Tausiah Teh Nini "Lima Kiat Datangkan Jodoh"

Pacaran..!! Membuang Masa Menuai Dosa

Oleh Ary Nur Azizah

Sepucuk email yang datang dari adik perempuan membuat saya terus menerus tersenyum. Malah bahkan tertawa ketika sampai pada cerita tentang para keponakan. Alhamdulillah. Satu kekhawatiran di hati saya menguap tiba-tiba, saat membaca bait demi bait kisahnya. Bahwa ia demikian bahagia bersama keluarga kecil yang mereka bina sejak empat tahun lalu itu. Bahwa ia mendapatkan suami yang sangat mengerti dirinya. Subhannallah, Allahu Akbar!

Lantas, siapa bilang untuk mendapatkan kebahagiaan dalam pernikahan seperti yang kini ia raih, harus melewati tahap berpacaran terlebih dulu? Siapa yang begitu yakin, bahwa memilih pasangan hidup harus melalui waktu panjang untuk saling menjajagi ?

Jika kita termasuk didalamnya, saya pikir, inilah saatnya bagi kita untuk mulai mengubah paradigma tersebut. Karena ternyata itu semua tidaklah benar! Tak perlu membuang waktu percuma hanya demi mengukir dosa sepanjang hari bersama seseorang yang jelas-jelas bukan muhrim kita. Jika sudah siap lahir batin, lebih baik, bersegera menikah! Sebab Allah telah menjanjikan hidup kita menjadi penuh berkah karenanya.

“Di antara tanda-tanda (kebesaran dan kekuasaan) Allah adalah Dia menciptakan dari jenismu pasangan-pasangan agar kamu (masing-masing) memperoleh ketenteraman dari (pasangan)-nya, dan dijadikannya di antara kamu mawaddah dan rahmah.Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir (QS Ar Rum:21)”

Terus terang, kami sekeluarga sempat meragukan kebahagiaannya. Terlebih keluarga besar kami. Mereka bahkan tak ragu untuk menanyakan ulang keseriusan adik tentang rencana pernikahannya yang boleh dibilang dadakan.
Namun ia benar-benar yakin dengan keputusannya untuk mengakhiri masa lajang bersama seorang pria, hasil ‘pencarian’ sang murobbi. Sedangkan kami sungguh khawatir. Ia masih sangat belia kala itu. Bangku kuliah pun baru ditinggalkannya beberapa bulan berselang. Dan kekhawatiran kami semakin menjadi manakala kami tak sedikit pun mengenal calon suaminya.

Maka, pertemuan dengan orang tua pun diatur sedemikian rupa. Hampir setiap Ahad, selama lebih kurang dua bulan, si ikhwan datang untuk berdiskusi dengan Bapak, sebagai upaya saling mengenal lebih dekat. Sedangkan adik saya, tak pernah sekali pun di rumah saat masa diskusi itu berlangsung. Saya semakin heran. Dalam benak saya timbul pertanyaan besar, apakah ia tidak ingin mengenal lebih dekat calon suaminya? Tak maukah ia tahu lebih banyak, dan berbincang lebih akrab dengan seseorang yang akan menjadi teman hidupnya? Jika tidak dimulai sejak masa sebelum menikah, apakah mungkin mereka akan menjadi akrab sesudahnya, setelah pernikahan itu benar-benar terjadi?Wah, pertanyaan di otak saya semakin banyak. Sayang, tak satu pun terjawab olehnya. Adik saya selalu menghindar jika saya utarakan teka-teki di benak saya.

Kami pun akhirnya nurut. Dengan bekal husnudzan dan beribu doa, tanpa menunggu terlalu lama, terselenggarakanlah pernikahan sederhana itu.
Waktu terus berputar. Kehidupan baru yang dijalaninya tidaklah mudah. Beberapa kali cobaan menghampiri mereka. Namun, ternyata sakinah itu tumbuh demikian cepat di antara mereka. Pun iman membaja di dada, membuat mereka mampu menyelesaikan semua persoalan dengan baik. Alhamdulillah. Dan kini, adalah waktu di mana kehidupan mereka berada pada titik yang teramat baik. Perjuangan, keikhlasan dan kesabaran telah dibalas oleh Allah dengan limpahan beribu rahmat. Kemurahan rizki pun mereka dapat. Subhannallah!

Belakangan saya baru tahu, bahwa mereka juga mengalami masa penjajagan, pengenalan, tetapi sesuai dengan syariat agama kita. Tanpa pertemuan intens, tanpa berdua-duaan berteman setan.

Maka, masih adakah yang ragu untuk melangkah ke jenjang pernikahan tanpa melewati masa-masa perzinahan itu? Tidak inginkah kita memasuki sebuah babak suci dalam hidup, tanpa mengotorinya terlebih dahulu? Tidak maukah kita membuang masa menuai dosa, dan berharap yang lebih berkah dari Allah?
Astaghfirullahal adziim…
Wallahua’lam bishshowwab
Antariksa0102@yahoo.com

Gagal lagi ? Cari lagi...!!!

oleh Yudimuslim

Patah satu tumbuh seribu, mungkin ini adalah pepatah yang sudah sangat akrab ditelinga kita. Dan sudah sangat sering kita dengan dalam kehidupan sehari-hari. Tapi sayangnya tidak banyak dari kita yang dapat merealisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Terutama dalam perihal mencari jodoh. Dipostingan saya yang lalu, saya sudah membahas masalah mengejar atau menjemput jodoh. Lantas timbul pertanyaan bagaimana jika gagal?

Banyak diantara kita yang selalu larut dalam kegagalan dan kesedihan yang berkepanjangan. Padahal, diluar sana masih banyak wanita dan pria lain yang mungkin adalah jodoh kita. Mengana kita harus berdiam diri dan menangis tersedu-sedu? Apa karena kita patah hati? Jika benar, itu berarti salah kita sendiri siapa suruh menempatkan cinta ditempat yang salah.

Tidak ada alasan bagi kita untuk berdiam diri apalagi mundur dalam mencari jodoh. Karena waktu dan umur akan terus bertambah bukan berkurang. Pahami hal itu! Jika umur terus bertambah tua dan sudah tidak ”laku” lagi maka ini semua adalah salah kita sendiri. Karena kita hanya duduk dan termenung dalam khayalan serta menangisi kekasih yang bukan jodoh kita.

Kegagalan demi kegagalan itu adalah sebuah proses untuk mencapai kesuksesan. Tidak ada orang yang sukses tanpa kegagalan. Nabi saja pernah gagal dalam dakwah di Mekkah, tapi bukan lantar dengan serta merta harus mundurkan? Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa orang yang sudah mendapatkan jodohnya—bukan pacar—itu tidak mungkin tidak pernah gagal dalam masa pengharapan dan pencariannya.

Tidak ada yang perlu ditangisi! Tidak ada yang perlu dipusingkan dan disesali!
Tapi berusahalah terus tanpa menyerah dan tanpa putus asa.
Tangis dan air mata itu tidak akan mendatangkan jodoh melainkan hanya menghabiskan energi yang ada. Yang seharusnya energi itu kita gunakan untuk ikhtiar dan berdoa, sembari mengoreksi diri sendiri. Siapa tahu kegagalan itu datang dari diri kita sendiri. Mungkin saja karena target yang muluk-muluk tapi tidak sesuai dengan kapasitas dan kualiti yang ada.
Bukankah Allah telah menakdirkan bahwa laki-laki baik-baik adalah untuk wanita baik-baik dan begitupun sebaliknya.

Jangan terlalu banyak berkhayal jika ingin yang terbaik tapi usaha belum memadai. Kenali pontensi diri, belilah cermin yang besar dan bercerminlah. Tidak usah mengeluh saat energi habis, tapi lakukanlah recharge energi secepatnya. Dan mulailah mencari lagi.

Wallahu`alam.
Wassalamu`alaikum wr wb

Let’s Be Wise People

Oleh Setta

Seorang anak lahir setelah 11 tahun pernikahan mereka—pasangan yang saling mencintai itu. Dan anak itu adalah buah hati mereka. Suatu pagi di rumahnya, saat anak tersebut berumur dua tahun, sang ayah melihat sebuah botol obat yang terbuka. Akan tetapi, pagi itu dia sudah terlambat untuk ke kantor. Maka dia meminta isterinya untuk menutupnya dan menyimpannya di lemari. Isterinya—karena kesibukannya di dapur, sama sekali lupa tentang pesan suaminya tersebut.

Anak itu melihat botol obat yang terbuka itu dan dengan riang memainkannya. Karena tertarik dengan warna obat tersebut lalu si anak menelannya semua. Obat tersebut adalah obat yang keras yang bahkan untuk orang dewasa sekalipun hanya dibolehkan dalam dosis kecil saja sekali minum. Sang isteri segera membawa si anak ke rumah sakit. Tapi si anak tidak tertolong. Sang isteri ngeri membayangkan bagaimana dia harus menghadapi suaminya.
Ketika si suami datang ke rumah sakit dan melihat anaknya yang telah meninggal, dia melihat kepada isterinya dan mengucapkan tiga kata.

Ya, sang suami hanya mengatakan, “AKU BERSAMAMU, SAYANG.”
Reaksi sang suami yang sangat tidak disangka-sangka itu adalah sikap yang proaktif. Si anak sudah meninggal, tidak bisa dihidupkan kembali. Tidak ada gunanya mencari-cari kesalahan pada sang isteri—karena jika seandainya isterinya menyempatkan beberapa detik saja untuk menutup dan menyimpan botol tersebut, maka hal ini tidak akan terjadi.
Tetapi hal itu tidak dilakukannya. Dan memang tidak ada yang perlu disalahkan. Si isteri juga kehilangan anak semata wayangnya. Apa yang si isteri butuhkan saat ini adalah penghiburan dari sang suami—dan itulahyangdiberikan suaminya sekarang. [1]
#
Suatu masa, saya pernah mengalami situasi di mana saya berada pada posisi seperti si isteri dalam kisah di atas.
Sore itu, saya baru menyelesaikan UAS hari terakhir setelah tiga minggu berjuang untuk mendapatkan nilai terbaik. Tetapi, saya sudah pesimis tidak akan bisa memenuhi target yang sudah saya canangkan di awal semester enam bulan sebelumnya. Bahkan ujian terakhir hari itu saya tutup dengan sangat mengecewakan. Saya hanya berhasil menjawab dengan yakin dua soal dari jumlah enam soal yang diujikan.

Ba’da maghrib, dengan perasaan bersalah dan menyesal karena merasa telah menyia-nyiakan amanah kuliah di semester itu, saya memberanikan diri mengabari orangtua via sms. Sungguh saya sudah ketakutan lebih dulu. Takut membayangkan reaksi mereka setelah membaca isi sms yang saya kirimkan—tentang kegagalan saya dalam menempuh UAS. Saya takut mereka akan memarahi saya saat itu juga.
Tak menunggu lama setelah dua sms saya terkirim, sebuah balasan dari ayah saya masuk. Dengan jari gemetar, saya memencet keypad untuk membaca sms itu.
“Alhamdulillah selesai tanpa aral. Yang penting, kami—ayah dan bunda—hargai adalah komitmen, keseriusan, dan progres ikhtiarnya. Out put-nya hanya untuk bahan evaluasi yang bersiklus....”

Adalah benar, sms itu masih berlanjut dengan nasihat-nasihat yang sangat menggugah relung hati saya dan sekaligus semakin memojokkan saya pada rasa bersalah yang semakin berlipat. Tetapi, coba bacalah "awalan" dari sms ayah saya di atas sekali lagi.
Beliau tidak memvonis saya bersalah secara langsung dan vulgar. Namun sebaliknya, pertama-tama beliau justru menenangkan hati saya dengan ucapan hamdalah karena saya telah berhasil menyelesaikan UAS tanpa halangan. Disusul kemudian dengan penghargaan atas usaha dan ikhtiar yang sudah saya lakukan—betapapun hasilnya sungguh mengecewakan. Sebelum menutupnya dengan nasihat yang menyejukkan kesedihan saya kala itu.
Ya, kedua orangtua saya tidak menambah beban kesalahan yang sesungguhnya sudah sangat berat saya rasakan saat itu.
Dan sungguh, saya mendapat pelajaran sangat berharga dari mereka, tentang bersikap “bijak” dalam menyikapi suatu permasalahan.
Jika semua orang dapat melihat hidup dengan cara pandang seperti mereka, maka insya Allah akan terdapat jauh lebih sedikit permasalahan di dunia ini.
Wallahu a’lam.

Note: [1] Dikutip dari artikel “Aku Bersamamu, Sayang.” (Anonim)
01 Muharam 1428 H 20 Januari 2007 re-writen 9 Pebruari 2008 01:00 a.m

Ya Alloh, Beri Kami Surga Kecil

Allah, beri kami surga kecil Rumah syhadu berhias rahmah. Di sana tergelar helai-helai sajadah Tempat kami berpinta dan bermunajah
Allah beri kami surga kecil, Istana mungil bertahta sakinah. Tempat kami berteduh melepas lelah Ranjang kokoh bertabur berkah Tempat malam-malam kami dipeluk mimpi indah
Allah, beri kami surga kecil (sebuah sumber)

Ada yang enggan menikah. Bukan ada lagi, bahkan banyak. Salah satu alasan yang paling sering hinggap di telinga adalah kemapanan. Belum punya rumah tinggal. Belum berpenghasilan tetap. Bahkan salah seorang teman kampus menyatakan ia akan menikah setelah mempunyai rumah dan kendaraan beroda empat. Kalau rumah dan mobil belum termiliki, menurutnya kebahagiaan menikah tidak akan ada. Kalau tidak bahagia, buat apa menikah!
Tapi benarkah kebahagiaan menikah melulu terletak pada kemapanan dan ketersediaan materi? Benarkah sakinah terengkuh kalau sudah punya hunian yang nyaman, kendaraan berkelas dan penghasilan yang mencapai nominal tertentu. Bisa jadi demikian tapi sepertinya saya harus menggelengkan kepala. Saya teringat pada seseorang. sahabat karib saya.

Entah di mana ia sekarang. Yang jelas kehidupan ekonominya naik kelas. Lelaki yang menikahinya orang kaya dan mempunyai pekerjaan di tempat yang kata orang 'basah'. Sewaktu dia menikah orang-orang menganggapnya beruntung karena mendapatkan jodoh yang demikian yahud. Suatu ketika Allah memperkenankan kami bertemu. Yupe, ia terlihat lain. Dandanan orang 'berpunya'. Kami mengobrol. Iseng-iseng saya membuka majalah dan menunjukkan kepadanya iklan perumahan. Saya bilang alangkah senangnya punya rumah megah seperti itu. Tapi jawabannya membuat saya terdiam.
"Ah kata siapa punya rumah kaya gitu menyenangkan, siap-siap aza suaminya selalu bergelut dengan pekerjaan, pulang larut pergi dini hari, yang di kepalanya cuma bisnis, waktu baginya adalah uang, mau punya anak aza berhitung minta ampun, kita memang berlimpah harta, tapi di sini sepi," urainya sambil menunjuk dada. Nampak sekali ia gundah. Dan curhatlah ia. Tumpah ruah.
Saya memandangnya lekat. Sama sekali tidak menyangka bahwa menurutnya kebahagiaanya terenggut sejak pertama ia menikahi seseorang yang dipilihkan orang tuanya, beberapa tahun yang lalu. Ia berlimpah kekayaan tapi sungguh ia tidak bahagia.***
Ini kisah lain. Suaminya sekarang mapan. Sofa mahal itu bukan lagi masalah dan ruang tamunya terlihat lain. Lebih indah dan nyaman. Rumahnya baru direnovasi. Lantai keramik, kitchen set lengkap, kamar mandi ber-shower, belum lagi alat-alat rumah tangga serba elektronik yang ikut diganti menjadi baru dan lebih canggih. Hidupnya menjadi lebih mudah. Dan setiap pulang kampung dengan mobil barunya, maka ia pasti dipuji-puji karena tangan yang ia tempelkan ketika salaman tidaklah kosong.
Orang-orang menganggap bahwa kebahagiaan adalah kini miliknya. Tapi tunggu dulu! Justru saat-saat sekarang ia jarang mengembangkan senyuman. Jika dengan seksama memperhatikannya, kekhawatiran itu dominan terlihat. Bahkan ia berubah menjadi seorang ibu yang murung dan pemarah. Kesalahan anak-anaknya yang sepele membuatnya menjadi pemberang.

Rumah 'impiannya' berubah megah. Tapi segalanya juga berubah. Suaminya sedikit demi sedikit menjelma diktator yang menciutkan keberadaanya. Titah suaminya sedikitpun tak boleh dicela. Jika suaminya berkata A maka seisi rumah harus utuh menelannya bulat-bulat. Tak ada lagi suami yang senang bercanda dan meleburkan kepenatan kesehariannya. Entah ke mana sosok suami sabar, penyayang dan suka membantu pekerjaan domestiknya. Suaminya berubah menjadi seorang yang asing. Dan hal ini yang membuatnya dadanya sesak, membuat air matanya luruh diam-diam dan menguras energinya untuk tersenyum. Iya kalau materi menjadi berlimpah, tapi ketentraman bathinnya terkikis habis-habisan. Iya jika uang belanja menjadi berlipat-lipat tapi suaminya menjadi sok kuasa dan sering melecehkannya. Yang memilukan adalah suaminya marah-marah jika diingatkan untuk mendirikan shalat.
Kemapanan telah tergenggam, tapi apakah berbanding lurus dengan kebahagiaan yang berkelindan dalam dadanya? Tidak!

Saya jadi teringat dengan pesan almarhum ayah. Menurutnya harta bukan jaminan untuk mewujudkan keluarga bahagia. "Harta hanya sementara, sedangkan kebahagiaan seharusnya tetap hadir meski tanpanya," itu katanya suatu saat. Ia menambahkan, yang paling penting dan harus selalu ada dalam rumah tangga adalah pilar agama bukan pilar beton megah. Tanpa agama keluarga seperti minyak wangi dalam botol yang tidak ada katupnya. Semerbaknya hanya sementara, wanginya perlahan menghilang terbawa angin. Indahnya hanya di awal-awal saja. Manisnya berada di permulaan. Seiring waktu berjalan, mereka lupa misi pelayaran keluarga. Dan ketenangan itu sirna. Padahal tujuan berkeluarga adalah merengkuh ketenangan. Maka tak heran ada yang tidak betah lagi tinggal di rumah. Rumah megah itu hanya menjadi tempat singgah. Itu alegori ayah yang saya kenang sampai sekarang.

Siapapun orangnya tentu berkeinginan membangun keluarga penuh kebahagiaan. Karena apa? Karena keluarga bahagia adalah surga. Surga kecil yang Allah hadirkan sebelum surga akhirat dengan segala keindahan dan kenikmatan itu kelak. Keluarga bahagia adalah surga, karena di sana mereka betah bernaung dan menjadi tempat yang paling ingin disinggahi.
Surga kecil. Yah, surga yang hadir terlalu awal. Keluarga yang sakinah.
Allah, beri kami surga kecil!
***
Husnul Mubarikah
* Untuk pengirim artikel "Sepiring Berdua", mudah-mudahan Allah menganugerahi kita surga kecil itu.

Selamat Tahun Baru Islam 1429 H

Oleh Rubina Qurratu'ain Zalfa

Tahun baru Islam atau tahun baru Hijriah 1 Muharram, bukan hari raya agama, meski dinyatakan sebagai hari libur nasional. Perayaan Tahun Baru Islam juga tidak semeriah perayaan Tahun Baru Masehi. Namun Tahun Baru Hijriah memiliki makna penting bagi umat Islam, menjadi bagian sejarah Islam yang menandai perjuangan berat seorang Rasulullah Muhammad Saw dalam menyebarkan risalah Islam dan menjadi sebuah awal perubahan bagi umat Islam, terutama dari sisi spiritual.

Tahun Baru Hijriah yang didasarkan pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad Saw bersama kaum Muslimin dari Makkah ke Madinah, bukan sekedar hijrah secara fisik tapi juga hijrah secara drastis dari sisi mental. Seperti yang diungkapkan oleh sahabat Rasulullah, Umar bin Khattab tentang hijrahnya Nabi Muhammad Saw, bahwa "Hijrah itu membedakan antara yang hak dan bathil. "Oleh sebab itu, umat Islam selayaknya tidak memandang tahun baru Islam hanya sekedar pergantian tahun biasa seperti ketika kita merayakan tahun baru Masehi. Tapi mencontoh semangat hijrah Rasulullah terutama dari sisi mental dan spiritual, dengan lebih memurnikan keimanan dan ketaqwaan kita pada Allah Swt. Menguatkan tekad dan niat untuk melakukan pembaharuan drastis dan membebaskan diri dari kebathilan dan dari cinta dunia menjadi cinta hanya kepada Allah Swt.

Mampukah kita? Melakukan perubahan drastis memang bukan perkara yang mudah, butuh kemauan kuat dari dalam diri kita sendiri untuk bertindak revolusioner. Namun tak ada kata susah, jika kita memang ingin mengisi sisa waktu kita hidup di dunia dengan perbuatan baik dan mengejar pahala semata-mata karena Allah Swt. Kalau tidak dari sekarang kapan lagi?Yang paling ringan mungkin bermuhasabah dan sedikit demi sedikit meninggalkan kebiasaan yang merugikan amaliyah diri kita sendiri. Apa saja kebiasaan yang merugikan itu, mungkin berbeda-beda antara individu yang satu dengan yang lain, dan diri kita sendirilah yang paling tahu kelemahan masing-masing.

Mengutip kalimat Kyai Haji Abdullah Gymnastiar alias AA Gym, mulailah dari hal yang kecil, dari diri sendiri dan dari sekarang. Mudah-mudahan, perubahan-perubahan kecil ini akan makin mendewasakan kita dan meningkatkan kecintaan kita padaNya. Yang terpenting adalah, mari kita luruskan niat untuk "hijrah" karena mengharapkan ridho Allah Swt semata. "Sesungguhnya amalan itu bergantung pada niatnya. Barang siapa yang berhijrah karena Allah dan Rasulnya, hijrahnya (akan diterima) sebagai hijrah karena Allah dan Rasulnya... " (HR Bukhari dan Muslim).
Semoga Allah Swt senantiasa membimbing kita ke jalanNya dan serta memberi hidayah dan rahmatNya pada kita semua, dan pada bangsa ini yang sedang dilanda ujian musibah dan bencana bertubi-tubi.

Selamat Tahun Baru...
Jakarta, 1 Muharram 1429 H
rubina_zalfa@yahoo. Com

7 Faktor Kehancuran Keluarga

Di dalam rumah tangga selalu memiliki rintangan dan penyebab kehancuran, dalam pandangan Psikofitrah ada 7 penyebab kehancuran keluarga. Kehancuran keluarga ditengah masyarakat berarti juga kehancuran satu bangsa sebab keluarga adalah cermin dari satu bangsa.

1. Akidah yang keliru atau sesat,
Misalnya mempercayai kekuatan dukun, magic dan sebangsanya. Bimbingan dukun dan sebangsanya bukan saja membuat langkah hidup tidak rationil, tetapi juga bisa menyesatkan pada bencana yang fatal.

2. Makanan yang tidak halalan thayyiba.
Menurut hadis Nabi, sepotong daging dalam tubuh manusia yang berasal dari makanan haram, cenderung mendorong pada perbuatan yang haram juga (qith`at al lahmi min alharam ahaqqu ila an nar). Semakna dengan makanan, juga rumah, mobil, pakaian dan lain-lainnya.

3. Kemewahan.
Menurut al Qur'an, kehancuran suatu bangsa dimulai dengan kecenderungan hidup mewah, mutrafin (Q/17:16), sebaliknya kesederhanaan akan menjadi benteng kebenaran. Keluarga yang memiliki pola hidup mewah mudah terjerumus pada keserakahan dan perilaku menyimpang yang ujungnya menghancurkan keindahan hidup berkeluarga.

4. Pergaulan yang tidak terjaga kesopanannya (dapat mendatangkan WILdan PIL).
Oleh karena itu suami atau isteri harus menjauhi "berduaan"dengan yang bukan muhrim, sebab meskipun pada mulanya tidak ada maksud apa-apa atau bahkan bermaksud baik, tetapi suasana psikologis"berduaan" akan dapat menggiring pada perselingkuhan.

5. Kebodohan.
Kebodohan ada yang bersifat matematis, logis dan ada juga kebodohan sosial. Pertimbangan hidup tidak selamanya matematis dan logis, tetapi juga ada pertimbangan logika sosial dan matematika sosial.

6. Akhlak yang rendah.
Akhlak adalah keadaan batin yang menjadi penggerak tingkah laku. Orang yang kualitas batinnya rendah mudahterjerumus pada perilaku rendah yang sangat merugikan.

7. Jauh dari agama.
Agama dalah tuntunan hidup. Orang yang mematuhi agama meski tidak pandai, dijamin perjalanan hidupnya tidak menyimpang terlalu jauh dari rel kebenaran. Orang yang jauh dari agama mudah tertipu oleh sesuatu yang seakan-akan "menjanjikan" padahal palsu.

Wassalam,
Agussyafii
TV OnLine
This text will be replaced

"Hot News" "Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami perkenankanlah doaku. Ya Tuhan kami berikanlah ampunan kepadaku dan kepada kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)" (QS. Ibrâhîm: 41-42)