Tausiah Teh Nini "Lima Kiat Datangkan Jodoh"

Rejeki Menikah Bukan Matematika

Oleh Abdul Rahman Jamil

Ayolah, kapan lagi mau menikah ? Kamu kan sudah cukup umur, sudah bekerja pula dan secara agama hukumnya sudah menjadi wajib loh!. Ngga usah takut ngga cukup. Rejeki itu tidak seperti hitungan matematika, serahkan saja semua kepada Allah. Begitu selalu yang dikatakan teman-teman saat saya selalu mempertimbangkan masalah keuangan sebagai salah satu alasan mengapa belum menikah.

Percakapan itu terjadi beberapa tahun lalu, saat saya gamang dalam keputusan untuk menikah atau tidak. Syukurnya, saya lebih memilih untuk melangkah maju dibanding mundur teratur untuk tidak membicarakan lagi masalah pernikahan.

Dan ternyata teori rejeki bukan matematika itu ternyata benar adanya. Mana pernah saya menduga sebelumnya, bahwa dengan berkeluarga justru keadaan ekonomi saya meningkat. Dibanding saat sendiri dulu keadaannya boleh dibilang sangat bertolak belakang.
Dengan gaji yang saya terima saat bujangan dulu, tanpa menanggung biaya kontrak rumah, makan cuma satu mulut dan tak ada tetek bengek biaya rumah tangga, toh tabungan saya tak pernah lebih dari enam digit.

Malah sebaliknya, justru saat saya harus menafkahi isteri dan anak-anak ternyata saya bisa mencukupi kebutuhan minimal mereka, sesekali berwisata dan masih ada sisa untuk ditabung untuk persiapan tak terduga. Dari mana semua itu? Secara logika, seharusnya keadaan ekonomi saya morat marit, karena toh gaji yang saya terima jumlahnya tidak terlalu berbeda jauh saat bujangan dulu.

Jawabannya adalah, semua karena kebesaran Allah dan kepasrahan kepada kehendak-Nya. Allah selalu memberikan rejeki yang tidak pernah saya duga –duga sebelumnya. Ada saja tawaran kerja sampingan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Dan semua itu cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga kami dan bahkan bisa ditabung pula.

Maka semakin yakinlah saya akan kebenaran janji Allah dalam Alqura-an..". Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar..(memudahkan jalannya untuk sukses)"Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (QS.65:2-3)

Nah, sekarang apalagi yang menjadi penghalang bagi muslimin untuk menikah, kalau Allah telah menjamin semuanya ?

Brisbane, 13 April 2008

Siapa Berdoa untuk Saya ?

Oleh Bayu Gawtama

Dalam sebuah kajian, seorang ibu bertanya, “Sudah duabelas tahun saya menikah, tapi belum dikaruniai anak. Kalau sampai ajal menjemput nanti saya belum juga mendapatkan anak, siapa yang akan mendoakan saya di kuburan?”
Semua mata tertegun, terharu dan juga sedikit bingung memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Beberapa ibu bahkan menitikkan airmata, bisa dirasakan harapan terdalam dari ibu yang bertanya itu. Sebab bagi siapa pun wanita di muka bumi ini, memiliki buah hati dari rahimnya sendiri adalah mimpi terindah, harapan terbesar dan cita-cita tertinggi di sepanjang perjalanan hidupnya.

Namun pertanyaan itu begitu menghentak, betapa setiap orang beriman akan mendapatkan beragam ujian. Salah satunya berkenaan dengan amanah berupa anak. Bagi yang diberi amanah, tetaplah sebuah ujian agar menjaga amanah tersebut sebaik-baiknya. Ibarat seseorang yang menitipkan suatu barang berharga kepada orang lain yang dipercayainya, ia berharap barang tersebut dijaga, dipelihara sebaik mungkin, hingga pada satu saat barang itu harus dikembalikan, tetap dalam keadaan baik.

Bahkan mungkin ketika barang itu belum waktunya diambil pun, si penitip yang melihat orang yang dipercaya itu mampu menjaga amanah dengan baik, maka ia tak akan sungkan menitipkan barang lainnya. Ada dua motivasi yang muncul ketika titipan kedua diberikan, apakah memang ia telah menjaga dengan baik titipan pertamanya, atau, titipan kedua sebagai ujian agar ia mampu berbuat lebih baik lagi. Begitu pula dengan mereka yang belum diberi kesempatan.
Bukan semata karena ia belum layak mendapat amanah, juga bukan karena mereka yang diberi momongan itu lebih baik kualitas diri dan kehidupannya. Ini semua menjadi rahasia Allah, sedangkan sebagai hamba kita hanya bisa berdoa agar Allah kelak memberikan kesempatan itu meski hanya sekali.

Banyak kita jumpai, sepasang suami isteri yang shalih, taat beribadah, berkecukupan, dengan latar belakang pendidikan yang sangat menunjang, namun belum dikaruniai seorang anak. Berbagai upaya sudah dilakukan, dan tak henti berusaha lantaran tak ada sedikit pun masalah medis dalam diri suami isteri tersebut.
Jika demikian, doa dan terus bersyukur atas segala rezeki yang telah diterimanya bisa membuat Allah tersenyum dan berkenan menambahkan rezeki lainnya. Tentu saja Allah tahu persis apa yang paling diinginkan setiap hamba, meski tak satu pun hamba yang boleh mendikte keinginan Allah. Kembali ke pertanyaan di atas, “siapa yang akan berdoa untuk saya sesudah saya mati?” adalah pertanyaan dari hati terdalam seorang ibu yang memendam kerinduan teramat dalam akan hadirnya si buah hati.

Makna tertinggi dari harapan sepasang manusia, bukan sekadar bisa menimang dan mengaliri kasih sayang melalui peluk kasih dan sentuhan lembut jemari sang ibu.
Tak hanya sebentuk rindu menyanyikan lagu ‘nina bobo’ atau senandung shalawat ketika buah hatinya terlelap dalam belaiannya. Lebih, jelas lebih dari itu. Ia telah menyiapkan segala sesuatunya agar kelak anak-anak yang tumbuh dan keluar dari rahimnya, adalah anak-anak yang memahami betul peran dan multi tanggungjawabnya; kepada Tuhannya, kepada orangtuanya, juga kepada lingkungannya.

Hiburan berupa jawaban, “Meski tidak dikaruniai anak, ibu kan masih punya dua hal lainnya; ilmu yang bermanfaat dan amal shalih” hanya berlaku sesaat. Ketika ia merasa sendiri di rumah, saat suaminya mencari nafkah, suara tangis dan kelakar riang anak-anak akan mengisi hari-hari sepinya. Siapa wanita yang tak menitikkan air mata kala mengetahui segumpal darah berbentuk janin dititipkan di rahimnya? Air matanya sejernih cintanya, bulir airnya menggugurkan kerinduan teramat dalam di sepanjang hidupnya.
Saya berdoa untuk semua saudara yang masih menggenggam rindu ini. (Gaw)

Kesedihan Itu Indah...

Oleh Tsabita Adzimatillah

Hidup adalah sebuah anugrah terindah di atas dunia. Disebabkan karena hidup maka ada kehidupan, pun bermula dari kehidupan maka kematian adalah suatu yang niscaya. Namun demikian kematian bukanlah sesuatu yang dapat merenggut arti sebuah geliat kehidupan. Kematian sendiri adalah sebuah keindahan manakala kita dapat memaknainya sebagai anugrah. Karena setiap yang berjiwa takkan pernah bisa lari dari kematian. Allah berfirman, "Walan yuakh khirallahu idza jaa a ajaluha" yang artinya "dan Allah tidak akan menangguhkan kematian seseorang apabila telah tiba ajalnya" (Qs Al-Munafiqun:11).
Adalah lumrah, wajar, jika kita menangis tiap kali menghadapi sebuah kematian, apalagi jika yang terjadi adalah kematian orang-orang yang kita cinta seperti, ayah, ibu, suami dan anak. Tapi kematian orang-orang tercinta dapat menjadi sebuah pencerahan manakala dimaknai dengan sebuah keimanan, iman terhadap Qodarullah. Takdir yang sudah Allah tuliskan buat setiap jiwa saat dilahirkan. Terlebih bila mereka meninggal dalam keadaan khusnul khotimah.
Dalam 38 tahun perjalanan hidupku, aku menghadapi semua kematian orang-orang kucintai. Tahun 1993 aku kehilangan ayahku, tahun 2003 ibuku wafat. Sejak itu aku hidup bersama 7 orang adiku. Kehidupan kami tidaklah sulit meski juga tidak mudah. Apalagi kami hidup dijakarta, bahu membahu kami berusaha lalui kehidupan dengan segala konsekwensi dan kompleksitasnya.

Seiring waktu berlalu, aku menikah 18 April 2004 dengan seorang laki-laki yang baik yang Allah takdirkan jadi suamiku. Dia laki-laki terbaik yang Allah berikan untukku. Cintanya membuat hidupku jadi lebih banyak berarti. Dia memberiku nafas kedua dalam banyak hal, memberi dorongan dan semangat dalam banyak hal, termasuk menulis sebagai hobbyku dan sebagai akupunturis yang kini kutekuni sbg pekerjaanku. Terlebih dari itu dia adalah guru terbaik buatku dalam memahami Islam sebagai jalan kehidupanku. Dimataku dia luar biasa di balik segala kekurangannya, di balik ringkih tubuhnya dan penyakit yang menderanya. Hidupku penuh kebahagiaan bersamanya, sampai maut memisahkan kami. Dia meninggal pada 18 januari 2008 karena penyakit bocor jantung yang dideritanya sejak lahir.
Sejak itu aku merasa kesendirian yang menghempaskanku pada ketakberdayaan, kalaulah tidak karena kuingat ayat-ayat cinta dalam Al-Qur'an, maka aku akan kian terpuruk dalam duka. Perlahan aku coba maknai kematian suamiku sebagai sebuah kesembuhan buatnya dari penyakit yang dideritanya, dan harusnya aku bahagia karena dia lepas dari deritanya.
Aku belajar melalui hidup sendirian. Kusibukan diri dengan klinik ku yang dibangun oleh almarhum suamiku untukku, klinik itu diberinya nama Harmony Rumah Sehat Holistic. Setiap hari aku berkutat dengan pasien-pasienku hingga waktu berlalu dengan tak terasa.
Melihat kesendirianku apalagi jauh dari keluargaku, aku tinggal di kota kecil di solo sementara adik-adikku di jakarta, keluarga dan saudara juga sahabat-sahabatku ikut prihatin. Hingga mereka berusaha mengenalkanku dengan seseorang untuk jadi pendamping hidupku. Setelah melalui proses perkenalan, aku menikah ke 2 kalinya dengan laki-laki yang usianya 14 tahun lebih tua dariku. Mulanya kuharap pernikahanku akan semanis pernikahanku pertama. Tapi ternyata jauh panggang dari api.

Aku dan bahkan sahabat yang menjodohkanku dengannya tidak pernah menyangka kalau suamiku punya kebiasaan bercinta dengan perempuan lain, sampai akhirnya aku memergokinya bercinta dengan seseorang di sebuah hotel. Belum lagi suamiku ke 2 ternyata di balik kelembutan dan kata-kata manisnya berlaku sangat kasar padaku, aku kerap dipukulnya, hanya karena masalah sepele, seperti meletakkan handphone tidak pada tempatnya. Terakhir puncak kesabaranku habis, ketika dia menendangku dan aku terjerembab di kaki tempat tidur, meyebabkan aku pendarahan hebat, padahal saat itu sedang hamil 2 bulan, aku nyaris keguguran. Karena peristiwa itu, aku menggugat cerai, tapi dia semakin marah dan kalap. kuputuskan sementara meninggalkan Solo dan tinggal dengan ibu mertua dari almarhum suamiku pertama yang mengasihiku seperti anak kandungnya. Beliau tinggal di salah satu kecamatan di kabupaten cilacap.
Selama dalam masa hijrahku kerumah mertuaku, adikku memproses perceraianku dengan suamiku. Mulanya dia menolak menceraikanku, tapi adik-adiku terus menekannya. Kalau akhirnya dia menceraikanku, dia memberi syarat tidak akan bertanggung jawab secara financial atas janin dalam rahimku. Buatku hal itu bukan sebuah masalah besar, aku masih bisa menafkahi diriku dan janinku. Akhirnya kami resmi bercerai pada 8 februari 2008.
Kembali aku menjalani kehidupan sebagai seorang janda, bedanya kini ada janin dalam rahimku, yang harus kujaga dan kurawat dalam keadaan hatiku yang tidak stabil. Meski aku membenci ayah dari janinku, tapi aku mencintai janinku. Kulalui hari-hari dengan sering mengajak janinku bercakap-cakap, membacakan alqur'an bersamanya, menyanyi untuknya dan banyak hal lain yang membuatku bisa melupakan kesedihan dan luka hatiku.

Bulan demi bulan berlalu. Pada tanggal 7 Mei aku merasakan kontraksi pada rahimku, kutunggu sampai bukaan menjadi purna, tapi sampai sepekan kemudian, bukaan tanda persalinan belum juga bertambah, dokter bulang baru bukaan 2. Karena kondisiku yang lemah setelah 1 pekan berlalu, pada 15 mei 2008 pk 20.00, dokter kandungan memutuskan aku harus menjalani operasi cesar. Dalam kesadaran yang perlahan menurun karena pengaruh anestesi, aku mendengar tangis anaku, laki-laki, sangat keras. Mataku basah, hatiku basah, dalam hati kukatakan padanya "selamat datang didunia anakku sayang, ummi mencintaimu." Aku baru meraih kesadaranku pk 23.30, ketika dokter mengatakan ternyata anakku mengalami Hipoglikemi, kadar gula darahnya cuma 5mg/dl dari normal 80mg/dl. Dalam usia 3 jam anakku harus diinfus glucosa.
Kehadiran putraku membuat hidupku lebih bercahaya, lelahku setelah berkutat dengan pasien sirna, saat memandang senyumnya, cahaya matanya, belum lagi kelucuan tingkahnya. Anaku tumbuh menjadi anaklaki-laki yang tidak cengeng, tidak rewel, sangat mudah mengurusnya, inilah sisi kemudahan yang Allah beri buatku sebagai orang tua tunggal untuknya.
Tak terasa usianya 8 bulan sudah. dia mulai duduk, merangkak, dan belajar berjalan dengan baby walker. Celotehnya mulai ramai menghiasi rumah dan kehidupanku. Tawanya membuat hari-hariku merona bahagia. Aku suka menggelitik perutnya dengan ciumanku dan itu membuatnya tertawa-tawa kegelian, berteriak-teriak menggemaskan. Apapun bersamanya, semua terasa indah. (hari ini kututup tulisan sampai di sini karena aku harus berhenti menulis, perutku lapar )

Kebersamaan yang indah dengan putraku tercinta ternyata hanya berlangsung sekejap. Hari-hari manis bersamanya harus pupus. 21 januari 2008, mendadak anakku sakit muntaber pada pukul 16.00. Segala cara medis yang kutahu kuupayakan untuk kesembuhannya. Di bawah pengawasan seorang dokter, di sebuah RS. Pukul 4 dinihari dia mulai panas dan kejang-kejang sampai akhirnya koma di ruang ICU, hatiku perih, melihat keadaan putraku, berbagai selang tertancap ditubuh mungilnya. Mulai selang infus sampai ventilator. Kisaran oksigen ditubuhnya menurun sampai di bawah 50 dari kisaran normal harusnya 90-100. Detak jantungnya begitu cepat, terikan nafasnya memburu berpacu dengan waktu, kulit mulus tubuhnya jadi merah membiru pertanda hipoxy, kekurangan oksigen.
Aku tergugu di sampingnya, menangis. Tapi segera kusadar, anakku tidak butuh tangisku, dia lebih butuh semangat dariku. Perlahan kubisikan di telinganya, "Sayang, ummi tau kamu anak ummi yang kuat, ayo dek, kita sama-sama berjuang agar adek sembuh, kita bantu para perawat dan dokter dengan do'a kita ya nak, adek berdoa dengan cara adek, ummi juga berdo'a, semangat ya sayang...ayoo nak semangat....ayo cinta, ayo tarik nafas panjang biar oksigenmu sampai 100, ummi tau anak ummi ini pinter, kuat dan hebat"
"Ayo sayang kita melantun dzikir, Allahumasyfii nak...adek ingat, adek pernah berjuang waktu adek baru lahir, adek bisa dengan izin Allah meraih kondisi terbaik untuk glukosamu, ayo sayang...ummi yakin ade pejuang hebat, mujahid ummi yang tangguh, ayo sayang...dalam darahmu ada darah ummi, maka kamu juga harus kuat ya nak...karena ummi juga berusaha jadi ibu yang tangguh buatmu..ayo sayang terus..terus..terus hirup oksugen sebanyak-banyaknya nak biar adek sehat bisa bercanda lagi sama ummi."
Menit demi menit berlalu, aku tak meninggalkkannya sedetikpun kecuali untuk sholat dan sekedar mengisi perutku dengan makanan karena aku butuh tenaga dan fisik yang sehat buat menjaga putraku. Pun makan kulakukan di sisinya.

Dengan sepenuh cintaku padanya aku berharap dalam do'aku agar Allah memberikan yang terbaik untuk kami. Aku masih terus membisikkan semangat cinta, dzikir cinta, kata-kata cinta untuknya, ketika perlahan dan perlahan oksigennya mencapai angka 90-100. Perawat bilang ini keajaiban. Dan Subhanallaha...pukul 21.00, 22 Januari 2208, anakku sadar, dia menolehkan kepalanya dan tersenyum padaku..."alhamdulillah anak ummi sudah bangun, jazakallah ya nak, adek sudah berjuang untuk bisa senyum lagi untuk ummi."
Kucium dan kubelai sayang putraku, dia tersenyum kian lebar dan berkata lirih, "mi...."
"Ya sayang, ummi di sini, adek istirahat ya nak, bobo lagi kalo ade ngantuk, ummi di sini menjagamu sayang...."
Kulantun dzikir dan doa sambil membelainya dengan cinta, dia tertidur sambil tersenyum. Tanpa kusadari, karena lelah, aku pun tertidur sambil duduk disisinya dan kepalaku rebah di sisi wajahnya.
Tiba-tiba kurasakan jilbabku ditarik-tarik, aku terbangun, ternyata anakku menarik-narik jilbabku dan tersenyum.
"Apa sayang? Maaf ummi tertidur, adek mau ngobrol lagi sama ummi?"
Anakku tersenyum manis, sangat manis...tapi tiba-tiba dia kejang...aku panik, dilayar monitor kubaca oksigennya drop..ya Allah...apa yang terjadi...? Baru saja dia sadar dan sekarang kembali kejang, aku panik dan berteriak...' susteeeerrrrrrr...tooloong...!!!."
Dalam sekejap perawat dan dokter berlarian menghampiri anakku. Mereka mengupayakan agar oksigennya kembali normal. Darahnya diambil lagi...ya Allah, air mataku menderas sambil terus berucap, "sayang..ayo nak..berjuang lagi, ayo dek, kamu pasti bisa, sayang...ummi mencintaimu nak, jangan menyerah nak..ayo sayang terus berjuang..."
Doa dan dzikir tak putus dari bibir dan hatiku. detik demi detik berlalu dalam kecemasan, sementara dokter dan para perawat terus berusaha menolong anakku.
Saat kularut dalam dzikir dan menyemangati anakku, dokter berkata, "bu, sudah ya diikhlaskan, putranya sudah pergi dengan tenang."
Mataku terbelalak menatap anakku, serasa tak percaya pada perkataan dokter, kucoba meyakinkan diriku... ya Allah akhirnya Kau ambil juga dia dariku. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun...
Tubuhku lemas, lunglai, aku semaput di pelukan adikku yang datang menemani saat anakku kritis menjelang ajalnya 30 menit yang lalu. Kulihat waktu menunjukkan pk 21.30, 22 Januari 2008.

Dalam beberapa saat aku menangis, dia satu-satunya anakku akhirnya harus pergi juga. Aku coba meraih kekuatan dengan memeluk jasadnya. Aku mencoba menguatkan diri dengan menciumi tubuhnya dan subhanallah...kucium harum tubuhnya, sangat harum sekali...bahkan 3 orang adik yang menemaniku mencium harum yang sama, harum khas yang hanya bisa ditimbulkan karena kesyahidan.
Perlahan tapi cukup bisa didengar beberapa sahabat yang saat itu langsung datang mendengar anakku meninggal, salah seorang adikku berkata, "Rosuulloh bersabda, "man mata fil bathni fahuwa syahidun, dan orang yang meninggal karena sakit perut dia syahid" dan aku bersaksi saat ini aku mencium harum tubuh syahidnya keponakanku karena diare yang dideritanya."
Dalam kesedihan aku mengaminkan ucapannya. Diare memang pemicu yang menyebabkan glucosanya drop sampai 13mg/dl dan oksigennya turun drastis. Kekuatanku kembali, meski masih menangis aku sanggup menggendong jasad anakku sampai pulang ke rumah bahkan ketika keesokan paginya aku sanggup memangku jasad anakku ketika dimandikan.
Setelah pemakaman lewat 2 hari, rumahku kembali sepi, sanak saudaraku kembali ke rumah mereka masing-masing. Aku larut dalam dukaku tiap kali memandang foto anakku, aku menangis dan menangis, sampai adikku berinisiatif menyimpan sementara semua foto, mainan, benda-benda dan pakaian anakku di rumah salah seorang saudaraku.
Aku mencoba mengatasi duka dengan menenggelamkan diri di perpustakaan pribadiku. Larut dalam buku-buku bacaan. Kucoba mencari hikmah dari kematian anakku. Lembar demi lembar halaman, buku demi buku kubaca hingga sering aku tertidur bertumpukan buku-buku yang kubaca.
Dua pekan berlalu, aku terus mencari dan mencari hikmah agar dapat melebur dukaku menjadi selarik bahagia, untuk menepis tangisku agas menjelma seulas senyum di bibir dan hatiku. Saat mataku teramat sangat lelah akibat kupaksakan mengakomodasi bacaan, saat letih mendera tubuh setelah berhari-hari berkutat dengan buku-buku kutemui sebaris kata yang.....pllllaaassshhhhh.....memecah dukaku, menepis tangis menjadi syukur. kalimat itu adalah "Sesungguhnya bila seorang ibu mendapatkan kematian putranya, lalu ia mengucapkan hamdalah dan istirja, maka Allah akan membangunkan Baitul-Hamd baginyadi surga" (HR: Tirmidzi dan Ahmad)
Subhanallah...masya allah...betapa Allah sayang padaku. Aku belum lagi berbuat kebaikan yang banyak, tapi Allah menganugrahkan padaku janji yang pasti, SURGA...siapa yang tak hendak menuju dan mendiaminya?
Aku bangkit dari dukaku, kuhapus airmataku dan kutekadkan buat menghadapi hari-hari ke depan yang kutahu masih teramat panjang. Allah telah mengambil putraku, tapi digantikan dengan surga untukku. Ya Rahman...betapa maha kasih Engkau...telah Kau siapkan surga untukku, dan telah Kau siapkan putraku untuk menjemputku di pintu surgamu...maka adalah tugasku membuka pintu surgaMu dengan perbuatan baik yang akan memberiku kemudahan-kemudahan untuk menujunya.
Aku mulai menata hari-hariku, hidupku, mengoperasionalkan lagi klinik yang kututup selama 2 pekan. Meski kadang masih luruh air mata karena rinduku pada anakku, tapi airmata justru jadi pelecut asa dalam tangis rinduku.

Satu pekan sudah aku berkutat lagi dengan klinik dan aneka pasien yang datang padaku. Lagi dan lagi Allah tak pernah biarkan diriku untuk diam tanpa "membaca." Dikirimkannya padaku pasien-pasien cilik, bayi-bayi dan anak-anak dengan beragam penyakit. Betapa mereka menderita berbilang bulan dan tahun dalam penyakit mereka. Betapa orang tua mereka mengalami masa-masa sulit dan ujian kesabaran menghadapi sakit anak-anak mereka. Betapa mereka belum lagi tahu kesudahan dari penyakit anak-anak mereka...ooo ya Rahim....betapa aku layak bersyukur, anakku tak lama dalam derita sakitnya, betapa aku harus bersyukur tak payah ujianku dalam sakit anakku, betapa aku harus sangat bersyukur dengan kesudahan yang baik dari sakitnya anakku dan betapa..ya Robb... Kau beri imbalan dengan janji surgaMu atas musibah yang kuhadapi.
Belum lagi aku selesai "membaca" ayat-ayat kauniyahNya, seorang ukhti datang padaku dengan tausyiahnya "Kita telah menjual diri kita kepada Allah, dihadapan kita tidak ada pilihan lain kecuali menyerahkan apa yang telah kita jual kepada yang membelinya. Dan ketika pembeli telah menerima apa yang dibelinya maka dia berhak melakukan apa saja atas apa yang dibelinya, bisa dia memelihara ataupun membunuhnya, bisa memakaikan pakaian terindah atau membuatnya telanjang. Layakkah kita marah jika seseorang membeli seekor kambing dari kita lalu dia menyembelih kambing yang dibelinya? Pantaskah kita gundah karenanya? Sesungguhnya Allah telah membeli jiwamu dari dirimu, dan engkau berusaha menyerahkan barang yang sudah dibeli dan menerima harga yang sangat pantas, dan janganlah menyerahkan barang dagangan yang ada aibnya, sedang engkau ingin menerima harga secara utuh, Dia lah yang berkuasa atas dirimu dan bukan dirimu sendiri."

Aku tersungkur dalam sujud dann tangis syukurku. Ketika anakku lahir dalam segala kesulitan yang kualami aku telah meniatkan dan melisankan "Ya Allah, alhamdulillah atas anugrah anak laki-laki dalam hidupku, saksikan ya Robb, aku menjual anakku di jalanMu, jadikan dia anak yang sholeh, tumbuh kembangkanlah dia dengan sehat, jadikan dia mujahid penegak din MU dimuka bumi, syahidkan dia diakhir hidupnya, karena kujual dia padaMU seharga surgaMu"
Aku kian disadarkan bahwa Allah tak pernah salah dalam setiap kehendaknya, Dia telah membeli jiwa anakku dengan harga yang kuminta. Fabbi ayyi a'lla i robbikuma tukadzibaaan...maka nikmat Robb mu yang mana yang bisa kau dustakan? Masya Allah...
Senyum kian rekah di bibirku. Pelangi kian rona di jiwaku. aku menapaki hari-hari hingga saat aku menuliskan semua ini dengan sebuah kesyukuran yang amat sangat. Duka telah mengajarkan padaku banyak hal. Duka telah menjadi sekolah buatku belajar lebih baik dengan guru yang maha baik, maha segalanya...Allah, Ar Rahman, Ar Rahim...Dia lah guru terbaik dalam kehidupanku.
Lihat..bukankah kesedihan itu indah, manakala kita mampu menyingkap lapis demi lapis hikmah yang tersembunyidi dalamnya. Meski demikian kita harus berjuang utnuk mendapatkan keindahan di balik setiap kesedihan. Meski kita harus berjuang untuk mengalahkan pikiran negatif dari cupet dan sempitnya akal dan nafsu kita yang seringkali membujuk kita untuk lunglai, layu, terpuruk dalam kesedihan.
Kesedihan itu indah, karena Allah Maha Indah dalam setiap kehendakNya.

(Rampung kutulis, 24 Februari 2008, pk 11.43, dengan segala persembahan cinta buat Robbku dan anakku Daffa Rifqy Rizqurrahman, "tunggu ummi di pintu jannah ya nak...")

Pacaran..!! Membuang Masa Menuai Dosa

Oleh Ary Nur Azizah

Sepucuk email yang datang dari adik perempuan membuat saya terus menerus tersenyum. Malah bahkan tertawa ketika sampai pada cerita tentang para keponakan. Alhamdulillah. Satu kekhawatiran di hati saya menguap tiba-tiba, saat membaca bait demi bait kisahnya. Bahwa ia demikian bahagia bersama keluarga kecil yang mereka bina sejak empat tahun lalu itu. Bahwa ia mendapatkan suami yang sangat mengerti dirinya. Subhannallah, Allahu Akbar!

Lantas, siapa bilang untuk mendapatkan kebahagiaan dalam pernikahan seperti yang kini ia raih, harus melewati tahap berpacaran terlebih dulu? Siapa yang begitu yakin, bahwa memilih pasangan hidup harus melalui waktu panjang untuk saling menjajagi ?

Jika kita termasuk didalamnya, saya pikir, inilah saatnya bagi kita untuk mulai mengubah paradigma tersebut. Karena ternyata itu semua tidaklah benar! Tak perlu membuang waktu percuma hanya demi mengukir dosa sepanjang hari bersama seseorang yang jelas-jelas bukan muhrim kita. Jika sudah siap lahir batin, lebih baik, bersegera menikah! Sebab Allah telah menjanjikan hidup kita menjadi penuh berkah karenanya.

“Di antara tanda-tanda (kebesaran dan kekuasaan) Allah adalah Dia menciptakan dari jenismu pasangan-pasangan agar kamu (masing-masing) memperoleh ketenteraman dari (pasangan)-nya, dan dijadikannya di antara kamu mawaddah dan rahmah.Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir (QS Ar Rum:21)”

Terus terang, kami sekeluarga sempat meragukan kebahagiaannya. Terlebih keluarga besar kami. Mereka bahkan tak ragu untuk menanyakan ulang keseriusan adik tentang rencana pernikahannya yang boleh dibilang dadakan.
Namun ia benar-benar yakin dengan keputusannya untuk mengakhiri masa lajang bersama seorang pria, hasil ‘pencarian’ sang murobbi. Sedangkan kami sungguh khawatir. Ia masih sangat belia kala itu. Bangku kuliah pun baru ditinggalkannya beberapa bulan berselang. Dan kekhawatiran kami semakin menjadi manakala kami tak sedikit pun mengenal calon suaminya.

Maka, pertemuan dengan orang tua pun diatur sedemikian rupa. Hampir setiap Ahad, selama lebih kurang dua bulan, si ikhwan datang untuk berdiskusi dengan Bapak, sebagai upaya saling mengenal lebih dekat. Sedangkan adik saya, tak pernah sekali pun di rumah saat masa diskusi itu berlangsung. Saya semakin heran. Dalam benak saya timbul pertanyaan besar, apakah ia tidak ingin mengenal lebih dekat calon suaminya? Tak maukah ia tahu lebih banyak, dan berbincang lebih akrab dengan seseorang yang akan menjadi teman hidupnya? Jika tidak dimulai sejak masa sebelum menikah, apakah mungkin mereka akan menjadi akrab sesudahnya, setelah pernikahan itu benar-benar terjadi?Wah, pertanyaan di otak saya semakin banyak. Sayang, tak satu pun terjawab olehnya. Adik saya selalu menghindar jika saya utarakan teka-teki di benak saya.

Kami pun akhirnya nurut. Dengan bekal husnudzan dan beribu doa, tanpa menunggu terlalu lama, terselenggarakanlah pernikahan sederhana itu.
Waktu terus berputar. Kehidupan baru yang dijalaninya tidaklah mudah. Beberapa kali cobaan menghampiri mereka. Namun, ternyata sakinah itu tumbuh demikian cepat di antara mereka. Pun iman membaja di dada, membuat mereka mampu menyelesaikan semua persoalan dengan baik. Alhamdulillah. Dan kini, adalah waktu di mana kehidupan mereka berada pada titik yang teramat baik. Perjuangan, keikhlasan dan kesabaran telah dibalas oleh Allah dengan limpahan beribu rahmat. Kemurahan rizki pun mereka dapat. Subhannallah!

Belakangan saya baru tahu, bahwa mereka juga mengalami masa penjajagan, pengenalan, tetapi sesuai dengan syariat agama kita. Tanpa pertemuan intens, tanpa berdua-duaan berteman setan.

Maka, masih adakah yang ragu untuk melangkah ke jenjang pernikahan tanpa melewati masa-masa perzinahan itu? Tidak inginkah kita memasuki sebuah babak suci dalam hidup, tanpa mengotorinya terlebih dahulu? Tidak maukah kita membuang masa menuai dosa, dan berharap yang lebih berkah dari Allah?
Astaghfirullahal adziim…
Wallahua’lam bishshowwab
Antariksa0102@yahoo.com

Gagal lagi ? Cari lagi...!!!

oleh Yudimuslim

Patah satu tumbuh seribu, mungkin ini adalah pepatah yang sudah sangat akrab ditelinga kita. Dan sudah sangat sering kita dengan dalam kehidupan sehari-hari. Tapi sayangnya tidak banyak dari kita yang dapat merealisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Terutama dalam perihal mencari jodoh. Dipostingan saya yang lalu, saya sudah membahas masalah mengejar atau menjemput jodoh. Lantas timbul pertanyaan bagaimana jika gagal?

Banyak diantara kita yang selalu larut dalam kegagalan dan kesedihan yang berkepanjangan. Padahal, diluar sana masih banyak wanita dan pria lain yang mungkin adalah jodoh kita. Mengana kita harus berdiam diri dan menangis tersedu-sedu? Apa karena kita patah hati? Jika benar, itu berarti salah kita sendiri siapa suruh menempatkan cinta ditempat yang salah.

Tidak ada alasan bagi kita untuk berdiam diri apalagi mundur dalam mencari jodoh. Karena waktu dan umur akan terus bertambah bukan berkurang. Pahami hal itu! Jika umur terus bertambah tua dan sudah tidak ”laku” lagi maka ini semua adalah salah kita sendiri. Karena kita hanya duduk dan termenung dalam khayalan serta menangisi kekasih yang bukan jodoh kita.

Kegagalan demi kegagalan itu adalah sebuah proses untuk mencapai kesuksesan. Tidak ada orang yang sukses tanpa kegagalan. Nabi saja pernah gagal dalam dakwah di Mekkah, tapi bukan lantar dengan serta merta harus mundurkan? Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa orang yang sudah mendapatkan jodohnya—bukan pacar—itu tidak mungkin tidak pernah gagal dalam masa pengharapan dan pencariannya.

Tidak ada yang perlu ditangisi! Tidak ada yang perlu dipusingkan dan disesali!
Tapi berusahalah terus tanpa menyerah dan tanpa putus asa.
Tangis dan air mata itu tidak akan mendatangkan jodoh melainkan hanya menghabiskan energi yang ada. Yang seharusnya energi itu kita gunakan untuk ikhtiar dan berdoa, sembari mengoreksi diri sendiri. Siapa tahu kegagalan itu datang dari diri kita sendiri. Mungkin saja karena target yang muluk-muluk tapi tidak sesuai dengan kapasitas dan kualiti yang ada.
Bukankah Allah telah menakdirkan bahwa laki-laki baik-baik adalah untuk wanita baik-baik dan begitupun sebaliknya.

Jangan terlalu banyak berkhayal jika ingin yang terbaik tapi usaha belum memadai. Kenali pontensi diri, belilah cermin yang besar dan bercerminlah. Tidak usah mengeluh saat energi habis, tapi lakukanlah recharge energi secepatnya. Dan mulailah mencari lagi.

Wallahu`alam.
Wassalamu`alaikum wr wb

Let’s Be Wise People

Oleh Setta

Seorang anak lahir setelah 11 tahun pernikahan mereka—pasangan yang saling mencintai itu. Dan anak itu adalah buah hati mereka. Suatu pagi di rumahnya, saat anak tersebut berumur dua tahun, sang ayah melihat sebuah botol obat yang terbuka. Akan tetapi, pagi itu dia sudah terlambat untuk ke kantor. Maka dia meminta isterinya untuk menutupnya dan menyimpannya di lemari. Isterinya—karena kesibukannya di dapur, sama sekali lupa tentang pesan suaminya tersebut.

Anak itu melihat botol obat yang terbuka itu dan dengan riang memainkannya. Karena tertarik dengan warna obat tersebut lalu si anak menelannya semua. Obat tersebut adalah obat yang keras yang bahkan untuk orang dewasa sekalipun hanya dibolehkan dalam dosis kecil saja sekali minum. Sang isteri segera membawa si anak ke rumah sakit. Tapi si anak tidak tertolong. Sang isteri ngeri membayangkan bagaimana dia harus menghadapi suaminya.
Ketika si suami datang ke rumah sakit dan melihat anaknya yang telah meninggal, dia melihat kepada isterinya dan mengucapkan tiga kata.

Ya, sang suami hanya mengatakan, “AKU BERSAMAMU, SAYANG.”
Reaksi sang suami yang sangat tidak disangka-sangka itu adalah sikap yang proaktif. Si anak sudah meninggal, tidak bisa dihidupkan kembali. Tidak ada gunanya mencari-cari kesalahan pada sang isteri—karena jika seandainya isterinya menyempatkan beberapa detik saja untuk menutup dan menyimpan botol tersebut, maka hal ini tidak akan terjadi.
Tetapi hal itu tidak dilakukannya. Dan memang tidak ada yang perlu disalahkan. Si isteri juga kehilangan anak semata wayangnya. Apa yang si isteri butuhkan saat ini adalah penghiburan dari sang suami—dan itulahyangdiberikan suaminya sekarang. [1]
#
Suatu masa, saya pernah mengalami situasi di mana saya berada pada posisi seperti si isteri dalam kisah di atas.
Sore itu, saya baru menyelesaikan UAS hari terakhir setelah tiga minggu berjuang untuk mendapatkan nilai terbaik. Tetapi, saya sudah pesimis tidak akan bisa memenuhi target yang sudah saya canangkan di awal semester enam bulan sebelumnya. Bahkan ujian terakhir hari itu saya tutup dengan sangat mengecewakan. Saya hanya berhasil menjawab dengan yakin dua soal dari jumlah enam soal yang diujikan.

Ba’da maghrib, dengan perasaan bersalah dan menyesal karena merasa telah menyia-nyiakan amanah kuliah di semester itu, saya memberanikan diri mengabari orangtua via sms. Sungguh saya sudah ketakutan lebih dulu. Takut membayangkan reaksi mereka setelah membaca isi sms yang saya kirimkan—tentang kegagalan saya dalam menempuh UAS. Saya takut mereka akan memarahi saya saat itu juga.
Tak menunggu lama setelah dua sms saya terkirim, sebuah balasan dari ayah saya masuk. Dengan jari gemetar, saya memencet keypad untuk membaca sms itu.
“Alhamdulillah selesai tanpa aral. Yang penting, kami—ayah dan bunda—hargai adalah komitmen, keseriusan, dan progres ikhtiarnya. Out put-nya hanya untuk bahan evaluasi yang bersiklus....”

Adalah benar, sms itu masih berlanjut dengan nasihat-nasihat yang sangat menggugah relung hati saya dan sekaligus semakin memojokkan saya pada rasa bersalah yang semakin berlipat. Tetapi, coba bacalah "awalan" dari sms ayah saya di atas sekali lagi.
Beliau tidak memvonis saya bersalah secara langsung dan vulgar. Namun sebaliknya, pertama-tama beliau justru menenangkan hati saya dengan ucapan hamdalah karena saya telah berhasil menyelesaikan UAS tanpa halangan. Disusul kemudian dengan penghargaan atas usaha dan ikhtiar yang sudah saya lakukan—betapapun hasilnya sungguh mengecewakan. Sebelum menutupnya dengan nasihat yang menyejukkan kesedihan saya kala itu.
Ya, kedua orangtua saya tidak menambah beban kesalahan yang sesungguhnya sudah sangat berat saya rasakan saat itu.
Dan sungguh, saya mendapat pelajaran sangat berharga dari mereka, tentang bersikap “bijak” dalam menyikapi suatu permasalahan.
Jika semua orang dapat melihat hidup dengan cara pandang seperti mereka, maka insya Allah akan terdapat jauh lebih sedikit permasalahan di dunia ini.
Wallahu a’lam.

Note: [1] Dikutip dari artikel “Aku Bersamamu, Sayang.” (Anonim)
01 Muharam 1428 H 20 Januari 2007 re-writen 9 Pebruari 2008 01:00 a.m

Ya Alloh, Beri Kami Surga Kecil

Allah, beri kami surga kecil Rumah syhadu berhias rahmah. Di sana tergelar helai-helai sajadah Tempat kami berpinta dan bermunajah
Allah beri kami surga kecil, Istana mungil bertahta sakinah. Tempat kami berteduh melepas lelah Ranjang kokoh bertabur berkah Tempat malam-malam kami dipeluk mimpi indah
Allah, beri kami surga kecil (sebuah sumber)

Ada yang enggan menikah. Bukan ada lagi, bahkan banyak. Salah satu alasan yang paling sering hinggap di telinga adalah kemapanan. Belum punya rumah tinggal. Belum berpenghasilan tetap. Bahkan salah seorang teman kampus menyatakan ia akan menikah setelah mempunyai rumah dan kendaraan beroda empat. Kalau rumah dan mobil belum termiliki, menurutnya kebahagiaan menikah tidak akan ada. Kalau tidak bahagia, buat apa menikah!
Tapi benarkah kebahagiaan menikah melulu terletak pada kemapanan dan ketersediaan materi? Benarkah sakinah terengkuh kalau sudah punya hunian yang nyaman, kendaraan berkelas dan penghasilan yang mencapai nominal tertentu. Bisa jadi demikian tapi sepertinya saya harus menggelengkan kepala. Saya teringat pada seseorang. sahabat karib saya.

Entah di mana ia sekarang. Yang jelas kehidupan ekonominya naik kelas. Lelaki yang menikahinya orang kaya dan mempunyai pekerjaan di tempat yang kata orang 'basah'. Sewaktu dia menikah orang-orang menganggapnya beruntung karena mendapatkan jodoh yang demikian yahud. Suatu ketika Allah memperkenankan kami bertemu. Yupe, ia terlihat lain. Dandanan orang 'berpunya'. Kami mengobrol. Iseng-iseng saya membuka majalah dan menunjukkan kepadanya iklan perumahan. Saya bilang alangkah senangnya punya rumah megah seperti itu. Tapi jawabannya membuat saya terdiam.
"Ah kata siapa punya rumah kaya gitu menyenangkan, siap-siap aza suaminya selalu bergelut dengan pekerjaan, pulang larut pergi dini hari, yang di kepalanya cuma bisnis, waktu baginya adalah uang, mau punya anak aza berhitung minta ampun, kita memang berlimpah harta, tapi di sini sepi," urainya sambil menunjuk dada. Nampak sekali ia gundah. Dan curhatlah ia. Tumpah ruah.
Saya memandangnya lekat. Sama sekali tidak menyangka bahwa menurutnya kebahagiaanya terenggut sejak pertama ia menikahi seseorang yang dipilihkan orang tuanya, beberapa tahun yang lalu. Ia berlimpah kekayaan tapi sungguh ia tidak bahagia.***
Ini kisah lain. Suaminya sekarang mapan. Sofa mahal itu bukan lagi masalah dan ruang tamunya terlihat lain. Lebih indah dan nyaman. Rumahnya baru direnovasi. Lantai keramik, kitchen set lengkap, kamar mandi ber-shower, belum lagi alat-alat rumah tangga serba elektronik yang ikut diganti menjadi baru dan lebih canggih. Hidupnya menjadi lebih mudah. Dan setiap pulang kampung dengan mobil barunya, maka ia pasti dipuji-puji karena tangan yang ia tempelkan ketika salaman tidaklah kosong.
Orang-orang menganggap bahwa kebahagiaan adalah kini miliknya. Tapi tunggu dulu! Justru saat-saat sekarang ia jarang mengembangkan senyuman. Jika dengan seksama memperhatikannya, kekhawatiran itu dominan terlihat. Bahkan ia berubah menjadi seorang ibu yang murung dan pemarah. Kesalahan anak-anaknya yang sepele membuatnya menjadi pemberang.

Rumah 'impiannya' berubah megah. Tapi segalanya juga berubah. Suaminya sedikit demi sedikit menjelma diktator yang menciutkan keberadaanya. Titah suaminya sedikitpun tak boleh dicela. Jika suaminya berkata A maka seisi rumah harus utuh menelannya bulat-bulat. Tak ada lagi suami yang senang bercanda dan meleburkan kepenatan kesehariannya. Entah ke mana sosok suami sabar, penyayang dan suka membantu pekerjaan domestiknya. Suaminya berubah menjadi seorang yang asing. Dan hal ini yang membuatnya dadanya sesak, membuat air matanya luruh diam-diam dan menguras energinya untuk tersenyum. Iya kalau materi menjadi berlimpah, tapi ketentraman bathinnya terkikis habis-habisan. Iya jika uang belanja menjadi berlipat-lipat tapi suaminya menjadi sok kuasa dan sering melecehkannya. Yang memilukan adalah suaminya marah-marah jika diingatkan untuk mendirikan shalat.
Kemapanan telah tergenggam, tapi apakah berbanding lurus dengan kebahagiaan yang berkelindan dalam dadanya? Tidak!

Saya jadi teringat dengan pesan almarhum ayah. Menurutnya harta bukan jaminan untuk mewujudkan keluarga bahagia. "Harta hanya sementara, sedangkan kebahagiaan seharusnya tetap hadir meski tanpanya," itu katanya suatu saat. Ia menambahkan, yang paling penting dan harus selalu ada dalam rumah tangga adalah pilar agama bukan pilar beton megah. Tanpa agama keluarga seperti minyak wangi dalam botol yang tidak ada katupnya. Semerbaknya hanya sementara, wanginya perlahan menghilang terbawa angin. Indahnya hanya di awal-awal saja. Manisnya berada di permulaan. Seiring waktu berjalan, mereka lupa misi pelayaran keluarga. Dan ketenangan itu sirna. Padahal tujuan berkeluarga adalah merengkuh ketenangan. Maka tak heran ada yang tidak betah lagi tinggal di rumah. Rumah megah itu hanya menjadi tempat singgah. Itu alegori ayah yang saya kenang sampai sekarang.

Siapapun orangnya tentu berkeinginan membangun keluarga penuh kebahagiaan. Karena apa? Karena keluarga bahagia adalah surga. Surga kecil yang Allah hadirkan sebelum surga akhirat dengan segala keindahan dan kenikmatan itu kelak. Keluarga bahagia adalah surga, karena di sana mereka betah bernaung dan menjadi tempat yang paling ingin disinggahi.
Surga kecil. Yah, surga yang hadir terlalu awal. Keluarga yang sakinah.
Allah, beri kami surga kecil!
***
Husnul Mubarikah
* Untuk pengirim artikel "Sepiring Berdua", mudah-mudahan Allah menganugerahi kita surga kecil itu.
TV OnLine
This text will be replaced

"Hot News" "Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami perkenankanlah doaku. Ya Tuhan kami berikanlah ampunan kepadaku dan kepada kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)" (QS. Ibrâhîm: 41-42)