Tausiah Teh Nini "Lima Kiat Datangkan Jodoh"

Panduan Shalat 'Iedul Fithri dan 'Iedul Adhha

Sumber: Arsip Artikel - Millist DT

1. Diriwayatkan dari Abu Said, ia berkata : Adalah Nabi saw. pada hari raya 'iedul fitri dan 'iedul adhha keluar ke mushalla (padang untuk shalat), maka pertama yang beliau kerjakan adalah shalat, kemudian setelah selesai beliau berdiri menghadap kepada manusia sedang manusia masih duduk tertib pada shof mereka, lalu beliau memberi nasihat dan wasiat (khutbah) apabila beliau hendak mengutus tentara atau ingin memerintahkan sesuatu yang telah beliau putuskan,beliau perintahkan setelah selesai beliu pergi. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)
2. Telah berkata Jaabir ra: Saya menyaksikan shalat 'ied bersama Nabi saw. beliau memulai shalat sebelum khutbah tanpa adzan dan tanpa iqamah, setelah selesai beliau berdiri bertekan atas Bilal, lalu memerintahkan manusia supaya bertaqwa kepada Allah, mendorong mereka untuk taat, menasihati manusia dan memperingakan mereka, setelah selesai beliau turun mendatangai shaf wanita dan selanjutnya beliau memperingatkan mereka. (H.R : Muslim)
3. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. ia berkata : Umar mendapati pakaian tebal dari sutera yang dijual, lalu beliau mengambilnya dan membawa kepada Rasulullah saw. lalu berkata : Yaa Rasulullah belilah pakaian ini dan berhiaslah dengannya untuk hari raya dan untuk menerima utusan. Maka beliaupun menjawab : Sesungguhnya pakaian ini adalah bagian orang-orang yang tidak punya bagian di akherat (yakni orang kafir). (H.R Bukhary dan Muslim)
4. Diriwayatkan dari Ummu 'Atiyah ra. ia berkata : Rasulullah saw. memerintahkan kami keluar pada 'iedul fitri dan 'iedul adhha semua gadis-gadis, wanita-wanita yang haidh, wanita-wanita yang tinggal dalam kamarnya. Adapun wanita yang sedang haidh mengasingkan diri dari mushalla tempat shalat 'ied, mereka meyaksikan kebaikan dan mendengarkan da'wah kaum muslimin (mendengarkan khutbah). Saya berkata : Yaa Rasulullah bagaimana dengan kami yang tidak mempunyai jilbab? Beliau bersabda : Supaya saudaranya meminjamkan kepadanya dari jilbabnya. (H.R : Jama'ah)
5. Diriwayatkan dariAnas bin Malik ra. ia berkata : Adalah Nabi saw. Tidak berangkat menuju mushalla kecuali beliau memakan beberapa biji kurma, dan beliau memakannya dalam jumlah bilangan ganjil. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)
6. Diriwayatkan dari Buraidah ra. ia berkata : Adalah Nabi saw keluar untuk shalat 'iedul fitri sehingga makan terlebih dahulu dan tidak makan pada shalat 'iedul adhha sehingga beliau kembali dari shalat 'ied. (H.R :Ibnu Majah, At-Tirmidzi dan Ahmad)
7. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. ia berkata : Bahwasanya Nabi saw. Keluar untuk shalat 'iedul fitri dua raka'at, tidak shalat sunah sebelumnya dan tidak pula sesudahnya. (H.R : Bukhary dan Muslim)
8. Diriwayatkan dari Jaabir ra. ia berkata : Adalah Nabi saw apabila keluar untuk shalat 'ied ke mushalla, beliau menyelisihkan jalan yakni waktu berangkat melalui satu jalan dan waktu kembali melalui jalan yang lain (H.R : Bukhary)
9. Diriwayatkan dari Yazid bin Khumair Arrahbiyyi ra. ia berkata : Sesungguhnya Abdullah bin Busri seorang sahabat nabi saw. Keluar bersama manusia untuk shalat 'iedul fitri atau 'iedul adhha, maka beliau mengingkari keterlambatan imam, lalu berkata: Sesungguhnya kami dahulu (pada zaman Nabi saw) pada jam-jam seperti ini sudah selesai mengerjakan shalat 'ied. Pada waktu ia berkata demikian adalah pada shalat dhuha. (H.R : Abu Daud dan Ibnu Majah)
10. Diriwayatkan dari Abi Umair bin Anas, diriwayatkan dari seorang pamannya dari golongan Anshar, ia berkata : Mereka berkata : Karena tertutup awan maka tidak terlihat oleh kami hilal syawal, maka pada pagi harinya kami masih tetap shaum, kemudian datanglah satu kafilah berkendaraan di akhir siang, mereka bersaksi dihadapan Rasulullah saw.bahwa mereka kemarin melihat hilal. Maka Rasulullah saw. memerintahkan semua manusia (ummat Islam) agar berbuka pada hari itu dan keluar menunaikan shalat 'ied pada hari esoknya. (H.R : Lima kecuali At-Tirmidzi)
11. Diriwayatkan dari Azzuhri, ia berkata : Adalah manusia (para sahabat) bertakbir pada hari raya ketika mereka keluar dari rumah-rumah mereka menuju tempat shalat 'ied sampai mereka tiba di mushalla (tempat shalat 'ied) dan terus bertakbir sampai imam datang, apabila imam telah datang, mereka diam dan apabila imam ber takbir maka merekapun ikut bertakbir. (H.R: Ibnu Abi Syaibah)
12. Diriwayatkan bahwa Ibnu Mas'ud ra. bertakbir pada hari-hari tasyriq dengan lafadz sbb (artinya) : Allah maha besar, Allah maha besar, tidak ada Illah melainkan Allah dan Allah maha besar, Allah maha besar dan bagiNya segala puji. (H.R Ibnu Abi Syaibah dengan sanad shahih) 13. Diriwayatkan dari Amru bin Syu'aib, dari ayahnya, dari neneknya, ia berkata : Sesungguhnya Nabi saw. bertakbir pada shalat 'ied dua belas kali takbir. dalam raka'at pertama tujuh kali takbir dan pada raka'at yang kedua lima kali takbir dan tidak shalat sunnah sebelumnya dan juga sesudahnya. (H.R : Amad dan Ibnu Majah)
14. Diriwayatkan dari Samuroh, ia berkata : Adalah Nabi saw. Dalam shalat kedua hari raya beliau membaca : Sabihisma Rabbikal A'la dan hal ataka haditsul ghosiah. (H.R : Ahmad)
15. Diriwayatkan dari Abu Waqid Allaitsi, ia berkata : Umar bin Khaththab telah menanyakan kepadaku tentang apa yang dibaca oleh Nabi saw. Waktu shalat 'ied . Aku menjawab : beliau membaca surat (Iqtarabatissa'ah) dan Qaaf walqur'anul majid. (H.R: Muslim)
16. Diriwayatkan dari Zaid bin Arqom ra. ia berkata : Nabi saw. Mendirikan shalat 'ied, kemudian beliau memberikan ruhkshah / kemudahan dalam menunaikan shalat jum'at, kemudian beliau bersabda : Barang siapa yang mau shalat jum'ah, maka kerjakanlah. (H.R : Imam yang lima kecuali At-Tirmidzi)
17. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Nabi saw. Bersabda pada hari kamu ini, telah berkumpul dua hari raya (hari jum'ah dan hari raya), maka barang siapa yang suka shalat jum'ah, maka shalatnya diberi pahala sedang kami akan melaksanakan shalat jum'ah. (H.R : Abu Daud)

KESIMPULAN :
Hadits-hadits tersebut memberi pelajaran kepada kita tentang adab-adab shalat hari raya sbb : - Pakaian. Pada saat mendirikan shalat kedua hari raya disunnahkan memakai pakaian yang paling bagus. (dalil : 3)
- Makan. Sebelum berangkat shalat hari raya fitri disunnahkan makan terlebih dahulu, jika terdapat beberapa butir kurma , jika tidak ada maka makanan apa saja. Sebaliknya pada hari raya 'iedul adhha, disunnahkan tidak makan terlebih dahulu sampai selesai shalat 'iedul adhha. (dalil: 5 dan 6)
- Mendengungkan takbira. Pada hari raya 'iedul fitri, takbir didengungkan sejak keluar dari rumah menuju ke tempat shalat dan sesampainya di tempat shalat terus dilanjutkan takbir didengungkan sampai shalat dimulai. (dalil : 11)
b. Pada hari raya 'iedul adhha, takbir boleh didengungkan sejak Shubuh hari Arafah (9 Dzul Hijjah) hingga akhir hari tasyriq (13 Dzul Hijjah). (dalil : 12)
- Jalan yang dilalui. Disunnahkan membedakan jalan yang dilalui waktu berangkat shalat hari raya dengan jalan yang dilalui di waktu pulang dari shalat 'ied (yakni waktu berangkat melalui satu jalan, sedang waktu pulang melalui jalan yang lain). (dalil : 8)
- Bila terlambat mengetahui tibanya hari rayaApabila datangnya berita tibanya hari raya sudah tengah hari atau petang hari, maka hari itu diwajibkan berbuka sedang pelaksanaan shalat hari raya dilakukan pada hari esoknya. dalil : 10)
- Yang menghadiri shalat 'ied. Shalat 'ied disunnahkan untuk dihadiri oleh orang dewasa baik laki-laki maupun wanita, baik wanita yang suci dari haidh maupun wanita yang sedang haidh dan juga kanak-kanak baik laki-laki maupun wanita. Wanita yang sedang haidh tidak ikut shalat, tetapi hadir untuk mendengarkan khutbah 'ied. (dalil: 4)
- Tempat shalat 'ied. Shalat 'ied lebih afdhal (utama) diadakan di mushalla yaitu suatu padang yang di sediakan untuk shalat 'ied, kecuali ada uzur hujan maka shalat diadakan di masjid. Mengadakan shalat 'ied di masjid padahal tidak ada hujan sementara lapangan (padang) tersedia, maka ini kurang afdhal karena menyelisihi amalan Rasulullah saw. yang selalu mengadakan shalat 'ied di mushalla (padang tempat shalat), kecuali sekali dua kali beliau mengadakan di masjid karena hujan. (dalil: 1 dan 8)
- Cara shalat 'ieda. Shalat 'ied dua raka'at, tanpa adzan dan iqamah dan tanpa shalat sunnah sebelumnya dan sesudahnya. (dalil : 1,2 dan 7)
b. Pada raka'at pertama setelah takbiratul ihram sebelum membaca Al-Fatihah, ditambah 7 kali takbir. Sedang pada raka'at yang kedua sebelum membaca Al-Fatihah dengan takbir lima kali. (dalil 13)
c. Setelah membaca Fatihah pada raka'at pertama di sunnahkan membaca surat (sabihisma Rabbikal a'la / surat ke 87) atau surat iqtarabatissa'ah / surat ke 54). Dan setelah membaca alFatihah pada raka'at yang kedua disunnahkan membaca surat (Hal Ataka Haditsul Ghaasyiyah / surat ke 88) atau membaca surat (Qaaf walqur'anul majid / surat ke 50).(dalil : 15)
d. Setelah selesai shalat , imam berdiri menghadap makmum dan berkhutbah memberi nasihat-nasihat dan wasiat-wasiat, atau perintah-perintah penting.
e. Khutbah hari raya ini boleh diadakan khusus untuk laki-laki kemudian khusus untuk wanita.
f. Khutbah hari raya ini tidak diselingi duduk .(dalil : 1 dan 2)
- Waktu shalat. Shalat 'ied diadakan setelah matahari naik, tetapi sebelum masuk waktu shalat dhuha (dalil : 9). Hari raya jatuh pada hari jum'ah Bila hari raya jatuh pada hari jum'ah, maka shalat jum'ah menjadi sunnah, boleh diadakan dan boleh tidak, tetapi untuk pemuka umat atau imam masjid jami' sebaiknya tetap mengadakan shalat jum'at. (dalil: 16 dan 17)

Panduan Mengeluarkan Zakat Fitrah

Sumber: Arsip Artikel - Millist DT

1. Diriwayatkan dari Ibnu Umar t.ia berkata : Rasulullah telah mewajibkan zakat fithrah dari bulan Ramadhan satu sha' dari kurma, atau satu sha' dari sya'iir. atas seorang hamba, seorang merdeka, laki-laki, wanita, anak kecil dan orang dewasa dari kaum muslilmin. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)
2. Diriwayatkan dari Umar bin Nafi' dari ayahnya dari Ibnu Umar ia berkata ; Rasulullah telah mewajibkan zakat fithrah satu sha' dari kurma atau satu sha' dari sya'iir atas seorang hamba, merdeka, laki-laki, wanita, anak kecil dan orang dewasa dari kaum muslimin dan beliau memerintahkan agar di tunaikan / dikeluarkan sebelum manusia keluar untuk shalat 'ied. (H. R : Al-Bukhary, Abu Daud dan Nasa'i)
3. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. ia berkata : Rasulullah saw telah memfardhukan zakat fithrah untuk membersihkan orang yang shaum dari perbuatan sia-sia dan dari perkataan keji dan untuk memberi makan orang miskin. Barang siapa yang mengeluarkannya sebelum shalat, maka ia berarti zakat yang di terima dan barang siapa yang mengeluarkannya sesudah shalat 'ied, maka itu berarti shadaqah seperti shadaqah biasa (bukan zakat fithrah). (H.R : Abu Daud, Ibnu Majah dan Daaruquthni)
4. Diriwayatkan dari Hisyam bin urwah dari ayahnya dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. bersabda : Tangan di atas (memberi dan menolong) lebih baik daripada tangan di bawah (meminta-minta), mulailah orang yang menjadi tanggunganmu (keluarga dll) dan sebaik-baik shadaqah adalah yang di keluarkan dari kelebihan kekayaan (yang di perlukan oleh keluarga) (H.R : Al-Bukhary dan Ahmad)
5. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. ia berkata : Rasulullah sw. memerintahkan untuk mengeluarkan zakat fithrah unutk anak kecil, orang dewasa, orang merdeka dan hamba sahaya dari orang yang kamu sediakan makanan mereka (tanggunganmu). (H.R : Daaruquthni, hadits hasan)
6. Artinya : Diriwayatkan dari Nafi' t. berkata : Adalah Ibnu Umar menyerahkan (zakat fithrah) kepada mereka yang menerimanya (panitia penerima zakat fithrah / amil) dan mereka (para sahabat) menyerahkan zakat fithrah sehari atau dua hari sebelum 'iedil fitri. (H.R.Al-Bukhary)7. Diriwayatkan dari Nafi' : Bahwa sesungguhnya Abdullah bin Umar menyuruh orang mengeluarkan zakat fithrah kepada petugas yang kepadanya zakat fithrah di kumpulkan (amil) dua hari atau tiga hari sebelum hari raya fitri. (H.R: Malik)

KESIMPULAN
Hadits-hadits tersebut di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa :
1 Wajib bagi tiap kaum muslimin untuk mengeluarkan zakat fithrah untuk dirinya , keluarganya dan orang lain yang menjadi tanggungannya baik orang dewasa, anak kecil, laki-laki maupun wanita. (dalil : 1,2 dan 5)
2. Yang wajib mengeluarkan zakat fithrah adalah yang mempunyai kelebihan dari keperluan untuk dirinya dan keluarganya. (dalil : 4)
3. Sasaran zakat fithrah adalah dibagikan kepada kaum miskin dari kalangan kaum muslimin. (dalil : 3)
4. Zakat fithrah dikeluarkan dari makanan pokok (di negeri kita adalah beras) sebanyak lebih kurang 3,1 liter untuk seorang. (dalil : 1 dan 2)
5. Cara menyerahkan zakat fithrah adalah sebagai berikut :
a. Bila diserahkan langsung kepada yang berhak (fakir miskin muslim) waktu penyerahannya adalah sebelum shalat 'ied yakni malam hari raya atau setelah shalat Shubuh sebelum shalat 'iedul fitri. (dalil : 2 dan 3)
b. Bila diserahkan kepada amil zakat fithrah (orang yang bertugas mengumpulkan zakat fithrah), boleh diserahkan tiga,dua atau satu hari sebelum hari raya 'iedul fitri. (dalil : 6 dan 7)
6. Zakat fithrah disyari'atkan untuk membersihkan pelaksanaan shaum Ramadhan dari perbuatan sia-sia dan perkataan keji di waktu shaum. (dalil : 3) Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS At-Taubah: 60)
Dari ayat ini kita bisa merinci bahwa mustahiq zakat itu ada 8 kelompok (asnaf). Mereka adalah :
1. Orang-orang fakir
2. Orang-orang miskin
3. Pengurus-pengurus zakat
4. Para mu'allaf (orang yang dibujuk hatinya masuk Islam)
5. Untuk budak6. Orang-orang yang berhutang
7. Untuk jalan Allah
8. Mereka yang sedang dalam perjalanan

Panduan I'tikaf Ramadhan

Diantara rangkaian ibadah-ibadah dalam bulan suci Ramadhan yang dangat dipelihara sekaligus diperintahkan (dianjurkan ) oleh Rasulullah SAW adalah i'tikaf. setiap muslim dianjurkan (disunnatkan) untuk beri'tikaf di masjid, terutama pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. I'tikaf merupakan sarana meditasi dan kontemplasi yang sangat efektif bagi muslim dalam memelihara keislamannya khususnya dalam era globalisasi, materialisasi dan informasi kontemporer.

Definisi I'tikaf

Para ulama mendefinisikan i'tikaf yaitu berdiam atau tinggal di masjid dengan adab-adab tertentu, pada masa tertentu dengan niat ibadah dan taqorrub kepada Allah SWT . Ibnu Hazm berkata: I'tikaf adalah berdiam di masjid dengan niat taqorrub kepada Allah SWT pada waktu tertentu pada siang atau malam hari. ( al Muhalla V/179)

Hukum I'tikaf

Para ulama telah berijma' bahwa i'tikaf khususnya 10 hari terakhir bulan Ramadhan merupakan suatu ibadah yang disyariatkan dan disunnatkan oleh Rasulullah SAW. Rasulullah SAW sendiri senantiasa beri'tikaf pada bulan Ramadhan selama 10 hari. A'isyah, Ibnu Umar dan Anas ra meriwayatkan: "Adalah Rasulullah SAW beri'tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan " HR. Bukhori & Muslim) Hal ini dilakukan oleh beliau hingga wafat, kecuali pada tahun wafatnya beliau beri'tikaf selama 20 hari. Demikian halnya para shahabat dan istri beliau senantiasa melaksanakan ibadah yang amat agung ini. Imam Ahmad berkata: " Sepengetahuan saya tak seorang pun ulama mengatakan i'tikaf bukan sunnat".

Fadhilah ( keutamaan ) I'tikaf

Abu Daud pernah bertanya kepada Imam Ahmad: Tahukan anda hadits yang menunjukkan keutamaan I'tikaf? Ahmad menjawab : tidak kecuali hadits lemah. Namun demikian tidaklah mengurangi nilai ibadah I'tikaf itu sendiri sebagai taqorrub kepada Allah SWT. Dan cukuplah keuatamaanya bahwa Rasulullah SAW, para shahabat, para istri Rasulullah SAW dan para ulama' salafus sholeh senantiasa melakukan ibadah ini.

Macam-macam I'tikaf

I'tikaf yang disyariatkan ada dua macam; satu sunnah, dan dua wajib. I'tikaf sunnah yaitu yang dilakukan secara sukarela semata-mata untuk bertaqorrub kepada Allah SWT seperti i'tikaf 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Dan I'tikaf yang wajib yaitu yang didahului dengan nadzar (janji), seperti : "Kalau Allah SWT menyembuhkan sakitku ini, maka aku akan beri'tikaf.

Waktu I'tikaf

Untuk i'tikaf wajib tergantung pada berapa lama waktu yang dinadzarkan , sedangkan i'tikaf sunnah tidak ada batasan waktu tertentu. Kapan saja pada malam atau siang hari, waktunya bisa lama dan juga bisa singkat. Ya'la bin Umayyah berkata: " Sesungguhnya aku berdiam satu jam di masjid tak lain hanya untuk i'tikaf".
Syarat-syarat I'tikaf
Orang yang i'tikaf harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut :
1. Muslim
2. Berakal
3. Suci dari janabah ( junub), haidh dan nifas.
Oleh karena itu i'tikaf tidak diperbolehkan bagi orang kafir, anak yang belum mumaiyiz (mampu membedakan), orang junub, wanita haidh dan nifas.

Rukun-rukun I'tikaf
1. Niat (QS. Al Bayyinah : 5), (HR: Bukhori & Muslim tentang niat)
2. Berdiam di masjid (QS. Al Baqoroh : 187)
Disini ada dua pendapat ulama tentang masjid tempat i'tikaf . Sebagian ulama membolehkan i'tikaf disetiap masjid yang dipakai shalat berjama'ah lima waktu. Hal itu dalam rangka menghindari seringnya keluar masjid dan untuk menjaga pelaksanaan shalat jama'ah setiap waktu. Ulama lain mensyaratkan agar i'tikaf itu dilaksanakan di masjid yang dipakai buat shalat jum'at, sehingga orang yang i'tikaf tidak perlu meninggalkan tempat i'tikafnya menuju masjid lain untuk shalat jum'at. Pendapat ini dikuatkan oleh para ulama Syafi'iyah bahwa yang afdhol yaitu i'tikaf di masjid jami', karena Rasulullah SAW i'tikaf di masjid jami'. Lebih afdhol di tiga masjid; masjid al-Haram, masjij Nabawi, dan masjid Aqsho.

Awal dan akhir I'tikaf

Khusus i'tikaf Ramadhan waktunya dimulai sebelum terbenam matahari malam ke 21. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : " Barangsiapa yang ingin i'tikaf dengan ku, hendaklah ia beri'tikaf pada 10 hari terakhir Ramadhan (HR. Bukhori). 10 (sepuluh) disini adalah jumlah malam, sedangkan malam pertama dari sepuluh itu adalah malam ke 21 atau 20. Adapun waktu keluarnya atau berakhirnya, kalau i'tikaf dilakukan 10 malam terakhir, yaitu setelah terbenam matahari, hari terakhir bulan Ramadhan. Akan tetapi beberapa kalangan ulama mengatakan yang lebih mustahab (disenangi) adalah menuggu sampai shalat ied.

Hal-hal yang disunnahkan waktu i'tikaf
Disunnahkan agar orang yang i'tikaf memperbanyak ibadah dan taqorrub kepada Allah SWT , seperti shalat, membaca al-Qur'an, tasbih, tahmid, tahlil, takbir, istighfar, shalawat kepada Nabi SAW, do'a dan sebagainya. Termasuk juga didalamnya pengajian, ceramah, ta'lim, diskusi ilmiah, tela'ah buku tafsir, hadits, siroh dan sebagainya. Namun demikian yang menjadi prioritas utama adalah ibadah-ibadah mahdhah. Bahkan sebagian ulama meninggalkan segala aktifitas ilmiah lainnya dan berkonsentrasi penuh pada ibadah-ibadah mahdhah.

Hal-hal yang diperbolehkan bagi mu'takif (orang yang beri'tikaf)
1. Keluar dari tempat i'tikaf untuk mengantar istri, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW terhadap istrinya Shofiyah ra. (HR. Riwayat Bukhori Muslim)
2. Menyisir atau mencukur rambut, memotong kuku, membersihkan tubuh dari kotoran dan bau badan.
3. Keluar dari tempat keperluan yang harus dipenuhi, seperti membuang air besar dan kecil, makan, minum (jika tidak ada yang mengantarkannya), dan segala sesuatu yang tidak mungkin dilakukan di masjid. Tetapi ia harus segera kembali setelah menyelesaikan keperluanya .
4. Makan, minum, dan tidur di masjid dengan senantiasa menjaga kesucian dan kebersihan masjid.
Hal-hal yang membatalkan I'tikaf
1. Meninggalkan masjid dengan sengaja tanpa keperluan, meski sebentar, karena meninggalkan salah satu rukun i'tikaf yaitu berdiam di masjid.
2. Murtad ( keluar dari agama Islam )
3. Hilangnya akal, karena gila atau mabuk
4. Haidh & Nifas
5. Berjima' (bersetubuh dengan istri) (QS. 2: 187). Akan tetapi memegang tanpa syahwat, tidak apa-apa sebagaimana yang dilakukan Nabi dengan istri- istrinya.
6. Pergi shalat jum'at ( bagi mereka yang membolehkan i'tikaf di mushalla yang tidak dipakai shalat jum'at)

Wallahu'alam.
Sumber : The Indonesian Muslim Student Association of North America

Tabligh Akbar KH.Abdullah Gymnastiar

Saksikan…

Tabligh Akbar KH. ABDULLAH GYMNASTIAR live di TVOne

Hari : Rabu
Tanggal : 02 September 2009
Waktu : 16.00 s/d 17.30 wib
Tempat : Masjid Al-Mukmin
Jl. Bangun Cipta Raya Kelurahan Pegangsaan Pulo Gadung, Jakarta Timur ( Masuk dari Vespa )

Agenda Kegiatan Ramadhan DT Bandung

Oleh : Humas DT Bandung

Selamat Menunaikan Ibadah Shaum Ramadhan 1430 H

Ramadhan Center Daarut Tauhiid Mengadakan beberapa Kegiatan, diantaranya:

- Program The Miracle of Ramadhan Keg. Pelatihan MQ Dewasa pelaksanaan Tgl. 5-6 Septembe 2009 Sanlat MQ Ramadhan Anak dan Remaja pelaksanaan Tgl.14-16 September 2009.

- Bimbingan Muslimah Ramadhan Bimbingan yang memberikan Motivasi dan pemahaman mengenai Tauhiid yang bersih kepada Muslimah, Kegiatan ini dilaksanakan Tgl. 03-09 September 2009(menginap di asrama).

- Ngabuburit Produktif bersama Muslimah Center Mengisi waktu di bulan Ramadhan ini dengan menambah skill dalam bidang keterampilan tangan. Belajar Keterampilan Dasar( Sulam Benang, Sulam Pita, Payet, Smock, dan Boneka felt) Pelaksanaan setiap Jumat dan Sabtu Tgl. 28,29 Agustus dan 4,5,11,12 September 2009.

- Smart Muslimah Memberikan pemahaman Ilmu dan wawasan Penciptaan kepada Perempuan Pelaksanaan setiap Sabtu Tgl. 29 Agustus; 5,12 September 2009 Pukul 09.00-13.00 Bertempat di Mesjid Daarut Tauhiid.

- Sanlat Ceria (khusus anak TK) - Seminar Seputar Ramadhan Pelaksanaan setiap Ahad tgl. 30 Agustus, 06,13 September 2009.

- Kuliah B`ada Dhuhur Setiap hari selama bulan Ramadhan DKM masjid Daarut Tauhiid mengadakan Kajian dengan materi seputar Spiritual Enlightmen.

- Kajian Jelang Magrib Setiap hari selama bulan Ramadhan DKM masjid Daarut Tauhiid mengadakan Kajian Jelang Magrib dengan materi seputar Manajemen Qolbu.

- Tajil Barokah - Sahur Barokah Di 10 malam terakhir DKM Masjid Daarut Tauhiid, mengadakan Sahur berjamaah.

- Pesantren I`tikaf DKM Mesji Daarut Tauhiid mengadakan Pesantren Itikaf dan Kajian Keislaman Pelaksanaan tgl. 10-19 September 2009 .

- Berbuka Bersama anak yatim dan Duafa Pelaksanaan tgl. 01-09 September 2009.

- Tebar paket Ramadhan untuk Duafa Marilah kita bersama-sama berbagi untuk kaum Duafa dengan memberikan paket Ramadhan Pelaksanaan tgl.01-09 September 2009 Marilah Belajar & Berbagi Bersama Daarut Tauhiid...

Lebih Baik Imitasi, Atau Tidak Sama Sekali

oleh Nurudin,
Sumber : eramuslim.com

Pak Salim ( bukan nama sebenarnya ) tidak bisa mencegah, ketika sang istri perlahan melepaskan anting, satu-satunya perhiasan yang ia kenakan.
“ Jual anting ini Pak, dan langsung belikan gas” sang istri menyerahkan anting seberat 1 gram itu kepada sang suami yang duduk terdiam dibangku kayu tak jauh dari kompor yang tak lagi menyala karena kehabisan gas.“ Apa harus dengan menjual antingmu Bu. Apa nda ada jalan lain, ngutang dulu ke warung Bu Yati kan mungkin bisa” Pak Salim mencoba memberikan jalan keluar.
Bagaimanapun sebagai seorang suami, hatinya tak tega melihat sang istri yang sangat dicintainya harus merelakan satu-satunya perhiasan yang tersisa untuk menutup kebutuhan hidup, paling tidak sampai dua minggu kedepan, saat ia mendapatkan gaji dari pekerjaannya yang hanya sebagai seorang karyawan rendahan di sebuah perusahaan kecil.
Masih terbayang jelas, ketika sebulan yang lalu gelang satu-satunya yang dikenakan sang anak, terpaksa dijual untuk membeli buku-buku sekolah. Juga bulan sebelumnya, kalung sang istri, satu-satunya mas kawin yang masih bisa dipertahankan, dengan sangat terpaksa dijual, karena orang yang mereka hutangi membutuhkan biaya persalinan anaknya yang keempat.

Pak Salim menarik nafas dalam-dalam. Ada rasa sesak memenuhi dadanya. Sudah dua tahun ini kehidupannya memang nyaris tak lepas dari kesulitan keuangan. Gali lobang tutup lubang adalah jurus terakhir yang selalu diandalkan demi kelangsungan hidup keluarganya, juga pendidikan anak satu-satunya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
Namun Pak Salim adalah orang yang tegar. Hidup kekurangan sudah akrab ia jalani sejak ia memutuskan menikah muda, demi menyelamatkan cintanya agar tak terjerumus ke lembah dosa. Sepuluh tahun hidup sebagai pasangan muda, dengan sang istri yang tak lagi bekerja saat anak pertamanya berusia satu tahun, hidup pas-pasan selalu ia jalani dengan sabar dan senantiasa berusaha untuk bersyukur. Jangankan memiliki tabungan, untuk membuat anggaran belanja sang istri agar tidak minus saja rasanya tak pernah bisa, paling tidak untuk lima bulan terakhir. Gaji dari tempat dia bekerja hanya mampu mencukupi kebutuhan keluarga sampai diminggu kedua, selebihnya ia cukupi dengan hasil pinjaman dari saudara ataupun rekan kerja yang selalu iba dan percaya dengannya. Pak Salim memang dikenal oleh sahabat maupun kerabat sebagai orang yang jujur dan amanah, hanya saja cobaan hidupnya selalu berkutat di persoalan keuangan.

“ Bu, aku masih pegang uang kas DKM, mungkin kita bisa dulu pakai sebagian. Bulan depan kalau aku sudah gajian langsung kita ganti. Nanti aku akan bilang ke haji Nurdin, Insya Allah beliau akan mengijinkan. Kita benar-benar terdesak “ Pak Salim mencoba memberikan solusi, meskipun hati kecilnya menolak keras apa yang diucapkan oleh mulutnya sendiri. Kesulitan hidup memang sering menggodanya untuk memakai uang kas DKM yang dipegangnya, namun sejauh ini selalu bisa dia singkirkan jauh-jauh. Kalaupun kali ini keinginan itu terucap dari bibirnya, hati kecilnya sama sekali tak menyetujuinya,dan berharap istrinya akan menolak.
“ Jangan Pak, jangan sekali-kali menggunakan uang yang bukan hak kita. Daripada memakai uang kas musholla, sebenarnya ibu masih bisa ngutang dulu ke warung bu Yati. Tapi kebutuhan kita bukan hanya gas. Semua kebutuhan dapur kita habis, padahal puasa tinggal beberapa hari lagi. Kita tak mungkin selalu ngutang, apalagi yang sudah-sudah kebutuhan di bulan puasa meningkat “ sang istri langsung tak setuju dengan usulan Pak Salim.
Pak Salim terdiam, dalam hatinya dia bersyukur karena sang istri menolak usul yang dia sendiri juga tak menyetujuinya.

“ Sudahlah Pak, segera bawa anting ini ke toko. Pulangnya langsung mampir beli gas, untuk kebutuhan lainnya biar nanti ibu yang belanja diwarung Bu Yati. Lupakan soal uang kas, bagaimanapun kita tak punya hak meskipun kita meminjamnya dan sanggup mengembalikannya bulan depan. Ibu sudah ikhlas menjual anting ini. Lebih baik ibu memakai anting imitasi atau tidak sama sekali, dari pada harus memaksakan diri memakai sesuatu yang bukan hak kita” sang istri kemudian memasukkan anting beserta surat kedalam plastik kecil, dan menyerahkan kepada Pak Salim yang masih terdiam ditempatnya.
Dengan senyum yang tulus, sang istri memberikan isyarat agar Pak Salim segera berangkat, agar tempe goreng yang baru setengah matang itu bisa dijadikan lauk untuk makan siang mereka yang teramat sederhana. Tanpa bisa menolak, akhirnya Pak Salim pun menuruti sang istri. Betapapun sedih dan hancur hatinya, tapi dia bersyukur memiliki istri yang begitu setia dan ikhlas menjalani kehidupan rumah tangga bersamanya yang tak kunjung lepas dari belitan ekonomi. Dia bersyukur, karena kali ini sang istri kembali menyelamatkan dia dan keluarganya. Ia merasa diselamatkan dari menggunakan uang yang bukan menjadi haknya.

Tanpa sepengetahuan sang istri, Pak Salimpun meneteskan air mata. Begitupun sang istri, tanpa sepengetahun Pak Salim, air matanya tak mampu dia tahan lagi. Bagaimanapun dia adalah seorang perempuan, sama seperti yang lain, ingin mempercantik diri dengan perhiasan. Tapi baginya, itu bukanlah hal yang harus ada, jauh lebih penting adalah kelangsungan hidup keluarga. Tak masalah kalaupun tanpa perhiasan, yang ia jaga adalah jangan sampai dia memakan sesuatu yang bukan menjadi haknya.

( Diambil dari kisah nyata seseorang yang dekat dengan saya ).
abisabila@ymail.com http://abisabila.blogspot.com/

Marhaban Ya Ramadhan - Marhaban Ya Sahabat 1430 H

Bismillahirrahmanirr ahim
Assalaamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Mohon Maaf Lahir & Batin
Atas segala kekhilafan & dosa yang telah dilakukan,
atas segala perbuatan yang tidak berkenan

MARHABAN YAA RAMADHAN
Taqqobalahu Minna Waminkum, Taqoballahu Ya Karim

Marhaban Ya Sahabat
Senang dan gembira bisa bersilahturahmi dgn sahabat semua
Alhamdulillah, telah hadir media blog dakwah Majelis Sehati
Ini baru tahap awal masih banyak yang perlu di perbaiki dan di tingkatkan
Mohon saran, masukan, kritik membangun dan doa
agar Dakwah Majelis Sehati lebih baik lagi

SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA RAMADHAN 1430H
SELAMAT DATANG PARA SAHABAT

Semoga Ramadhan ini lebih baik dari Ramadhan kemarin
Smoga dgn silahturahmi ini dapat mempererat ukhuwah kita
Smoga Alloh melimpahkan rahmat, barokah dan karuniaNya kpd para sahabat yg berkunjung
Ya Alloh Ya Rabb, kabulkanlah dan memudahkan sgala hajat para sahabat
Allahumma Amiin.

Jazakumullahi khoiron katsiron.
Wassalaamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
TV OnLine
This text will be replaced

"Hot News" "Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami perkenankanlah doaku. Ya Tuhan kami berikanlah ampunan kepadaku dan kepada kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)" (QS. Ibrâhîm: 41-42)