. Kalimat itu cukup santun, esensi dari kalimat itu pun tak sekali ini aku mendengar ataupun membacanya. Bukan lagi dari 1 atau 2 orang, lebih bahkan…Hmm, dan mungkin aku pun pernah berucap seperti itu, seingatku lebih dari sekali juga.

Ada hal yang menarik, cukup menginspirasi. Kalimat itu mengajakku merenung. Ya, aku sempat tak habis pikir.. pernah diri ini mengaku sibuk, padahal statusku masih mahasiswa. Tentu ucapanku ini belum bersesuaian. Bahkan aku menghakimi diri sendiri karena berucap itu. Kenapa? Karena dalam paradigmaku, kalau saat mahasiswa saja sudah berani mengaku sibuk, maka bagaimana jika sudah bekerja dan berumah tangga?
Berbicara masalah berkeluarga, maka ada dua kosakata yang menjadi kunci, yaitu waktu dan tanggung jawab. Kalau seseorang sudah berkeluarga, bertambahlah amanahnya. Bagi seorang laki-laki, ada amanah untuk menjemput rejeki, menjadi ayah bagi anak-anaknya, menjadi suami bagi isterinya, menjalani profesi pekerjaannya, menjadi anak bagi ayah ibunya, dan jika ia adalah sosok orang yang andil dan berpengaruh terhadap lingkungannya, maka amanah-amanah itu belum masuk hitungan. Ya, begitu pula dengan wanita.

Sekali lagi, aku sampai tak habis pikir, masih berstatus mahasiswa saja sudah berani mengaku sibuk. Sekalipun bukan mahasiswa biasa, dalam arti tak hanya belajar akademik tapi juga non akademik. Tapi itu sungguh bukan alasan bagiku untuk mengaku sibuk. Waktu ku sebagai mahasiswa dengan waktu mereka yang sudah berkeluarga, pun dengan waktu para pemimpin bangsa tetap sama. Sehari 24 jam. Padahal tanggungjawab mereka tentu melebihi diriku.

Jangan mudah berkata sibuk. Karena Rasulullah tidak pernah mengajarkan kita seperti itu. Aku masih bisa membayangkan semulia apa sosok beliau. Dengan berbagai macam amanah dan tanggungjawab yang ada di pundak beliau, tetap, tetap peduli dan selalu melayani. Beliau, seorang pengelola bisnis yang diinvestasikan bunda Khadijah. Beliau lah enterpreneur dengan sifat nabawi:shiddiQ (jujur), amanah (capable), fathanah (smart) dan tabligh (informatif). Beliau, seorang panglima perang, selama 10 tahun di Madinah ada sekitar 300-an detasemen yang beliau bentuk dan berangkatkan. Beliaulah pemimpin negara yang saat menjadi imam shalat, masih sempat bertanya “Di mana si Fulan? Mengapa ia tidak nampak? “. Namun, tetap.beliau begitu tak lalai dalam mengemban amanahnya yang lain, sebagai suami, ayah, teman, dan tetangga. Dan, bandingkan dengan kita, sungguh.. belum seberapa.

“Maaf, saya sibuk “. Ya, tiga kata yang bisa membuat jiwa-jiwa yang mengharap uluran tangan kita menjadi sungkan meminta bantuan kita. Tiga kata yang mampu membuat saudara yang semula ingin berbagi duka dengan kita, kini menjadi enggan karena khawatir makin menyita waktu kita. Inagtkah? Dalam tiap waktu kita, ada hak-hak saudara kita. Dan bisa jadi 3 kata itu menjadi alasan kita untuk lalai memenuhi hak mereka. Tiga kata yang mungkin sering menjadi alasan untuk kita lupa melantunkan bait-bait doa untuk saudara-saudara kita.

Pff, tidak baik jika aku mengeluh dengan mengaku sibuk dan tidak baik jika kepedulian ini merapuh dengan mengaku sibuk. Karena itu, jangan mudah mengaku sibuk, karena masih banyak sisi kehidupan yang belum terjamah. Masih banyak tantangan ummat yang belum terselesaikan. Kerena Islam membutuhkan kontribusi kita lebih besar. Ya, menjadi sebaik-baik hamba yang banyak memberi manfaat. Ya, Totalitas dalam peduli dan melayani.

Moslemalda@yahoo. Com
TV OnLine
This text will be replaced

"Hot News" "Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami perkenankanlah doaku. Ya Tuhan kami berikanlah ampunan kepadaku dan kepada kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)" (QS. Ibrâhîm: 41-42)