Tausiah Teh Nini "Lima Kiat Datangkan Jodoh"

Belajar dari Keluarga Mutammimul 'Ula

(Sumber: edisi khusus Majalah Tarbawi “Mozaik Cinta”)

11 Amanah Allah
1. Afzalurahman, 21 tahun, semester 6 Teknik Geofisika ITB, Hafal Quran usia 13 tahun, sekarang masuk Program PPDMS, Ketua Pembinaan Majelis Taklim Salman ITB, Peserta Pertamina Youth Progamme 2OO7 dari ITB
2. Faris Jihady Hanifa, 2O tahun, semester 4 Fakultas syariah LIPIA, hafal Quran usia 1O tahun Predikat mumtaz, Juara 1 lomba Tahfidz 3O Juz yang diselenggarakan Kerajaan Saudi Arabia, Juara 1 Lomba OlimPiade IPS tingkat SMA 2OO3
3. Maryam Qonitat, 18 tahun, semester 2 Fakultas Ushuluddin Univ Al Azhar Kairo, hafal quran usia 16 tahun. Lulusan Terbaik Husnul Khotimah 2OO6
4. Scientia Afifah, 17 tahun, kelas 3 SMU 28, hafal 1O Juz, pelajar teladan MTs Al Hikmah 2OO4
5. Ahmad Rosikh Ilmi, 15 tahun, kelas 1 MA husnul Khotimah, hafal 6 Juz, pelajar Teladan SDIT Al Hikmah 2OO2, Lulusan Terbaik MTs Al Kahfi 2OO6
6. Ismail Ghulam Halim, 13 tahun, kelas 2 MTs Al Kahfi, Hafal 8 Juz, Juara Olimpiade IpA tngkat SD se Jaksel 2OO3, 4 penghargaan dari Al Kahfi, Tahfidz Terbaik, Santri Favorit, Santri Teladan, dan Juara Umum
7. Yusuf Zaim Hakim, 12 tahun, kelas 1 MTs Al Kahfi, hafal 5 Juz, rangking 1 di kelasnya
8. Muh Saihul Basyir, 11 tahun, kelas 5 SDIT Al Hikmah, hafal 25 Juz
9. Hadi Sabila Rosyad, 9 tahun, kelas 4 SDIT Al Hikmah, hafal 2 Juz
1O. Himmaty Muyasssarah, 7 tahun hafal 1juz
11. Hasna wafat usia 3 tahun, bulan Juli 2OO6

Kebaikan kebaikan itu
- Mengajarkan Al Quran sejak usia 4 tahun. Doktrin keluarga = Al Quran adalah kunci kebahagiaan dunia dan akhirat
- Jangan terlalu mengandalkan sekolah. 2 / 3 keberhasilan Pendidikan itu ada di rumah
- Keberhasilan adalah hasil integrasi kedua orang tuanya. Lebih besar tanggung jawab seorang ayah dibanding ibu
- Rasulullah memanggil ayah dari anak yang mencuri. ayah idaman dalam Al Quran = lukman. Ibrahim mentarbiyah anak dan istrinya
- Suami yang membangun visi dan istri yang mengisi kerangka itu.
* Imam Syafi I ditinggal wafat ayahnya ketika berusia 6 tahun. Namun isi kepala sang ayah sudah pindah ke sang ibu.
* Al Banna dan sentuhan pendidikan sang ayah
* Qordhowi berkata, dahulu saya tidak tahu mengapa ayah mengkondisikan saya hafal al quran usia 1O tahun
- Ihtimam atau perhatian yang tinggi terhadap anak dan pendidikannya
1. perhatian dari A sd Z, potong kuku, bersihkan telinga dll
2. File file khusus yang menyimpan catatan tentang anak, hasil ulangan dan lain lain
3. Kekayaan kami adalah anak dan buku. Setiap liburan, selalu mengajak anak anak ke toko buku.ada 4OOO buku di rumah
- Visi yang ada di kepala kami adalah anak anak kami semuanya harus menjadi hafidz quran
1. Keliling Jawa dan Madura untuk melihat pesantren tahfidz terbaik. Pilihan jatuh di Kudus. Orang mencibir untuk apa menjadi hafidz Quran dan menitipkan anak di pesantren
2. Tujuh tahun pernikahan tanpa televisi
3. Setiap hari diperdengarkan murottal
4. Sang ibu mengajar sendiri dengan Qiroati
- Nasihat sang suami yang mencerminkan kekuatan visinya sebagai kepala keluarga =
Bu, Kita harus berbeda dengan orang lain dalam kebaikan. Orang lain duduk kita sudah harus berjalan, orang lain berjalan kita sudah harus berlari, orang berlari kita sudah tidur, orang lain tidur kita sudah bangun.
Jangan sedikitpun berhenti berbuat baik sampai soal niat. Kita tidak boleh lalai karena kita tidak tahu kapan Allah mencabut nyawa kita
- Tiga Fase interaksi dengan Anak menurut Imam Ali
7 tahun pertama = perlakukan ia seperti raja
è masa pembentukan tumbuh kembang otak menyerap informasi
7 tahun kedua = perlakukan ia seperti tawanan perang dalam kedisiplinan
è Masa penanaman sikap. Disiplin disiplin Disiplin
7 tahun ketiga dan seterusnya = perlakukan ia sebagai teman atau sahabat
- Pakar mengatakan 7 sd 12 tahun adalah golden age. Usia emas. Saat itulah fase pembentukan sikap, perilaku, dan penanaman nilai yang paling penting.
- Hafal Qurannya Al Banna 1O tahun, Qordhowi 1O tahun, Imam Syafi I 9 tahun, Imam Ahmad 7 tahun
- Rasul menyuruh sholat di usia 7 tahun, dan bila sampai 1O tahun belum sholat maka pukullah ia
- Menjelang tidur selalu diceritakan kisah kisah para nabi dan rasul
- Jadwal dalam papan besar untuk belajar Al quran bagi 11 anak kami
- Bakda maghrib dan Bakda subuh adalah waktu interaksi dengan Al Qur an.
Nak ibu bangga sekali dengan kamu, meskipun sulit tapi kamu disiplin menyetorkan hafalan 2 ayat setiap hari.
- Anak pertama dan kedua sejak usia 5 dan 4 tahun terbiasa bangun sebelum subuh
- Di Komplek perumahan DpRRI si kecil sudah bisa menghafal siapa saja anggota dewan yang jarang sholat subuh berjamaah
- Jangan lupakan membangun dakwah di keluarga besar. Saat kami all out keluar rumah, keluarga besar kamilah, yang terlibat mengawasi anak anak
- Kami rutin berkunjung ke keluarga besar untuk menjalin hubungan baik dengan mereka
- Kesulitan di masa pembentukan adalah faktor keistiqomahan. Harus konsisten mengontrol
- Memagari anak anak dari pengaruh negatif. Ada agreement dengan anak anak kapan saat menonton TV dan ada hukuman bila dilanggar
- Nak, hafalanmu banyak, TV itu bisa memakan bagian pikiranmu
- Syukur kami tiada henti padamu ya Robbi atas karunia anak anak kami
- Keberhasilan itu bukan tercapainya tujuan tapi pada proses yaitu komitmen dan konsistensi kita menjalaninya. Kepada Allah kembali segala urusan

”INDONESIA BERTARHIB RAMADHAN 1430H”

Masihkah ada semangat diri dan bangsa ini untuk hidup lebih baik..? Bagaimana diri dan bangsa ini untuk merdeka dalam hidup ini..? Hidup ingin semangat dan merdeka tapi bagaimana caranya, sementara banyak problema hidup yang dihadapi..?
Ada waktu yang sangat istimewa di bulan agustus untuk menjawab hal itu yakni dalam:

”INDONESIA BERTARHIB RAMADHAN 1430H”
“Semangat dan Merdeka dengan Ramadhan”

Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1430H sekaligus memperingati Hari kemerdekaan Negara Republik Indonesia, kami-Daarut Tauhiid Jakarta-mengundang dalam acara special yang terangkai melalui Majelis Manajemen Qolbu (MMQ) dan Malam Muhasabah Qolbun Salim (MQS), insyaAllah akan dilaksanakan pada:

1. Lokasi Acara Masjid Baitul Ihsan – Bank Indonesia
Tema : “Memerdekakan Diri dengan Ramadhan”
Konsep acara :Ceramah/Kajian, Dialog, I’tikaf, Qiyamullail, Dzikir dan Doa (Muhasabah)
Hari, Tanggal : Sabtu - Minggu, 01 s/d 02 Agustus 2009
Waktu : 18.00 – 06.00 Wib
Narasumber : Ust. Subkhi Al-Bughuri
Ust. Muhsinin Fauzi, Lc, MM
Ust. Martomo Malaing, SQ, S.Th.I. Al-Hafidz
Ust. Edi Abu Marwa

2. Lokasi Acara Masjid Istiqlal
Tema : “Semangat dan Merdeka dengan Ramadhan”
Konsep acara : Ceramah (Tausyiah), Dzikir dan Doa (Muhasabah)
Hari, Tanggal : Minggu, 09 Agustus 2009
Waktu : 09.00 – 13.00 Wib
Narasumber : KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym)
Ust. Yusuf Mansur

3. Lokasi Acara Masjid Raya Pondok Indah
Tema : “Semangat dalam Menggapai Insan Fitri ”
Konsep acara : Ceramah (Tausyiah), Dzikir dan Doa (Muhasabah)
Hari, Tanggal : Minggu, 11 Agustus 2009
Waktu : 19.30 – 20.30 Wib
Narasumber : KH. Abdullah Gymnastiar

4. Lokasi Acara Masjid Raya Pondok Indah
Tema : “Ramadhan di Rumah Kita”
Konsep acara : Ceramah/Kajian, Dialog, I’tikaf, Qiyamullail, Dzikir dan Doa (Muhasabah) dan Bazar
Hari, Tanggal : Sabtu-Minggu, 15 s/d 16 Agustus 2009
Waktu : 18.00 – 06.00 Wib
Narasumber : Ust. DR. Hidayat Nur Wahid, MA.
Ust. Muttaminul Ula
Ust. Ikhsan Hakim
Ust. Hasanuddin Sinaga

Info Center : 021-7235255 / Andi: 021-934 55 013/0813 200 23 123

Kajian Bersama Majelis Keluarga Islami dan Majelis Sehati DT Jakarta

Assalamu'alaikum,wr,wb.

Sahabat-sahabat, Majelis Keluarga Islama dan Majelis Sehati DT Jakarta kembali menyelenggarakan Kajian Bersama pada Ahad, 2 Agustus 2009, dengan acara :

Kajian Majelis Sehati
Jam : 09.30 - 12.00 WIB
Tema : Dengan Menikah Akupun Berjihad
Pemateri : Ust. Ihsan Hakim.

Kajian Bersama Majelis Keluarga Islami
Jam : 13.00 - 15.00 WIB
Tema : Dengan Berilmu Kita Sambut Ramadhan 1430 H
Pemateri : Ust. Miftahuddin.

Tempat : Kediaman Bp. H. Nurhamid.
Jl. Gardu 7 (Sebelah SMA Negeri 109),

Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Kajian ini wajib dihadiri Anggota Majelis Sehati yang aktif terdaftar dan terbuka umum dan semua mantan anggota Majelis Sehati serta tidak dipungut biaya apapun.

Bagi yang ingin hadir, wajib membawa Al-Qur'an dan terjemahan, serta alat tulis. Akhwat wajib berjilbab dan Ikhwan busana muslim, serta dilarang merokok.

Informasi lebih lanjut hubungi Rico Atmaka 08158018156 / 08558406013 / 021-50212373

Wassalamu'alaikum,wr.wb.
Rico Atmaka
Koordinator Majelis Sehati DT Jakarta
YM ID : daddy_zahirah
Facebook : Rico Atmaka
rico_atmaka@yahoo.com
rico_atmaka@telkom.net.id

Kajian Bersama Majelis Sehati

Assalamu'alaikum, wr, wb.

Sahabat-sahabat, kita tahu, banyak majelis-majelis atau kelompok-kelompok dzikir yang muncul dan berkembang di Indonesia. Sepertinya, mereka memiliki kebebasan untuk mengekspresikan pujian kepada Sang Maha Pencipta. Tapi benarkah kita memang memiliki kebebasan berekspresi dalam memuji Allah? Bagaimana jika ternyata kebebasan tersebut melanggar adab-adab berdzikir atau tidak sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah SAW? Lalu bagaimana jika ternyata kebebasan berekspresi memuji Allah yang kita jalani saat ini ternyata masuk kategori bid'ah? Mari sahabat-sahabat, kita berhati-hati dalam kebebasan berekspresi memuji Allah.

Untuk mengetahui ilmunya, Majelis Sehati mengundang sahabat-sahabat dalam Kajian Bersama pada :
Waktu : Ahad, 7 Juni 2009
Pukul : 09.00 – 11.00 WIB
Tempat : Mushollah Baiturahman, Jl. Bangka I, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Tema : Benarkah Kita Bebas Mengekspresikan Pujian kepada Allah?
Pemateri : Ust. Ihsan Hakim.


Kajian ini wajib dihadiri Anggota Majelis Sehati yang aktif terdaftar.
Terbuka bagi semua mantan anggota Majelis Sehati dan juga untuk umum, tanpa dipungut biaya.
Bagi yang ingin hadir, wajib membawa Al-Qur'an dan terjemahan, serta alat tulis.
Akhwat wajib berjilbab dan Ikhwan busana berkerah atau baju koko, serta dilarang merokok.

Informasi lebih lanjut hubungi Rico Atmaka – 08158018156 / 021-50212373

Wassalamu'alaikum,wr.wb.
Rico Atmaka
Koordinator Majelis Sehati DT Jakarta
YM ID : daddy_zahirah
Facebook : Rico Atmaka
http://www.majelissehati.blogspot.com/
rico_atmaka@yahoo.com
rico_atmaka@telkom.net.id

Sebelum Kumengerti Ilmunya

Sebelum kumengerti ilmunya, aku selalu berharap menjemput jodoh yang sekufu, setara atau sebanding. Ternyata aku terjebak dalam pengertian sekufu yang salah sehingga membutuhkan waktu cukup lama untuk menjemput jodohku.


Sebelum kumengerti ilmunya, sekufu soal latar belakang sosial, menurut aku paling tidak calon pendamping hidupku harus sama denganku.

 

Sebelum kumengerti ilmunya, sekufu soal pendidikan, menurut aku berarti setingkat. Agar jika diajak bicara, calon istriku dapat mengimbangi apa yang kusampaikan.

 

Ternyata pengertianku soal sekufu salah besar. Karena aku lebih menitikberatkan kepada sekufu duniawi. Padahal yang lebih penting adalah sekufu akhirat. Artinya, sekufu dalam ketaatan kepada Allah semata.


Setelah kumengerti ilmunya, latar belakang sosial tidak menjadi masalah buatku ketika menjemput jodoh. Dulu, istriku sering naik turun gunung. Sedangkan aku, sering naik turun panggung. Istriku seorang pendekar silat, sedangkan aku seorang penari dan koreografer. Tapi justru dengan perbedaan ini, kami merasa unik dan bersyukur kepada Allah.


Setelah kumengerti ilmunya, latar belakang pendidikan tidak menjadi masalah ketika berproses ta’aruf dengan wanita yang berbeda pendidikannya dengan diriku. Aku lulusan ilmu sosial sedangkan istriku lulusan ilmu pasti. Tapi dengan perbedaan latar belakang pendidikan, kami justru saling mengisi keilmuan masing-masing. Kami sangat bersyukur kepada Sang Maha Berilmu yang telah mengkaruniai kami ilmu yang bermanfaat.

 

Tapi menurut sahabat-sahabat, sekufukah kami?

Aku dan istriku merasa sekufu, justru karena banyaknya perbedaan diantara kami. Kami berprinsip, kelebihan pasangan sebagai ladang ilmu, kekurangan pasangan sebagai ladang amal. Alhamdulillah, setelah menikah, kami menemukan makna sekufu yang sebenarnya, yaitu sekufu dalam agama. Ini yang terpenting.


Jakarta, Jum’at, 16 Maret 2007

Rico Atmaka – 08158018156

Koordinator Majelis Sehati

Daarut Tauhiid Jakarta

Istri Sakit, Suami Bagaimana?


oleh Halimah

Menjalani bahtera rumahtangga merupakan amal sholeh yang dapat dilalui dengan aman bila disertai dengan cinta. Seorang iburumahtangga yang notabene adalah istri dari seorang suami, akan menggeluti kegiatan kesehariannya dengan penuh tanggungjawab. Memberikan pelayanan dan kesediaan untuk selalu ada di setiap waktu bagi penghuni rumah. Tidak ada kata yang lebih indah untuk mengungkapkan, selain rasa CINTA yang dalam terhadap orang-orang yang dikasihinya. Kadang waktu yang tersisa tak cukup untuk membuatnya menghela napas.
Tapi itu tak menjadikan dirinya merasa sebuah pengorbanan. Cintanya murni, tak pernah terlintas sedetik pun tuk mengharapkan balasan. Semuanya dikerjakan dengan ikhlas. Cintanya tak jua luntur walau kadang penghuni rumah, seringkali memberikan sinyal tak suka akan bantuannya. Semuanya di terima dengan lapang dada. Begitu pula bila suaminya, yang hanya bisa memberikan kritikan tanpa mengurangi beban kerja rutinnya. Semuanya hanya bagai angin yang berhembus sejenak. Tak ada masalah.

Sang istri yang ikhlas ini akhirnya jatuh sakit. Semua pekerjaan kesehariannya menumpuk di setiap ruang. Tak ada sentuhan dari orang sekitarnya, hanya ada sedikit lirikan. “Ah… ibu sedang sakit, bagaimana dengan kami? Anak-anaknya kebingungan. Suaminya pun tak kalah sibuknya. Sibuk dengan rasa cemas, terhadap istrinya yang tergolek lemah. Memberikan semangat, agar tak usah bersedih- semuanya cobaan dari Allah S.W.T. Maka sang suami pun mengambil amanah sang sang istri dalam urusan domestic rumahtangga. Karena tak terbiasa dengan kondisi itu, maka dia pun merasakan beban yang sangat berat. Sebelum shalat subuh dia harus membangunkan anak-anaknya.
Biasanya, dialah yang dibangunkan. Ketika jam menunjukkan jam enam pagi, maka dia pun kerepotan untuk menyiapkan sarapan tuk diri dan penghuni rumah. Biasanya, dia tinggal menikmati. Bila tak sesuai selera, maka sebuah komentar yang kadang memanaskan telinga sang istri yang telah kepayahan. Menyiapkan anak-anak untuk segera mandi, berpakaian dan sarapan ternyata sang suami merasakan pekerjaan yang sangat berat. Selama ini dia tak pernah sedikitpun memberikan ulurannya tuk kegiatan ini. Ketika harus menjalaninya, maka barulah dia mengetahui bagaimana sibuknya sang istri tercinta saat subuh hingga keberangkatan mereka keluar dari rumah.

Istri yang sakit tak jua kunjung sembuh. Batas kesabaran sang suami berada di titik puncak. “Kalau sakit jangan terlalu di manja. Jangan tidur melulu, sakitnya tambah payah!” Suami sudah tak mampu mengontrol emosi, padahal sang istri baru sakit dua minggu. Sementara pekerjaan rumah telah di jalani lebih dari lima tahun. Tentu saja perbandingan waktu yang tak seimbang. Tapi, suami sudah kepayahan.
Suami yang biasa hanya berkomentar, tentu saja akan kerepotan. Dia tak siap untuk kejutan pahit ini. Istri yang super perkasa selama ini, ternyata punya batas kekuatan. Orang-orang yang dicintainya, akhirnya mengeluh dengan keadaannya. Istri yang sakitpun, tak bisa berdialog dengan mereka dengan hati yang berbunga. Karena orang disekitarnya memasang wajah penuh cemas dan rasa tak sabar, akan kesehatannya. Semuanya dirundung mendung, menantikan saatnya turun hujan kasih dari sang bunda. Ayahnya, ternyata tak setelaten ibunya dalam menanggapi semua kebutuhan dan kemanjaan mereka. Mereka pun akhirnya stress!
Mau cari pembantu? Sang suami tak punya cukup uang. Sementara dia sudah di ujung tanduk. Pekerjaan yang dua mingguan ini dirasanya, telah membuatnya lebih tua dari usianya. Tak pernah terlihat lagi senyum maupun candaan pada anak-anaknya. Semuanya dalam koridor TEGANG!

Beberapa kejadian ini telah saya lihat di sekitarku. Saat tinggal di kota Samarinda, maupun saat ini di kota Sengata. Suami yang biasanya memandang remeh pekerjaan istrinya yang tinggal di rumah. Dan memaklumi diri untuk tidak turut terjun ke daerah domestik, karena merasa telah berjasa besar menafkahi keluarga yang di cintainya. Tak ada ucapan terimakasih, walau pun sang pujaan hati telah bersusah payah menyediakan semua kebutuhan hariannya. Semuanya dalam pemakluman :” Memang tugasnya!”.
Sungguh kasihan mendapatkan suami dengan type begini, tak ada rasa sayang yang murni. Inginnya di mengerti, tapi tak mengerti keadaan pendampingnya. Dengan beberapa orang anak yang berbeda karakter, tentu saja dengan pelayanan beberapa karakter pula ditambah dirinya yang punya karakter yang lain. Tak pernah terlintas sejenakpun untuk membuat sebuah kejutan :”Hari ini, ibu tak usah repot di rumah. Kami semua akan mengerjakannya!”. Hari libur, merupakan hari yang harusnya dilewati dengan nyaman. Sang istri malah mendapatkan pekerjaan tambahan : Memasak makanan khusus, yang tentu saja membuat energi harus dilipat gandakan.

Sang istri yang telah sembuh, akan membuat rona bunga mekar di setiap sudut rumah. Membuat wajah-wajah yang mendung menjadi bersinar kembali. Anak-anakpun dapat merasakan kegembiraan yang telah hilang beberapa hari. Sang ayahpun tak kalah gembiranya, di kecupnya kening istri :”Jaga kondisi ya…” Suami pun memberikan sentuhan hangat, karena beban itu telah lepas dari pundakya. Hem!
Istri yang sakit untuk beberapa hari, ternyata punya hikmah sendiri buat penghuni rumah. Anak-anak telah mengerti pengorbanan dan CINTA sang bunda padanya. Suami pun mengerti, betapa berat pekerjaan sang tercinta dalam mengelola urusan rutin rumah mereka. Semuanya dalam keadaan saling memahami satu sama lainnya. Sangat indah suasana itu. Menggoreskan rasa aroma bunga di hati.
Rona yang indah hanya berjalan beberapa jeda waktu. Kegiatan sang istri berulang kembali seperti biasanya. Kebiasaan lama mewarnai kembali kegiatan hariannya Semuanya kelihatan wajar, hingga pada satu titik waktu – sang bunda harus pulang kehadirat Sang Ilahi. Bila itu terjadi : “Akankah orang disekitarnya serasa mendapat sambaran petir di siang hari bolong?”
( Tapi ini hanya kejadian yang langka, bila dibandingkan dengan seorang suami yang mengerti dan turut terjun di daerah domestik rumah-tangganya. Semoga kita bukan merupakan bagian dari cerita ini. )

Halimah Taslima
Forum Lingkar Pena ( FLP ) Cab. Sengata
halimahtaslima@gmail.com

Pendaftaran Majelis Sehati Angkatan 10

Asssalamu’alaikum, wr. wb.

Sahabat-sahabat, Majelis Sehati Daarut Tauhiid Jakarta akan membuka kembali pendaftaran anggota baru Angkatan 10. Mohon diperhatikan tanggal dan waktu pendaftaran berikut ini:

  1. Rabu, 22 Juli 2009, jam 18.30 – 20.00 WIB
  2. Ahad, 26 Juli 2009, jam 10.00 – 14.00 WIB
  3. Rabu, 29 Juli 2009, jam 18.30 – 20.00 WIB (Hari Terakhir)

Tempat pendaftaran di Musholla Baiturahman, Jl. Bangka I, dekat Gedung AKA atau seberang Bakso Ino, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.


Sebelum memutuskan untuk mendaftar, pastikan sahabat-sahabat sanggup menghadiri :

  1. ACARA PEMBUKAAN pada Ahad, 2 Agustus 2009 pukul 10.00 sampai selesai.
  2. Kajian Wajib Utama Ahad Siang Minggu I, dan IV pukul 12.00 – 15.00 WIB.
  3. Kajian Manajemen Qalbu, Ahad ke-II di Mesjid Istiqlal pukul 12.00 – 15.00 WIB.
  4. Kajian Hadits setiap Rabu malam pukul 18.00 – 21.00 WIB.

Seluruh kajian tanpa kecuali, wajib dihadiri anggota Majelis Sehati. Bagi sahabat yang tidak sanggup hadir, tidak perlu menjadi anggota, dan dipersilakan menjadi jamaah umum.

Syarat dan ketentuan menjadi Anggota Majelis Sehati DT Jakarta Angkatan 10 :

  1. Foto kopi KTP satu lembar.
  2. Foto Setengah Badan ukuran 3R / 4R / Postcard berwarna satu lembar di dalam ruangan (studio), dan bukan hasil pemotretan dari handphone.
  3. Pasfoto 4x6 berwarna satu lembar.
  4. Ketentuan foto, akhwat (wanita) wajib mengenakan jilbab dan ikhwan(pria) wajib mengenakan busana berkerah atau baju koko, bukan T-Shirt.
  5. Mengisi formulir keanggotaan langsung di tempat pendaftaran dan tidak dapat diwakilkan.
  6. Menyerahkan seluruh persyaratan dengan lengkap, tidak kurang satupun.
  7. Menyerahkan biaya investasi sebesar Rp. 200.000,- (dua ratus ribu rupiah) untuk biaya kajian selama enam bulan (Agustus 2009 – Januari 2010). Biaya ini sudah termasuk pembuatan kaos anggota Majelis Sehati dan nametag (kartu anggota).

Informasi lebih lanjut, silakan hubungi langsung (tidak lewat SMS) 08158018156 / 02150212373 dengan Rico Atmaka atau 021-93698493 dengan Riri Atmaka.


Wassalamu’alaikum, wr. wb.

Rico Atmaka – 08158018156 / 021-50212373

Koordinator Majelis Sehati DT Jakarta

YM ID : daddy_zahirah

Facebook : Rico Atmaka

e-mail : rico_atmaka@yahoo.com / rico_atmaka@telkom.net.id

TV OnLine
This text will be replaced

"Hot News" "Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami perkenankanlah doaku. Ya Tuhan kami berikanlah ampunan kepadaku dan kepada kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)" (QS. Ibrâhîm: 41-42)